Kumparan Logo

Cemara di Chili Cetak Rekor Pohon Tertua di Dunia, Usianya 5.000 Tahun

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penampakan Great Grandfather, pohon cemara tertua di Bumi yang bakal pecahkan rekor. Foto: Martin Bernetti/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Penampakan Great Grandfather, pohon cemara tertua di Bumi yang bakal pecahkan rekor. Foto: Martin Bernetti/AFP

Di sebuah hutan di Chili selatan, sebuah cemara raksasa telah hidup selama ribuan tahun, dan kini siap memecahkan rekor sebagai pohon tertua di dunia.

Dijuluki “Great Grandfather”, pohon legendaris tersebut memiliki batang berdiameter 4 meter dengan tinggi mencapai 28 meter. Pohon diyakini berisi informasi ilmiah yang bisa menjelaskan bagaimana Bumi beradaptasi dengan perubahan iklim. Peneliti yakin, pohon ini sudah hidup sejak 5.000 tahun lalu.

Dengan usianya sekarang, Great Grandfather bakal menggantikan Methuselah, pinus bristlecone Great Basin berusia 4.800 tahun di California, Amerika Serikat, yang kini menjadi pohon tertua di dunia.

“Ini adalah yang selamat, tidak ada pohon lain yang memiliki kesempatan untuk hidup begitu lama,” kata Antonio Lara, peneliti di Austral University yang merupakan bagian dari tim peneliti usia pohon.

Great Grandfather tumbuh di tepi jurang di sebuah hutan di wilayah selatan Los Rios, 800 kilometer di selatan ibu kota Santiago. Dia adalah Fitzroya cupressoides, sejenis pohon cemara endemik di selatan benua. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak turis yang mengunjungi Great Grandfather, berjalan menyusuri hutan hanya untuk berfoto di sampingnya.

Karena ketenarannya, badan kehutanan nasional harus menambah jumlah penjaga taman dan membatasi akses untuk melindungi “Kakek Tua”. Demi menjaga kelestariannya, pihak kehutanan merahasiakan lokasi tepat pohon cemara raksasa berdiri.

Great Grandfather, pohon cemara teruta di dunia yang ada di Chili. Foto: Martin Bernetti/AFP

Cemara Patagonian sendiri adalah spesies pohon terbesar di Amerika Selatan. Dia biasanya hidup berdampingan dengan spesies pohon lain, seperti coigue, pinus prem, dan tepa, katak darwin, kadal, burung seperti chucao tapaculo serta elang Chili. Selama berabad-abad, batang cemara yang tebal banyak diburu untuk membuat rumah dan kapal. Bahkan selama abad ke-19 hingga ke-20 cemara ini ditebang habis-habisan.

Penemuan Great Grandfather

Adapun Great Grandfather ditemukan saat sipir taman, Anibal Henriquez, berpatroli di hutan pada 1927. Henriquez meninggal 16 tahun kemudian akibat serangan jantung saat menunggang kuda berpatroli di hutan yang sama.

“Dia tidak ingin orang dan turis tahu (di mana pohon berada) karena dia tahu itu sangat berharga,” ujar Nancy Henriquez, putri Henriquez yang merupakan seorang penjaga taman sebagaimana dikutip AFP.

Keponakan Henriquez, Jonathan Barichivich, sekarang menjadi salah satu ilmuwan yang mempelajari spesies cemara Patagonian. Pada 2020, Barichivich dan Lara berhasil mengekstraksi sampel dari “Kakek Tua” menggunakan bor manual, tapi mereka tidak bisa mencapai pusat batang pohon. Dari hasil penelitiannya, mereka memperkirakan pohon itu berusia sekitar 2.400 tahun. Dalam penelitian lanjutan, mereka menemukan fakta baru, bahwa Great Grandfather berusia sekitar 5.000 tahun.

Kini, “Kakek Tua” dianggap sebagai kapsul waktu yang dapat menawarkan jendela ke masa lalu. Jika pohon ini hilang, maka kunci penting tentang bagaimana kehidupan dapat beradaptasi dengan perubahan di planet ini juga akan hilang, kata Barichivich.