Burung Ini Cetak Rekor Terbang Nonstop Sejauh Jakarta - California
·waktu baca 4 menit

Seekor burung bar-tailed godwit atau biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) berhasil memecahkan rekor dengan melakukan penerbangan migrasi nonstop terpanjang yang pernah diukur sejauh 13.560 km dari Alaska, Amerika Serikat (AS), ke Teluk Ansons di Tasmania, Australia, atau setara terbang dari Jakarta, Indonesia, ke California, AS, tanpa henti.
Pengembaraan ini tak hanya menunjukkan kemampuan burung yang cukup mengejutkan, tetapi juga memberi ilmuwan kesempatan menyoroti ancaman terhadap kelangsungan hidup burung penjelajah.
Burung biru laut ekor blorok adalah salah satu dari ratusan spesies burung yang berkembang biak selama musim panas di Alaska, sebelum akhirnya bermigrasi di musim dingin yang mematikan. Beberapa di antaranya pergi ke daerah tropis, sementara yang lain biasanya pergi ke Australia atau Selandia Baru.
Untuk melacak pergerakan burung, para peneliti menempelkan alat tag GPS satelit seberat 5 gram pada bagian kaki godwit. Burung kemudian dipantau menggunakan pelacak satelit oleh para peneliti dari Max Planck Institute yang bekerjasama dengan Massey University di Selandia Baru, China’s Fudan University, Global Flyway Network, dan Pūkorokoro Miranda Naturalists Trust.
Perjalanan pergi-pulang burung biru laut ekor blorok dari Alaska ke Selanda Baru ini telah dipantau selama bertahun-tahun. Tahun 2020, bar-tailed godwit memecahkan rekor melakukan perjalanan sejauh 13.050 km. Sementara awal tahun 2022, rekor penerbangan tanpa henti dicetak oleh burung biru laut ekor blorok muda berusia 4 bulan bernama B6 yang lahir di musim semi Alaska.
Alih-alih ke Selandia Baru, B6 justru berbelok tajam ke kanan di Laut Tasman untuk mendarat di Tasmania, Australia. Penerbangan itu memakan waktu 11 hari nonstop tanpa makan, minum, dan beristirahat.
Ada banyak burung yang melakukan migrasi lebih lama dalam jarak jauh. Tetapi, belum ada burung lain yang diketahui terbang lebih dari 11.000 kilometer dalam waktu 9 hingga 11 hari tanpa berhenti atau makan,"
- Jesse Conklin, peneliti yang menandai godwit B6 awal tahun lalu -
Conklin mengetakan, bar-tailed godwit akan menghabiskan waktu di Selandia Baru dan Australia timur dari September hingga Maret. Mereka kemudian kembali bermigrasi ke wilayah Laut Kuning China dan Semenanjung Korea berjarak 9.000 hingga 10.000 kilometer.
"Setelah mengisi bahan bakar di dataran lumpur Laut Kuning, mereka terbang ke timur ke Alaska, penerbangan nonstop 5.000 hingga 8.000 kilometer, dan berkembang biak di sana," kata Conklin.
Setelah musim kawin, seluruh populasi berkumpul di daratan lumpur di barat daya Alaska, di sana mereka akan makan banyak untuk mempersiapkan migrasi jarak jauh ke Selandia Baru antara September hingga Oktober berjarak 11.000 - 13.000 km. Perjalanan berhari-hari tanpa henti ini bisa membuat bar-tailed godwit kehilangan hampir setengah bobot tubuhnya.
"Mereka memiliki sayap dan bentuk tubuh yang membuatnya luar biasa aerodinamis, dan mereka punya ukuran yang tampaknya kondusif untuk membawa bahan bakar yang cukup sambil mempertahankan hubungan yang baik antara kecepatan udara dan hambatan," kata Conklin.
"Godwit jelas memiliki kemampuan navigasi dan orientasi yang luar biasa yang hanya sedikit kita pahami, dan mereka sangat baik dalam mengubah makanan menjadi bahan bakar dengan cepat," katanya.
Sean Dooley dari Birdlife Australia mengatakan, subspesies dari burung biru laut ekor blorok memiliki jangkauan luas di pesisir timur Australia. Namun, Tasmania bukanlah tempat berkembang biak mereka. Artinya, apa yang dilakukan B6 adalah sesuatu yang jarang terjadi.
Burung biru laut ekor blorok biasanya melakukan perjalanan dalam kawanan besar. Ini dilakukan untuk menghindari pemangsa. Mereka adalah salah satu dari banyak spesies yang kerap mengambil rute panjang.
Namun, pembangunan di daerah godwit berlabuh telah memberi dampak buruk pada spesies burung ini, termasuk kerusakan pantai. Meski populasinya cenderung aman hanya diklasifikasikan sebagai terancam, tapi bagi kerabat dekatnya, menzbieri, yang bermigrasi dari Siberia ke Australia Barat Laut dianggap mengkhawatirkan karena populasinya kini terancam punah.
“Pelacakan satelit telah mengubah pengetahuan kita tentang migrasi burung. Dulu kami mengira mereka berhenti di perjalanan. Namun faktanya, tidak banyak tempat untuk mendarat di Pasifik tengah,” kata Dooley kepada IFLScience.
Dooley mengatakan sampai saat ini belum diketahui bagaimana Godwit bisa mengetahui rute yang mereka gunakan untuk melakukan perjalanan dari Alaska ke Australia.
