Ciri-ciri Remaja Kena Gangguan Kesehatan Mental

Secara garis besar, mental bisa diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan batin dan watak manusia. Mental tidak bisa dilihat secara fisik karena tidak berbentuk, dan itu hanya bisa dirasakan oleh seseorang.
Mental bisa dikatakan sehat ketika batin dan watak ada dalam keadaan normal, tentram, tenang, dan emosi bisa dikendalikan dengan baik, sehingga bisa menjalankan aktivitas dan menikmati kehidupan sehari-hari.
Saat mental terganggu, semuanya bisa kacau. Gangguan mental tak hanya menghampiri orang dewasa saja, remaja juga. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Gadjah Mada, bekerja sama dengan University of Queensland dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, ditemukan bahwa 5,5% remaja Indonesia atau setara dengan 2,4 juta remaja diestimasi mengidap gangguan mental.
“Mengenai apa yang kami dapatkan, satu, kita tahu bahwa remaja itu kelompok yang rentan. Tapi enggak tahu kerentanannya itu akan mengakibatkan gangguan mental yang seperti apa,” ujar dr. Amirah Ellyza Wahdi, MSPH., Peneliti Pusat Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang terlibat dalam penelitian.
Studi Amirah dan kawan-kawan ini dimuat dalam laporan riset bertajuk Indonesia - National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang terbit pada Oktober 2022.
Ada banyak faktor yang bisa membuat seorang remaja terkena gangguan mental, termasuk keluarga, lingkungan sekitar, teman sebaya, genetik, dan beberapa faktor lainnya.
Faktor-faktor tersebut bisa saling memengaruhi. Yang pasti, kata Amirah, secara biologis anak remaja sangat rentan karena mereka sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.
“Contohnya kayak pubertas. Itu kan membawa perubahan besar di hidup mereka, perubahan hormon juga. Belum lagi tekanan akademis dan dari teman sekitar. Tidak menutup kemungkinan juga adanya stressor lain seperti dinamika keluarga yang tidak kondusif dan predileksi biologis. Ini semua saling memengaruhi,” ujar Amirah kepada kumparanSAINS.
Riset I-NAMHS juga menemukan, dari lima kategori masalah kesehatan mental, kecemasan menjadi gangguan mental paling umum di antara remaja Indonesia (3,7%). Disusul dengan gangguan depresi mayor (1%), gangguan perilaku (0,9%), serta gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) yang masing-masing diderita oleh 0,5%.
Dari penelitian juga terungkap bahwa 89% remaja mengalami gangguan mental di domain keluarga. Artinya, 89% kasus gangguan mental menghasilkan friksi atau perpecahan di keluarganya.
Ketika keluarga tidak dapat menanganinya, hal ini bisa menjadi pemicu konflik besar seperti sulit melakukan aktivitas bersama keluarga, tidak rukun, bahkan lebih nyaman mengurung diri di kamar ketimbang berkomunikasi dengan kakak atau orang tua.
Risiko tidak terdiagnosis dan penanggulangan keluarga
Di Indonesia, penanganan kasus gangguan mental diperburuk dengan akses ke ahli yang sangat minim. Ditambah kurangnya pengetahuan keluarga dalam menghadapi remaja dengan gangguan mental.
Tidak hanya gagal menghubungkan penderita dengan bantuan ahli, tapi juga kadang memperparah keadaan dengan memberi penanganan yang tidak tepat, seperti ruqyah. Atau ada pula orang tua yang memilih anaknya dikirim ke pesantren karena dirasa bandel atau tidak bisa diatur. Padahal, bisa jadi ada masalah yang lebih serius yang dialami remaja tersebut. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan banyak remaja RI tidak terdiagnosis gangguan mental.
Menanggapi pemahaman keluarga Indonesia yang dangkal soal penyakit mental, Amirah berpendapat bahwa penanganan paling tepat saat ini dari segi epidemiologi adalah memberi edukasi kepada keluarga tentang penanganan kesehatan mental itu sendiri.
“Saya rasa awareness di level keluarga mungkin untuk konteks Indonesia akan jadi lebih penting. Remajanya, gurunya dan orang tuanya, tiga ini harus duduk bareng, harus diedukasi,” kata Amirah.
Guru-guru perlu background information soal kesehatan mental remaja. Guru bermitra dengan puskesmas terdekat. Ada screening dan kampanye. Jadi mengkampanyekan kesehatan tidak harus fisik tapi juga mental.
- dr. Amirah Ellyza Wahdi, MSPH., Peneliti Pusat Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, UGM -
Tanda-tanda gangguan mental
Publik juga perlu mengetahui ciri-ciri atau tanda-tanda seseorang mengalami gangguan mental. Ini penting supaya saat tanda-tanda itu muncul, kita bisa segera bertindak untuk menghubungi psikiater atau mencari pertolongan medis.
Menurut Sani Budiantini Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani dan Ketua Yayasan Insani At-Taqwa, ciri-ciri orang dengan gangguan jiwa bisa dilihat dari perilakunya. Beberapa di antaranya adalah:
Sulit berinteraksi dengan orang lain
Lebih senang sendiri
Terganggunya kegiatan sehari-hari
Kadang-kadang disertai dengan putusnya realitas
Punya dunia sendiri
Dalam konteks remaja, gangguan mental yang paling banyak diderita adalah gangguan kecemasan. Kecemasan sendiri sebenarnya banyak jenisnya, tapi menurut Amirah, jika dirangkum secara keseluruhan itu adalah kegagalan seseorang dalam mengendalikan rasa cemasnya untuk hal yang sebenarnya tidak perlu dicemaskan.
Adapun gejala kecemasan meliputi: rasa cemas berlebih, over thinking, sulit berinteraksi, dan reaksi berlebih ketika menghadapi sesuatu seperti keringat dingin, berdebar-debar, dan breakdown.
“Kalau mau ujian, misalnya, seorang anak itu bisa demam, padahal tidak ada sakit apa-apa… kemudian sakit kepala dan beberapa gejala lain. Ini termasuk kecemasan. Ketika ini tidak bisa dikendalikan, maka bisa membuat hidupnya semakin sulit,” kata Amirah.
Ironisnya di Indonesia, gangguan mental menerima stigma negatif di masyarakat. Ini membuat orang-orang yang mengalami gangguan mental enggan datang ke rumah sakit jiwa atau ke dokter psikiater karena takut omongan tetangga.
Oleh karena itu, baik Amirah maupun Sani mengimbau agar masyarakat mulai menghilangkan stigma negatif ini. Lebih cepat seseorang terdiagnosis ODGJ atau gangguan mental, lebih baik pula penanganan yang diterima.
“Harapan saya tidak ada lagi anak yang mau diantarkan ke layanan kesehatan, tapi orang tuanya menolak, atau malah di-ruqyah,” kata Amirah.
