Kumparan Logo

Butuh Lebih Banyak Air, China Bangun Mesin Pembuat Hujan

kumparanSAINSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bendera China. (Foto: Stringer/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Bendera China. (Foto: Stringer/Reuters)

China merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami masalah pasokan air bersih. Negara yang memiliki teknologi maju itu berencana untuk mengatasi masalah tersebut dengan menciptakan sebuah mesin pembuat hujan raksasa.

Bagaimana caranya?

Mesin pembuat hujan raksasa yang disebut juga sebagai jaringan penyemaian awan itu akan dibangun oleh China di dataran tinggi Tibet dan bisa menurunkan hujan dengan cara membakar bahan kimia tertentu di daratan.

Rencananya, pembuat hujan ini dapat menurunkan 10 miliar ton hujan kapanpun dibutuhkan.

Pembuat hujan ini didesain dan dikembangkan oleh Aerospace Science and Technology Corporation China, yang dilansir Popular Mechanic. Awalnya, teknologi ini digunakan untuk pertahanan.

Kini, ratusan tungku sudah disiapkan di Tibet. Cara kerjanya, pembuat hujan ini akan membakar bahan kimia tertentu yang kemudian akan melepaskan iodida perak ke udara. Iodida perak ini kemudian akan membuat uap air untuk berkondensasi dan membentuk awan yang akan menghasilkan hujan.

Norden Camp Tibet. (Foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Norden Camp Tibet. (Foto: Shutterstock)

Tibet merupakan sumber air untuk sungai-sungai penting di China, seperti Sungai Kuning, Sungai Yangtze, Sungai Mekong, dan sungai lainnya yang ada di China dan Asia. Satu penyemaian awan dapat menghasilkan awan dan hujan hingga lima kilometer, menurut laporan South China Morning Post.

Teknologi ini diharapakan dapat menurunkan salju dan hujan pada wilayah seluas 1,6 juta kilometer persegi.

Meski terlihat menjanjikan, beberapa ilmuwan mempertanyakan keamanan dari teknologi ini. Hal itu dikarenakan dengan melepaskan iodida perak dapat menyebabkan masalah kesehatan para pekerja di sekitarnya.

Selain itu, menurunkan hujan kapanpun dapat memberikan konsekuensi yang tidak bisa diprediksi di daerah lain.

Walau begitu, para peneliti yang mengerjakan teknologi ini mengaku bakal menyempurnakannya.

“Kadang-kadang salju segera turun ketika tungku dinyalakan. Rasanya seperti melihat sulap," kata seorang peneliti dari China.