CIA Tertarik Hidupkan Kembali Gajah Mammoth

3 Oktober 2022 17:55
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi gajah Mammoth. Foto: Mauricio Antón/Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gajah Mammoth. Foto: Mauricio Antón/Wikimedia Commons
ADVERTISEMENT
Central Intelligence Agency (CIA) tampaknya tertarik dengan misi menghidupkan kembali gajah purba mammoth yang dicanangkan oleh perusahaan bioteknologi Colossal Bioscience. Badan intelijen itu terungkap mengalirkan dana ke perusahaan untuk membantu merealisasikan misinya.
ADVERTISEMENT
CIA tidak berinteraksi langsung dengan Colossal Bioscience. Mereka melakukannya lewat In-Q-Tel, perusahaan modal ventura (venture capital/VC) yang berfokus ke teknologi dan keamanan negara.
VC ini ibarat perpanjangan tangan dari CIA. Terakhir In-Q-Tel mengumumkan pendanaan perusahaan bioteknologi Colossal Bioscience, yang beberapa kali mengumumkan visi untuk menghidupkan kembali hewan punah, seperti gajah mammoth dan harimau tasmania.
Berbeda dengan venture capital lain, In-Q-Tel fokus ke perusahaan yang dapat memberikan teknologi terbaru seputar isu keamanan yang kemudian dapat digunakan oleh lembaga intelijen atau keamanan seperti CIA atau FBI. CIA sendiri adalah salah satu pemodal besar In-Q-Tel, perusahaan yang sudah berdiri sejak 1999.
Di portofolio publiknya, In-Q-Tel terlihat telah memasukkan dana ke Colossal Science, perusahaan bioteknologi yang tahun lalu mengumumkan akan membangkitkan hewan punah gajah berbulu alias mammoth. Artinya, ada uang dari CIA yang mengalir untuk menghidupkan spesies punah.
ADVERTISEMENT
Pada September 2021 lalu, Colossal menjadi tajuk berita setelah mengumumkan kerja sama dengan ahli genetik Harvard, untuk menghidupkan kembali spesies mammoth. Colossal berargumen bahwa upaya ini adalah bagian dari upaya mengembalikan ekosistem yang rusak dan memperlambat efek perubahan iklim.
“Selain membawa kembali spesies purba yang punah seperti mammoth berbulu, kami akan dapat memanfaatkan teknologi kami untuk membantu melestarikan spesies yang terancam punah yang berada di ambang kepunahan dan memulihkan hewan di mana manusia memiliki andil dalam kematian mereka," tulis pernyataan resmi Colossal Bioscience.
Kerangka Mamut berusia 15.000 tahun Foto: REUTERS/Emmanuel Foudrot
zoom-in-whitePerbesar
Kerangka Mamut berusia 15.000 tahun Foto: REUTERS/Emmanuel Foudrot
Mammoth punah 4000 tahun yang lalu. Setelah itu, beberapa spesimen terawetkan dengan baik di permafrost memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mendapatkan sampel DNA. Colossal berencana menggunakan gajah Asia—yang punya kemiripan DNA 99,6 persen dengan mammoth—sebagai wadah penampung DNA mammoth yang telah diurutkan.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Pada Agustus 2022, Colossal kembali membuat pengumuman untuk menghidupkan spesies punah yang lain, yakni harimau Tasmania. Hewan bernama latin Thylacinus cynocephalus ini punah pada 1936 silam. Berbeda dengan mammoth, ilmuwan punya DNA lengkap dari harimau Tasmania, sehingga tantangan dari segi genetik tidak sekomples proses menghidupkan mammoth.
Namun tentu saja ada kontra. mammoth misalnya banyak yang menganggap habitat asli mereka sudah tidak ada, sehingga memaksa mereka hidup di saat sekarang dapat berakibat buruk untuk kesehatan hewan. Belum lagi tanggapan bahwa sumber daya mahal untuk menghidupkan hewan yang sudah punah lebih baik digunakan untuk menyelematkan hewan yang akan punah, yang jumlahnya sangat banyak.
Colossal tetap mengatakan bahwa kembalinya hewan purba ini akan mengembalikan ekosistem yang rusak. Dan, upaya menyelematkan hewan yang akan punah dengan menghidupkan yang sudah punah tidak harus berbenturan.
ADVERTISEMENT
Pertanyaannya, untuk apa uang CIA (yang dikelola In-Q-Tel) mengalir ke perusahaan yang ingin menghidupkan gajah berbulu?
Dalam postingan blog, In-Q-Tel menulis bahwa mereka tertarik ke ‘kapabilitas’ ketimbang atraksi kebun binatang. Kemungkinan ini ada kaitan dengan teknologi genetik, termasuk CRISPR yang bisa digunakan mengubah bacaan genetik di untaian DNA.
Mumi bayi mammoth yang berusia 30.000 tahun. Foto: Yukon Goverment
zoom-in-whitePerbesar
Mumi bayi mammoth yang berusia 30.000 tahun. Foto: Yukon Goverment
“Mengapa tertarik pada perusahaan seperti Colossal, yang didirikan dengan misi untuk “menghidupkan” mamut berbulu dan spesies lainnya?” tulis posting blog In-Q-Tel yang diterbitkan pada 22 September.
“Secara strategis, ini bukan tentang mamut dan lebih banyak tentang kemampuan.”
“Bioteknologi dan bioekonomi yang lebih luas sangat penting bagi umat manusia untuk berkembang lebih lanjut. Penting bagi semua aspek pemerintah kita untuk mengembangkannya dan memiliki pemahaman tentang apa yang mungkin,” tulis salah satu pendiri Colossal Ben Lamm dalam email ke The Intercept.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020