Kumparan Logo

Cara Evakuasi Korban Kecelakaan Pesawat Paling Cepat dan Efisien Menurut Sains

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana saat pesawat kargo yang tergelincir dari landasan pacu saat mendarat di di Bandara Internasional Hong Kong, Hong Kong, Senin (20/10/2025). Foto: Tyrone Siu/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Suasana saat pesawat kargo yang tergelincir dari landasan pacu saat mendarat di di Bandara Internasional Hong Kong, Hong Kong, Senin (20/10/2025). Foto: Tyrone Siu/Reuters

Pesawat terbang selama ini dikenal sebagai moda transportasi paling aman di dunia, dan tingkat keamanannya terus meningkat dari waktu ke waktu. Kini, sebuah studi baru mengungkap strategi yang dinilai dapat meningkatkan keselamatan penumpang pesawat saat evakuasi darurat atau terjadi kecelakaan.

Menurut penelitian yang terbit di AIP Advances, salah satu cara paling efektif untuk mempercepat evakuasi pesawat adalah dengan menempatkan penumpang lansia secara strategis di dalam kabin.

Dalam kondisi darurat, otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA), menetapkan standar bahwa seluruh penumpang harus bisa keluar dari pesawat dalam waktu 90 detik.

Namun, standar tersebut dibuat berdasarkan simulasi terkendali dan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Situasi darurat di dunia nyata biasanya jauh lebih kacau, ditambah dengan keberagaman kondisi penumpang di dalam pesawat komersial.

Salah satu faktor penting adalah usia penumpang. Lansia umumnya lebih rentan mengalami keterbatasan mobilitas, ketangkasan, maupun kemampuan kognitif saat menghadapi situasi darurat.

Karena itu, pada Desember 2022, Amerika Serikat memperkenalkan Emergency Vacating of Aircraft Cabin (EVAC) Act, yang mendorong pembaruan aturan evakuasi pesawat agar lebih realistis.

Visualisasi kabin Airbus simulasi yang digunakan dalam penelitian. Foto: AIP Advances/Zhao dkk

Aturan baru tersebut mempertimbangkan berbagai kondisi nyata, seperti jarak antar kursi yang sempit, lorong kabin yang kecil, hingga meningkatnya jumlah penumpang lanjut usia dan penyandang keterbatasan mobilitas. Kebutuhan pembaruan ini dinilai semakin penting karena populasi dunia terus menua. Usia median global diperkirakan meningkat dari 31 tahun menjadi 36 tahun pada 2050.

Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan mensimulasikan berbagai skenario evakuasi akibat kebakaran pada dua mesin pesawat Airbus A320. Situasi seperti ini termasuk salah satu kondisi paling berbahaya dalam dunia penerbangan karena dapat membuat pintu keluar di atas sayap tidak bisa digunakan. Akibatnya, penumpang harus keluar melalui pintu depan dan belakang pesawat.

Menurut peneliti dari University of Calgary, Kanada, Chenyang Luca Zhang, skenario kegagalan dua mesin memang jarang terjadi, tetapi tetap termasuk kondisi darurat kritis yang harus diantisipasi.

Ia mencontohkan insiden terkenal Miracle on the Hudson, ketika pesawat yang diterbangkan Kapten Chesley Sullenberger mengalami kegagalan mesin ganda akibat tabrakan dengan burung.

Peneliti membuat simulasi tiga tata letak kursi Airbus A320 dengan kapasitas hingga 180 penumpang. Mereka kemudian menguji berbagai kombinasi penumpang berdasarkan usia dan jenis kelamin, termasuk penumpang berusia di atas 60 tahun yang dikategorikan sebagai lansia.

Visualisasi tiga skenario distribusi penumpang, yang menunjukkan mereka yang lanjut usia ditandai warna merah dan deretan pintu keluar darurat di atas sayap dengan warna hijau. Foto: AIP Advances/Zhao dkk

Hasilnya, dari 27 skenario yang diuji, waktu evakuasi tercepat adalah 141 detik. Kondisi ini terjadi ketika jumlah lansia hanya sekitar 20 persen dari total penumpang dan mereka ditempatkan secara merata di dekat area pintu keluar.

Sebaliknya, waktu evakuasi paling lama mencapai 218,5 detik, terjadi ketika jumlah penumpang lansia tinggi, bahkan meski mereka duduk dekat pintu keluar. Temuan ini menunjukkan bahwa distribusi posisi duduk penumpang dapat memengaruhi kecepatan evakuasi secara signifikan.

Seiring bertambahnya populasi lansia di dunia, kemungkinan penerbangan dengan lebih banyak penumpang lanjut usia juga akan meningkat.

“Kami berharap temuan ini membantu maskapai mengurangi risiko secara proaktif,” ujar Zhang.

Menurutnya, dengan memahami pengaruh distribusi penumpang terhadap proses evakuasi, maskapai mungkin dapat menerapkan pengaturan tempat duduk yang lebih strategis tanpa mengganggu operasional penerbangan.