Kumparan Logo

Bukan Pohon, Ini Makhluk yang Bisa Serap Banyak Karbon untuk Atasi Krisis Iklim

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyelam penjaga pantai Italia berusaha membebaskan paus sperma yang terlilit jaring di Kepulauan Aeoliania Sisilia, Italia. Foto: Penjaga pantai Italia / via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Penyelam penjaga pantai Italia berusaha membebaskan paus sperma yang terlilit jaring di Kepulauan Aeoliania Sisilia, Italia. Foto: Penjaga pantai Italia / via REUTERS

Pohon adalah makhluk penting untuk mengatasi krisis iklim karena kemampuannya mengisap karbon, tapi tahukah kamu bahwa ada makhluk lain yang mampu mengisap karbon jauh lebih banyak ketimbang pohon? Dia adalah mamalia raksasa yang hidup di laut, yakni paus.

Paus, terutama paus balin dan paus sperma adalah salah satu makhluk terbesar di Bumi. Tubuh mereka menyimpan karbon yang sangat banyak, dan kehadirannya di lautan membentuk ekosistem di sekitar mereka. Di kedalaman lautan, makhluk ini juga membantu menentukan suhu Bumi yang berimplikasi dalam mengatasi perubahan iklim.

Jika paus membantu menyerap karbon di udara dan menyimpannya di dalam tubuh, manusia justru “membantu” menambah dan membiarkan karbon menumpuk lebih banyak. Caranya dengan menghancurkan ekosistem darat: menebang dan membakar pohon atau tumbuhan. Sementara di lautan terbuka, siklus karbon lebih terbebas dari pengaruh manusia secara langsung. Hal ini pernah diungkap dalam studi yang terbit di jurnal PLOS ONE pada 2010.

“Paus tidak hanya berharga saat mereka mati. Kotoran yang dikeluarkan mamalia ini juga sangat relevan dengan iklim,” tulis para peneliti

Sayangnya, manusia tidak puas dengan hanya menghancurkan ekosistem darat. Mereka mulai merambah kelautan. Selama berabad-abad manusia telah membunuh paus. Tubuh mamalia ini memberikan segalanya buat kita, mulai dari daging, minyak, hingga tulangnya. Rekor perburuan paus komersial paling awal terjadi pada 1000 Masehi. Saat itu, puluhan juta paus telah dibunuh, dan para ahli percaya populasi paus telah menurun antara 66 hingga 90 persen.

Aksi Pawai Youth20ccupy: Voice of The Future menuju depan Kementerian LHK, Jakarta, untuk memprotes krisis iklim, Kamis (21/7/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Bagaimana paus bisa jadi solusi atasi krisis iklim dengan menyerap karbon

Karbon adalah komponen utama dari semua kehidupan yang diketahui di Bumi, sekitar 45–50% dari semua biomassa kering merupakan karbon. Semua makhluk hidup akan mengeluarkan 'karbon' khususnya dalam bentuk senyawa karbon dioksida (CO2).

Paus mencari makan di laut dalam. Mereka sesekali kembali ke permukaan untuk bernapas dan buang air besar. Kotoran mereka yang kaya zat besi menciptakan kondisi pertumbuhan yang sempurna untuk fitoplankton.

Fitoplankton memiliki ukuran sangat kecil, tapi jika digabungkan mereka memiliki pengaruh yang sangat besar di atmosfer, menangkap sekitar 40% dari semua CO2 yang dihasilkan. Jumlah ini empat kali lebih besar ketimbang karbon yang ditangkap oleh tumbuhan di hutan hujan Amazon. Artinya secara tidak langsung kotoran paus telah mengurangi 40% CO2 secara global per tahun.

Ketika paus mati, mereka akan tenggelam ke dasar laut, dan semua karbon yang disimpan di dalam tubuhnya ikut tenggelam dan terperangkap di dasar laut selama berabad-abad atau lebih lama.

“Kita perlu memikirkan perburuan paus sebagai tragedi, karena menghilangkan pompa karbon organik yang sangat besar dari lautan yang punya efek jauh lebih besar pada produktivitas fitoplankton dan kemampuan laut untuk menyerap karbon,” kata Vicki James, manajer di Whale and Dolphin Conservation (WDC).

Bangkai paus di dasar laut ini juga menyediakan habitat unik untuk spesies laut dalam. Studi menunjukkan, satu bangkai paus dapat menyediakan makanan dan habitat hingga 200 spesies selama tahap akhir pembusukan.

Dalam studi 2010, para ilmuwan menemukan bahwa sebelum perburuan paus, populasi mereka bisa menyimpan 190.000 hingga 1,9 juta ton karbon per tahun ke dasar lautan, setara mengambil karbon yang dihasilkan dari 40.000 hingga 410.000 mobil dari jalanan setiap tahunnya. Namun ketika bangkai mereka diambil ke darat dengan cara dibunuh, karbon di dalam tubuhnya akan dilepaskan ke atmosfer.

Ilustrasi paus bungkuk. Foto: Imagine Earth Photography/Shutterstock

Andrew Pershing, ilmuwan kelautan di University of Maine, memperkirakan selama abad ke-20, perburuan paus telah menambah sekitar 70 juta ton karbon dioksida ke atmosfer, setara dengan karbon yang dihasil 15 juta mobil per tahun.

Ini bararti, memulihkan populasi paus ke jumlah sebelum perburuan paus dimulai bisa menjadi alat penting dalam mengatasi perubahan iklim, menyerap karbon secara langsung maupun tidak langsung dan membantu mengurangi volume CO2 yang dihasilkan dari bahan bakar fosil setiap tahun.

Studi yang dilakukan Dana Moneter Internasional (IMF) soal manfaat mengembalikan populasi paus di laut menyimpulkan bahwa melindungi paus dari perburuan harus menjadi prioritas utama dalam upaya global mengatasi perubahan iklim.

"Karena peran paus tidak tergantikan dalam mitigasi dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim, kelangsungan hidup mereka harus diintegrasikan ke dalam tujuan 190 negara yang pada 2015 menandatangani Perjanjian Paris untuk memerangi risiko iklim," tulis para penulis sebagaimana dikutip BBC.

Jadi, menanam pohon dan menambah lahan hijau tetap menjadi prioritas untuk mengatasi perubahan iklim, tapi penanam pohon ini membutuhkan sumber daya langka, seperti lahan terestrial yang mungkin sudah digunakan untuk pertanian. Sementara memulihkan kembali populasi paus tidak akan mengganggu sumber daya langka, karena mereka sudah memiliki habitat yang luas, yakni di lautan lepas.