Kumparan Logo

CDC Resmi Tambah 6 Gejala Virus Corona COVID-19

kumparanSAINSverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas medis membawa mayat korban virus corona di New York, AS. Foto: AFP/Bryan R Smith
zoom-in-whitePerbesar
Petugas medis membawa mayat korban virus corona di New York, AS. Foto: AFP/Bryan R Smith

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat alias Centers of Disease Control and Prevention (CDC) resmi menambah enam gejala COVID-19, penyakit yang disebabkan virus corona SARS-CoV-2.

Selain gejala umum yang sering dialami pasien seperti demam, batuk dan sesak napas, CDC juga menambahkan beberapa gejala lain, di antaranya menggigil, gemetar berulang kali, sakit otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan kehilangan indera penciuman dan perasa.

Dalam catatan CDC, para pasien biasanya mengalami gejala dalam dua hingga 14 hari setelah terpapar virus corona. Ini artinya, masa inkubasi COVID-19 terjadi dalam rentang waktu 2-14 hari sejak virus masuk ke dalam tubuh manusia.

“Seseorang harus segera mendapatkan perawatan medis ketika mereka mengalami gejala sesak napas, nyeri otot atau nyeri di bagian dada, kebingungan, kelelahan atau lemas, dan muncul rona kebiruan pada bibir dan wajah,” ungkap CDC, seperti dikutip Fox News.

Seorang petugas medis berjalan di luar rumah sakit sementara untuk pasien virus corona di East Meadow Central Park New York, AS. Foto: REUTERS/Brendan Mcdermid

CDC juga mencatat, anak muda khususnya usia produktif rentan mengalami masalah serius bahkan bisa menempatkannya dalam keadaan koma ketika mengalami stroke mendadak akibat virus corona. Sementara untuk usia lanjut, terutama yang memiliki penyakit penyerta seperti jantung, diabetes, dan penyakit paru-paru, mereka rentan mengalami komplikasi.

Menurut ahli bedah saraf Mount Sinai Health System, Dr. Thomas Oxley, stroke mendadak yang sering dialami oleh pasien COVID-19 tak lain akibat adanya gangguan dalam pembuluh darah yang disebabkan virus corona.

"Laporan kami menunjukkan peningkatan tujuh kali lipat dalam kejadian stroke mendadak pada pasien muda selama dua minggu terakhir," kata Oxley kepada CNN. "Sebagian besar dari pasien ini tidak memiliki riwayat medis masa lalu dan berada di rumah dengan gejala ringan atau dalam kasus tanpa gejala COVID-19."

embed from external kumparan

Sebelumnya, menurut Esther Freeman, dokter kulit di Massachusetts General Hospital, pasien COVID-19 juga kerap mengembangkan masalah pada kulit yang tidak biasa. Dalam beberapa kasus, lesi ungu sering tiba-tiba muncul di kaki dan tangan pasien COVID-19. Kendati begitu, hal ini mesti diteliti lebih lanjut, apakah bercak yang muncul di kulit terkait virus corona atau bukan.

“Satu hipotesis adalah hanya ada banyak peradangan yang disebabkan oleh virus," katanya. “Teori lainnya adalah bahwa hal itu mungkin hasil dari pembekuan pembuluh darah.”

embed from external kumparan

Hingga saat ini, berdasarkan data Johns Hopkins University, per Senin (27/4), angka infeksi virus corona di seluruh dunia telah mencapai 3 juta orang. Kasus tertinggi positif corona berada di Amerika Serikat (AS) dengan angka 979.077 jiwa. Angka ini hampir satu per tiga total kasus di dunia.

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

****

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.

collection embed figure