Cara Atasi Kecemasan saat Jalani Isolasi Virus Corona

Pemerintah Indonesia mulai mengirim pesawat untuk menjemput 238 WNI yang terisolasi akibat wabah novel coronavirus (2019-nCoV) di Provinsi Hubei, China. Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, mengatakan bahwa seluruh WNI yang akan dievakuasi ada dalam keadaan sehat dan telah didampingi tim penyelamat yang telah datang terlebih dahulu.
Proses evakuasi akan dilakukan di bandara Wuhan, kota yang menjadi titik pertama penyebaran virus, menggunakan pesawat Batik Air Airbus A330 dalam sekali jalan. Pesawat itu telah tiba di Indonesia pada Minggu (2/2).
Nantinya, 238 WNI yang berhasil dievakuasi akan dikarantina atau diobservasi di Natuna dengan terlebih dahulu mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam. Proses observasi akan berlangsung selama 2 pekan.
Dalam proses karantina atau isolasi, ternyata ada beberapa dampak psikologi yang bisa ditimbulkan. Ini dipaparkan oleh Alvieni Angelica, psikolog sekaligus pendiri perusahaan konsultan psikologi Enlightmind.
“Ketika manusia diisolasi, apalagi dalam kondisi yang tidak sehat, lalu dia tahu persis lewat berita bahwa corona itu menjadi wabah dunia, sudah pasti sebagai individu dia merasa takut. Takutnya, ‘Apa ini bisa sebabkan kematian?’ Atau ‘penyakit ini akan bertambah parah atau tidak, ya?’,” terang Alvieni, saat dihubungi kumparanSAINS, Jumat (31/1).
Untuk meredam rasa cemas, takut, dan sedih tersebut, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Hal pertama adalah mencoba menerima semua yang terjadi, menerima semua rasa takut dan sedih dengan tidak mencoba melawannya.
“Terima saja rasanya, maksudnya kaya gini ‘saya tuh sedih diginiin’ atau ‘emang saya tuh takut’, ya terima gak usah dibikin jadi gak takut, tapi terima saja,” ujar Alvieni.
Setelah bisa menerima semuanya, cobalah mengatur napas dengan pernapasan perut. Ketika seseorang bernapas menggunakan pernapasan perut, maka udara yang dihasilkan akan semakin banyak, napas akan semakin panjang dan bisa menenangkan perasaan.
Kedua, jika pasien isolasi masih dimungkinkan untuk menulis, maka menulis bisa menjadi solusi. Sebab, expressive writing merupakan cara lain untuk mencurahkan hati. Terlebih ketika seseorang diisolasi di mana dia tidak diperbolehkan berhubungan dengan orang lain, dan semua interaksi dengan dunia luar harus terputus sementara.
“Intinya ketika kita menuliskan hal yang menjadi pendaman rasa kita, maka kita membantu mengosongkan working memory di otak kita sehingga kita bisa berpikir lebih jernih dan tidak bergulung-gulung dalam emosi. Ini membawa dampak untuk meringankan beban di pikiran kita,” ujarnya.
Terakhir adalah menempelkan kantong es ke bagian belakang leher. Menurut Alvieni, dalam kondisi cemas, takut, dan sedih, akan terjadi perubahan pada kerja organ seseorang. Seperti napas menjadi lebih pendek, jantung berdebar kencang, tangan menjadi dingin atau sebaliknya.
Nah, mengopres bagian belakang leher dengan kantung es adalah cara efektif untuk mereduksi paru-paru, jantung, aliran darah, dan detak jantung yang berdebar kencang.
“Di belakang leher kita ada saraf vagus yang menyambungkan otak emosi ke tubuh. Saraf vagus ini berhubungan dengan paru-paru, jantung, darah mengalir, dan gastro kita. Kamu tempel di bagian belakang leher (kantong es), itu akan buat lebih rileks dan ini cara paling praktis,” papar Alvieni.
Semua ini bisa dilakukan selama pasien dalam kondisi fisik yang memungkinkan. Namun, jika kondisi fisik pasien sudah lemah, maka psikofarmakologi dari psikiater akan lebih membantu.
