Cerita Pasien Sembuh COVID-19 di Indonesia Jalani Perawatan Isolasi

Sita Tyasutami adalah salah satu dari tiga pasien pertama yang diidentifikasi positif COVID-19 di Indonesia. Dua pasien lainnya, yang merupakan ibu dan kakaknya, Maria Darmaningsih dan Ratri Anindyajati, disebut sebagai Pasien 02 dan Pasien 03.
Mereka bertiga adalah pasien yang berhasil sembuh dari penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona SARS-CoV-2. Mereka sudah kembali ke rumah setelah menjalani karantina di rumah sakit rujukan RSPI (Rumah Sakit Penyakit Infeksi) Sulianti Saroso, Jakarta Utara.
Sita dan Ratri berbagi kisahnya menjalani masa karantina tersebut kepada kumparan dalam program Live Update Corona yang disiarkan secara live streaming.
Isolasi membuat Sita tak bisa melakukan aktivitas hariannya sebagai guru tari sekaligus tak bisa melakukan interaksi sosial. Ditambah lagi, perawatan yang ia terima sungguh spesial dari para tenaga medis di rumah sakit.
“Saktu proses pemindahan dari rumah sakit awal ke rumah sakit rujukan, itu saya takut setengah mati. Saya berpikir isolasi itu seram, tadinya sekamar sama ibu, terus harus dipisah. Tenaga medis datang merawat saya dengan pakaian lengkap, saya disambut di rumah sakit rujukan mereka sudah pakai bajunya lengkap (hazmat) kaya gitu,” cerita Sita.
Di awal pemindahannya ke rumah sakit rujukan, Sita mengatakan keadaannya belum membaik. Namun, ia menilai tenaga medis mampu memberikan perawatan yang baik sehingga kondisinya semakin membaik setiap harinya. Ini membuat proses isolasi tidak lagi menakutkan baginya.
Sita memiliki gejala batuk kering, sesak napas dan bronkomonia yang menyebabkan berkumpulnya cairan di paru-paru. Dokter memberikan obat batuk dan nebulizer atau alat penguap cairan di paru-paru untuk membantunya bernapas, sehingga keadaan Sita membaik terus setiap harinya.
Sita juga menjalani swab test dan cek darah secara rutin untuk memastikan keberadaan virus di dalam tubuhnya. Swab test sendiri bertujuan mengambil sampel ludah dan lendir di tenggorokan untuk melihat apakah pasien positif atau negatif COVID-19.
Di sisi lain, Ratri bercerita bahwa ia termasuk salah satu pasien COVID-19 asymptom alias tidak memiliki gejala terinfeksi sama sekali. Kondisinya hampir sama seperti orang sehat. Walau begitu, Ratri menjalani seluruh tes yang sama dengan Sita.
“Gejala seperti flu, gejala sesak napas, itu tergantung daya tahan tubuh. Buat saya yang gejala minim, saya dikasih imune booster tiap hari. Tiap hari ada batuk karena suhu di ruangan naik turun. Batuk dikit dikasih obat cair, obat racikan dari rumah sakit juga,” jelas Ratri.
Ratri juga menjelaskan bahwa selama ia dirawat, para dokter selalu menekankan keduanya untuk beristirahat dan minum banyak air mineral serta mengkonsumsi banyak buah. Mereka juga tidak diberikan pantangan konsumsi makanan karena kondisi fisik yang baik.
Jauhi berita meresahkan dan fokus pada penyembuhan
Hari demi hari mereka jalani di ruang isolasi. Ketiga pasien itu berada di satu lorong rumah sakit yang sama. Selama menjalani masa isolasi dalam waktu hampir 2 pekan, tidak ada hal lain yang mereka rindukan kecuali sinar matahari untuk menghangatkan tubuh mereka.
Di RSPI Suliati Saroso, mereka masih diizinkan untuk memakai smartphone dan mengakses media sosial. Namun, mengetahui pemberitaan di seluruh saluran informasi soal diri mereka, justru memperburuk kondisi kesehatan karena psikis yang terganggu.
Khususnya bagi Sita. Media sosial dipenuhi dengan kegaduhan kasus positif corona pertama di Indonesia dan pembicaraan soal dia dan ibunya. Mereka merasa dihakimi dan tidak memiliki privasi karena identitas mereka yang disebarluaskan di media sosial.
“TV itu nyala terus di ruang isolasi, tapi lama-lama stres karena seminggu soal saya dan ibu saya terus, jadi sangat enggak membantu penyembuhan. Ketika TV dimatiin justru itu lebih membantu,” cerita Sita.
Ratri yang memiliki fisik lebih kuat, menjadi sosok penguat mental ibu dan adiknya. Ia kerap mengajak Sita dan sang ibu untuk bermeditasi bersama-sama agar bisa ‘cuek’ dan positif menerima keadaan yang saat itu mereka jalani.
“Saat itu saya self healing. Saya enggak mau lihat berita, nggak mau lihat yang jelek-jelek soal saya dan keluarga saya dan fokus ke hal yang bikin bahagia. Jadi saya bisa support mereka berdua dan untuk saling hibur. Kita biasanya janjian meditasi bersama. Jam-jam sepi kita janjian untuk meditasi,” cerita Ratri.
Sita juga bercerita bahwa dirinya semakin memperbanyak dzikir dan menambah waktu meditasi hingga dini hari. Ia juga sebisa mungkin menjauhkan diri dari media sosial agar tidak memusingkan komentar dan penilaian buruk netizen soal dirinya.
“Saya stres saat itu melihat TV soal saya dan ibu saya, tapi itu enggak membantu. Saya meditasi, dzikir juga,” cerita Sita. “Saya meditasi sampai jam 2 pagi, padahal itu enggak disarankan sama dokter, tapi karena aku merasa butuh, jadi aku sampai bangun kesiangan.”
Menjalani hobi saat di ruang isolasi
Di awal masa isolasi, menjadi hari-hari terburuk bagi Sita. Ia hanya bisa terkapar di atas kasur karena kondisinya yang lemah dan bronkomonia yang diidap membuatnya tidak bisa mandi selama berhari-hari.
Ditambah lagi, ia sangat mengindari mengkonsumsi media sosial agar tidak melihat pemberitaan soal dirinya. Namun, Ratri terus menyemangati Sita hingga ia kembali bangkit dengan melakukan self-care dengan rajin membersihkan diri dan merias penampilan.
Selain itu, Sita dan Ratri bahkan mengaku mereka masih bisa berolahraga di ruang isolasi hingga menemukan hobi lama mereka masing-masing. Sita akhirnya bernyanyi, sementara Ratri kembali menulis.
“Persiapkan mental untuk pasrah ketika diisolasi. Saya jadi hobi menulis dan Sita jadi menyanyi karena itu hobi lama dia. Cari kegiatan saja,” cerita Ratri.
Ratri dan Sita berpesan kepada masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan, serta menjaga kesehatan, untuk mencegah penularan. Berdiam diri di rumah menjadi salah satu cara yang efektif untuk saat ini demi memutus rantai penularan virus corona.
“Kita harus gotong royong, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, bersama-sama untuk memotong rantai penularannya,” kata Ratri.
Sita juga berpesan untuk tidak menghakimi orang-orang yang terinfeksi COVID-19 atau orang-orang yang saat ini dalam pengawasan. Hal itu dapat berdampak buruk tidak hanya pada kesehatan fisik yang sudah lemah, tapi juga terhadap mental.
