BRIN Temukan 2 Spesies Baru Katak Tanduk Langka di Sumatera

14 November 2021 15:31 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Megophrys acehensis. Foto: E.N. Smith/Universitas Texas at Arlington
zoom-in-whitePerbesar
Megophrys acehensis. Foto: E.N. Smith/Universitas Texas at Arlington
ADVERTISEMENT
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) umumkan penemuan dua spesies baru katak tanduk di Sumatera, Minggu (14/11). Kedua spesies tersebut bernama Megophrys selatanensis dan Megophrys acehensis, yang didasarkan pada lokasi penemuan mereka.
ADVERTISEMENT
Nama Megophrys selatanensis merujuk pada lokasi penemuannya dari Sumatera Selatan. Begitu pula nama spesies Megophrys acehensis, yang berarti katak tanduk tersebut berasal dari provinsi Aceh. BRIN menyarankan kedua spesies baru katak tanduk tersebut memakai nama katak-tanduk sumatera-selatan dan katak-tanduk aceh untuk sebutan dalam bahasa Indonesia.
Menurut Misbahul Munir, peneliti BRIN sekaligus penulis utama studi ini, katak tanduk sebenarnya tidak memiliki tanduk sungguhan. Katak yang dikelompokkan dalam marga Megophrys ini mendapatkan julukan demikian karena memiliki ujung moncong dan kelopak matanya berbentuk lancip menyerupai tanduk.
“Saat ini, 13 spesies Megophrys diketahui terdapat di Asia Tenggara, antara lain Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Filipina. Kalimantan memegang rekor tertinggi – karena enam spesies diantaranya ditemukan di pulau ini,” imbuh Misbahul.
ADVERTISEMENT
Misbahul menambahkan, kedua spesies baru katak tanduk dari Sumatera itu berhasil diidentifikasi melalui evaluasi status taksonomi dengan menggunakan data molekuler dan morfologi.
Holotype atau sampel yang dipakai saat evaluasi taksonomi dari kedua spesies baru tersebut diambil dari koleksi spesimen Museum Zoologicum Bogoriense. Sampel Megophrys selatanensis sendiri pertama kali ditemukan selama ekspedisi lapangan pada 2013, sedangkan Megophrys acehensis pada 2015.
“Saat melakukan survei herpetofauna di seluruh jajaran Pegunungan Bukit Barisan Sumatera kami menemukan populasi Megophrys Sumatera bagian selatan dengan kulit punggung halus yang secara morfologis mirip dengan M. montana dari Jawa dan populasi yang menyerupai kulit punggung M. parallela bagian utara. Kami menetapkan status taksonomi dari dua populasi baru ini dan perkiraan hubungan filogenetiknya,” jelas Misbahul.
Megophrys selatanensis. Foto: E.N. Smith/Universitas Texas at Arlington
Penemuan selatanensis dan acehensis menandai keberhasilan BRIN dalam menemukan spesies baru katak tanduk selama tiga tahun berturut-turut. Sebelumnya, tim peneliti BRIN juga berhasil menemukan spesies baru katak-tanduk lancip (Megophrys lancip) dari Sumatera pada 2018 dan katak-tanduk Kalimantan (Megophrys kalimantanensis) pada 2019.
ADVERTISEMENT
Kendati berhasil menemukan lebih banyak keanekaragaman hayati di Indonesia, peneliti BRIN mewanti-wanti bahwa marga katak tanduk mungkin merupakan hewan langka.
Berdasarkan hasil penelitian ini, setiap spesies Megophrys di Sumatera kemungkinan memiliki distribusi terbatas. Dari lima jenis yang terdapat di Sumatera, empat diantaranya merupakan jenis endemik. Selain endemik, marga Megophrys ditemukan di hutan dataran tinggi dan rendah. Perubahan habitat dari hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan sawit merupakan ancaman terbesar terhadap kelestarian jenis ini.
Temuan spesies baru katak tanduk di Sumatera merupakan studi kolaboratif antara BRIN dengan peneliri Universitas Kyoto dan Universitas Texas at Arlington.