Chile Pernah Diguncang Gempa Hebat 9,5 Magnitudo 3.800 Tahun Lalu

30 April 2022 2:27 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Tsunami. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tsunami. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Fakta gempa berkekuatan super pada masa lampau berhasil diungkap oleh ilmuwan. Kekuatan gempa sebesar 9,5 magnitudo ini pernah terjadi di Chile Utara, sekitar 3.800 tahun lalu.
ADVERTISEMENT
Studi mengungkapkan pula, gempa itu mengakibatkan tsunami besar. Saking besarnya gempa ini sampai bisa membawa batuan berukuran mobil menuju daratan Selandia Baru. Kekuatan guncangannya lebih besar dari gempa bumi Aceh pada tahun 2004 yang berkekuatan 9 magnitudo.
“Kami sekarang menemukan bukti retakan yang panjangnya sekitar seribu kilometer di lepas pantai Gurun Atacama dan itu sangat besar,” ungkap Prof. James Goff, salah seorang ilmuwan dalam penelitian itu.
Gempa yang dipicu oleh adanya pergeseran yang memicu pecahnya lempeng Bumi berukuran sangat besar itu, membuat garis pantai di kawasan utara Chile terangkat sekaligus memicu tsunami dahsyat. Temuan adanya tumpukan sedimen laut serta binatang laut menjadi bukti konkret, di masa lampau kawasan itu pernah diterjang tsunami.
ADVERTISEMENT
“Kami menemukan semua bukti ini di daerah sangat tinggi dan jauh ke daratan, sehingga tidak memungkinkan badai yang meletakkan mereka di sana,” jelas Goff.
Perlu diketahui, Gurun Atacama--yang menjadi lokasi penemuan luar biasa ini--merupakan kawasan kering dan memiliki sangat kecil kemungkinan untuk menemukan adanya bukti tsunami pernah menerjang kawasan itu. Namun, tim peneliti berhasil membantah anggapan itu dengan fakta temuannya.
Ilustrasi Tsunami. Foto: Indra Fauzi/kumparan
Para peneliti juga menemukan adanya sisa reruntuhan bangunan yang berserakan di daerah Gurun Atacama. Beberapa memiliki pola reruntuhan mengarah ke laut, sedangkan lainnya berlawanan dari arah laut. Hal itu menjelaskan adanya arus kuat dari arus tsunami dan arus balik tsunami.
Sebelumnya, Goff berhasil menemukan bongkahan batu berukuran mobil di Pulau Chatham, Selandia Baru. Beberapa di antaranya bahkan ditemukan jauh dari kawasan lepas pantai, masuk ke dalam daratan hingga beberapa ratus meter. Dugaan asal usul batuan tersebut pada awalnya belum bisa ia ungkap.
ADVERTISEMENT
Namun tak disangka, Goff dipertemukan dengan peneliti lain, Prof Diego Salazar dari University of Chile yang sedang melakukan studi tentang kawasan gurun Atacama, Chile Utara.
Temuan Salazar pun akhirnya dapat dikaitkan dengan temuan Goff. Batuan yang ditemukan Goff berasal dari periode yang sama dengan temuan pada studi yang dilakukan Salazar.
“Di Selandia Baru, kami mengatakan, hanya gempa berkekuatan 9,5 magnitudo-lah yang sanggup memindahkan batu-batu besar itu dari Chile Utara. (Bebatuan itu) sekarang sudah kami temukan,” ucap Goff.
Para peneliti percaya bahwa temuan mereka dapat memberikan sinyal akan kemungkinan gempa dan tsunami dahsyat di masa mendatang. Selain itu, penelitian ini dapat menginformasikan seberapa tingkat kerusakan dampak gempa super seperti itu jika terjadi.
ADVERTISEMENT

Pelajaran untuk Indonesia hadapi bencana

Studi ini pun layaknya dapat jadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat di Indonesia terutama di pesisir selatan Jawa. Terlebih sejumlah wilayah selatan Jawa pernah diterjang tsunami besar pada 400 tahun lalu.
Dr Eko Yulianto, Kepala Pusat Penelitian Geoteknoligi LIPI. Foto: Habib Allbi Ferdian/kumparan
Ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, sebelumnya menemukan adanya jejak tsunami di masa lampau di kawasan Sungai Cikembulan, Pangandaran, Jawa Barat. Bukti tersebut berupa cangkang kerang foraminifera yang diduga terbawa oleh tsunami sekitar 400 tahun lalu atau tahun 1.600 masehi.