Kumparan Logo

Bukan Singa, Ini Hewan Paling Mematikan di Dunia: Bunuh 1 Juta Orang Tiap Tahun

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Beruang Grizzly. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Beruang Grizzly. Foto: Shutterstock

Kalau mendengar kata hewan paling mematikan di dunia! Apa yang langsung terlintas di benakmu? Hiu putih raksasa? Beruang grizzly yang buas, atau Singa?

Nggak salah sih, karena hewan-hewan itu sering jadi sorotan media saat menyerang manusia. Namun faktanya, hewan paling mematikan di dunia bukanlah hiu, beruang, singa, atau satwa buas bertaring tajam. Ukuran mematikan itu justru kecil, bahkan sering tak kita sadari kehadirannya. Jadi, hewan apakah itu? Mari kita bahas lebih lanjut.

Setiap tahun, hiu yang sering digambarkan sebagai predator laut paling menakutkan, rata-rata hanya menyebabkan sekitar 10 kematian manusia di seluruh dunia. Jumlah itu bahkan kalah jauh dari kematian akibat kelapa jatuh dari pohonnya, yang diperkirakan mencapai 150 kasus per tahun.

Beruang? Di Amerika Utara, populasi beruang hitam diperkirakan mencapai 750.000 ekor. Namun lagi-lagi, hanya berapa orang saja yang dilaporkan tewas akibat serangan beruang setiap tahun. Rata-rata cuma satu orang.

Malah sapi yang notabene hewan ternak terlihat jinak itu, justru membunuh sekitar 20–22 orang setiap tahun hanya di Amerika Serikat. Aneh tapi nyata.

Nyamuk Anopheles penyebar malaria. Foto: Jim Gathany/CDC via Wikimedia Commons

Bagaimana dengan hewan berbisa? Laba-laba memang kerap ditakuti, tapi sejak ditemukannya anti-bisa di abad ke-20, kasus kematian akibat gigitan laba-laba sangat jarang.

Namun, tidak demikian dengan ular. Gigitan ular membunuh sekitar 140.000 orang tiap tahun di seluruh dunia, dan WHO mengkategorikannya sebagai penyakit tropis yang terabaikan.

Meski jumlah itu besar, tetap belum bisa menyaingi pembunuh nomor satu dunia, dia adalah nyamuk. Ya kamu nggak salah dengar.

Menurut American Mosquito Control Association, serangga kecil ini bertanggung jawab atas lebih dari 1 juta kematian setiap tahun. Bahkan beberapa lembaga kesehatan mencatat jumlahnya bisa mencapai 2 hingga 3 juta kematian per tahun. Kok bisa?

Jadi begini, nyamuk adalah vektor penyakit berbahaya. Yang paling mematikan adalah malaria, penyakit yang ditularkan melalui nyamuk betina dari genus Anopheles. Saat menggigit manusia, mereka menyuntikkan parasit Plasmodium ke dalam aliran darah. Parasit ini berkembang biak di dalam sel darah merah dan bisa menyebabkan komplikasi serius hingga kematian.

Seorang ibu menjaga anaknya yang terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Foto: Antara/Kornelis Kaha

Malaria paling banyak menyerang penduduk yang tinggal di wilayah tropis dan subtropis. Anak-anak kecil dan ibu hamil menjadi kelompok yang paling rentan. Meskipun banyak intervensi sudah dikembangkan untuk mencegah dan mengobati penyakit ini, nyatanya malaria tetap membebani individu, keluarga, dan negara-negara berkembang.

Bahkan kini, malaria mulai merambah ke wilayah non-endemik. Di AS, kasus impor terus meningkat akibat mobilitas global. Di Prancis Selatan, penyakit ini mulai muncul secara sporadis.

Bukan cuma malaria, nyamuk juga menyebarkan penyakit lain seperti demam berdarah (dengue), virus West Nile, dan infeksi lainnya. Kendati tidak selalu fatal, penyakit-penyakit itu bisa sangat melemahkan dan tidak ada pengobatan khusus untuk beberapa di antaranya.

Secara keseluruhan, setidaknya 1 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit yang dibawa nyamuk. Angka ini berpotensi naik seiring dengan perubahan iklim, yang memperluas jangkauan habitat nyamuk ke daerah-daerah baru.

Berbagai upaya global terus digencarkan untuk mengurangi dampaknya, namun perjuangan melawan pembunuh kecil ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.