Kumparan Logo

Cara Selandia Baru Bebas dari Jerat Pandemi Virus Corona

kumparanSAINSverified-green

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana di Selandia Baru kala melakukan Lockdown Foto: Getty Images/Phil Walter
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Selandia Baru kala melakukan Lockdown Foto: Getty Images/Phil Walter

Saat total kasus virus corona SARS-CoV-2 mencapai 7.342.555 di seluruh dunia, Selandia Baru justru mendeklarasikan negaranya bebas corona usai pasien terakhir dinyatakan sembuh pada Senin (8/6). Sampai sehari sebelumnya, Selandia Baru sudah 16 hari tanpa kasus virus corona baru. Penambahan jumlah kasus di Selandia Baru terakhir kali terjadi pada 22 Mei 2020.

"Tidak ada kasus baru COVID-19 dilaporkan di Selandia Baru. Kini sudah 16 hari semenjak kasus baru terakhir dilaporkan," tulis keterangan Kementerian Kesehatan Selandia Baru, dalam siaran pers.

Untuk mencapai titik ini, Selandia Baru menempuh perjalanan panjang. Negara tersebut pertama kali menerapkan lockdown pada 25 Maret. Sistem peringatan dibangun empat tahap. Status yang diberlakukan langsung ke tahap empat, tingkat tertinggi, yang kemudian mewajibkan sebagian besar bisnis untuk berhenti beroperasional, sekolah tutup, dan masyarakat diperintahkan tinggal di rumah.

Memasuki bulan April, status peringatan turun ke level tiga. Bisnis-bisnis makanan diperbolehkan melayani pesanan take-away dan beberapa toko non kebutuhan pokok boleh buka kembali.

embed from external kumparan

Seiring jumlah kasus yang terus menurun, lockdown di Selandia Baru menurun ke level dua pada pertengahan Mei. Perpindahan ke level satu menyusul sangat cepat, di mana pemerintah pada awalnya merencanakan untuk mengambil langkah ini pada 22 Juni, tetapi itu dimajukan setelah tidak ada penambahan kasus baru selama 17 hari berturut-turut.

Di bawah aturan baru, aktivitas perkantoran dan sekolah kembali bergulir. Pernikahan, pemakaman, dan transportasi umum kembali dibuka untuk publik tanpa aturan jaga jarak yang ketat.

Namun, ada aturan yang tetap berlaku dari masa pandemi, yakni ditutupnya pintu-pintu perbatasan negara bagi pelancong asing. Sedangkan warga Selandia Baru yang datang dari luar negeri tetap diwajibkan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

Lockdown dan melarang masuk pelancong dari luar negeri

Suasana di Selandia Baru kala melakukan Lockdown Foto: Getty Images/Bradley White

Selandia Baru menjadi contoh model penanganan pandemi yang baik. Tidak seperti beberapa negara lain, Selandia Baru merespons dengan relatif cepat. Pada 14 Maret, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengumumkan bahwa siapa pun yang memasuki negara itu perlu mengisolasi diri selama dua minggu. Titah itu termasuk salah satu aturan perbatasan terberat di dunia.

Padahal saat itu baru ada konfirmasi enam kasus positif di negaranya. Lalu pada 19 Maret, ketika total kasus menjadi 28, Ardern melarang pelancong asing masuk ke negaranya. Berlanjut pada 23 Maret, Ardern mengumumkan penerapan lockdown di Selandia Baru, saat itu ada 102 kasus yang dikonfirmasi, sementara belum ada pasien yang meninggal dunia.

Selain memberlakukan aturan ketat, Selandia Baru juga memiliki beberapa keuntungan dalam menanggulangi penyebaran virus. Salah satunya keluangan waktu untuk mempersiapkan datangnya gelombang pandemi.

Selandia Baru mengonfirmasi kasus pertama pada 28 Februari, lebih dari sebulan setelah Amerika Serikat mengonfirmasi kasus pertama. Selain itu, negara kepulauan ini relatif terpencil, dan punya sedikit penerbangan transit melalui Selandia Baru. Pengaturan pemerintahannya juga terpusat, artinya tidak memiliki negara-negara bagian seperti AS atau tetangganya, Australia.

Menggencarkan pengujian massal

Seorang petugas keamanan memebrikan masker di luar klinik virus corona di Lower Hutt, Wellington, Selandia Baru. Foto: Marty MELVILLE / AFP

Selandia Baru berhasil meningkatkan kapasitas pengujian massal hingga 8.000 tes per hari. Hingga saat ini, Selandia Baru telah melakukan 126.066 tes, dengan populasi 4.820.103 penduduk. Sebagai perbandingan, Inggris, negara dengan penduduk sekitar 13 kali lebih banyak dari Selandia Baru, baru menyelesaikan 719.910 tes.

Mengandalkan sains

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. Foto: Getty Images

Profesor Michael Baker dari Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Otago, mengatakan keberhasilan Selandia Baru dalam menangani pandemi corona merupakan hasil dari kombinasi antara sains dan kepemimpinan yang baik.

Sepanjang periode lockdown, Ardern muncul bersama Ashley Bloomfield selaku Direktur Jenderal Kesehatan Selandia Baru di konferensi pers reguler. Ardern sering melempar pertanyaan dari media kepadanya.

Bloomfield memang sangat kompeten sebagai garda terdepan penanganan pandemi COVID-19 dari barisan pejabat publik. Ia memiliki spesialisasi di bidang kedokteran kesehatan masyarakat dengan konsentrasi khusus pada pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.

"Di Selandia Baru, telah menjadi penghubung yang bagus antara sains yang bagus, dan kepemimpinan yang cemerlang, dan keduanya bersama-sama menurut saya sangat efektif," kata Baker dikutip CNN.

"Saya benar-benar kecewa bahwa negara-negara yang memiliki jauh lebih banyak, benar-benar sumber daya sains top di dunia, yaitu AS dan Inggris, banyak negara di Eropa, tidak bernasib lebih baik daripada negara-negara seperti Selandia Baru yang memiliki sumber daya terbatas," lanjutnya.

Hingga kini, Selandia Baru telah mencatat 1.504 kasus yang dikonfirmasi dan 22 kematian akibat akibat COVID-19 sejak virus tersebut masuk pada akhir Februari. Sebanyak 1.482 orang berhasil pulih.