Daftar Juara Olimpiade Genomik Indonesia 2025, Siap Jadi Peneliti Masa Depan
·waktu baca 4 menit

Sebanyak 63 siswa-siswi dari seluruh penjuru Nusantara ikut serta dalam ajang Olimpiade Genomik Indonesia (OGI) 2025. Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan para pelajar Indonesia pada dunia biogenetik dan pendidikan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).
Acara puncak OGI 2025 berlangsung di Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, pada Minggu (24/8). Di sini, para finalis merayakan keberhasilan setelah melewati tahap penyisihan dan semifinal, serta diakhiri dengan rangkaian final selama tiga hari.
"(OGI 2025) lebih dari sebuah kompetisi, ini adalah perjalanan untuk mengenal sains, meraih masa depan, dan menyalakan cahaya pengetahuan," kata Indri Rooslamiati, Kepala Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan, Minggu (24/8).
Genomik adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari keseluruhan DNA organisme atau genomnya, termasuk struktur fungsi, evolusi, pemetaan, dan interaksi antar gen, serta bagaimana Informasi genetika ini mempengaruhi kesehatan dan penyakit seseorang.
"DNA itu kalau diibaratkan seperti superhero. Genomik adalah kekuatan supernya, seperti Spiderman dengan jaringnya, atau Superman dengan kemampuan terbangnya," ungkap Indri.
Dari 63 finalis OGI 2025, sebanyak tiga pelajar dari masing-masing kategori dinyatakan sebagai juaranya. Olimpiade ini juga memberikan penghargaan untuk peserta yang memiliki teori, analsisi jurnal, serta eksperimen dan presentasi terbaik.
Berikut daftar nama para pemenang Olimpiade Genomik Indonesia 2025:
SD
Juara 1: Kaysalula Syabna Faezya (SD Insan Amanah)
Juara 2: Janesh Keyfza Pramatya (SDS Pratiwi School)
Juara 3: Muhammad Amir Izzat M (MIN 1 Kota Malang)
Teori Terbaik: Denaya Latisha Azkiya Dienda (SD Muhammadiyah 1 Samarinda)
Analisis Jurnal Terbaik: Gabriaell Alodie Lovea Djatmika (SDN Banjaran 4)
Eksperimen & Presentasi Terbaik: Nazhifa Mahira Sakhi Azzalfa (SD Budi Mulia Dua Sedayu)
SMP
Juara 1: Kanahati Ratandini (SMP Nizamia Andalusia)
Juara 2: Abigail Syallom Patricia Damaris Taridauli Sijabat (SMPK Penabur Kota Wisata)
Juara 3: Naiara Zahra Madina (SMPN 1 Lamongan)
Teori Terbaik: Muhammad Faiz Ramadhan (SMP Islam Athirah Bukit Baruga)
Analisis Jurnal Terbaik: Shinryu Aditya Viriyajetu (SMPK Santa Clara Surabaya)
Eksperimen & Presentasi Terbaik: Farrel Atharizz Fitratillah (SMPN 1 Lamongan)
SMA
Juara 1: Annisa Alifia Zahra (SMA Negeri 2 Semarang)
Juara 2: Stephanie Sandra (SMA Little Sun)
Juara 3: Muhammad Wildan Al Fayyadh (SMA Negeri 12 Surabaya)
Analisis Jurnal Terbaik: Berliana Yunisa S (SMAN 5 Surakarta)
Analisis Jurnal Terbaik: Stevic Imanuel Siagian (SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan)
Eksperimen & Presentasi Terbaik: Nadira Hiraani Azzahra Supriatna (SMA Negeri 2 Bandung)
Olimpiade Genomik Indonesia 2025 diinisiasi oleh Indonesia Mengajar dan Regene Academy, dengan keterlibatan luas dari berbagai pemangku kepentingan, seperti perguruan tinggi, organisasi akademik, dan komunitas sains, termasuk Kemendikdasmen, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Pusat Biomedis, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada. Dengan semangat "Belajar, Bertumbuh, Bersinar", Olimpiade Genomik Indonesia diharapkan menjadi langkah awal lahirnya generasi emas yang siap membawa Indonesia bersaing di panggung global.
OGI hadir dengan tujuan menghadirkan sebuah platform yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus menumbuhkan minat terhadap sains di kalangan Pelajar Indonesia. Peserta OGI 2025 diikuti oleh berbagai jenjang mulai dari Sekolah Dasar hingga Menengah Atas.
"Kalau hari ini ada yang bertanya, siapa anak-anak muda terbaik di bidang genomik di Indonesia? Saya bisa jawab, ada 63 anak yang hadir di sini. Mereka adalah harapan-harapan bangsa," ujar Hikmat Hardono, Ketua Pelaksana OGI.
Sains untuk Semua Kalangan
Berbeda dengan olimpiade sains pada umumnya, OGI menjadi panggung inklusif untuk anak-anak dari pelosok negeri untuk bisa berdiri sejajar dengan mereka yang berasal dari sekolah unggulan di kota-kota besar. Hal ini menjadi simbol bahwa sains kini terbuka untuk semua, tak peduli jarak dan keterbatasan fasilitas.
Para pelajar tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga praktik langsung di laboratorium modern di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Mulai dari ekstraksi DNA dari buah sederhana, kultur sel, teknik PCR, hingga melihat langsung proses elektroforesis agarosa sebagai praktik ilmiah yang biasanya hanya ditemui di Universitas atau pusat riset besar.
Peserta OGI 2025 menjalani rangkaian tes untuk menguji teori hingga praktik langsung. Tiga tahapan tes yang dilakukan adalah tes tertulis, eksperimen di laboratorium, membuat laporan, serta menyampaikan presentasi secara mandiri.
"Lombanya dilakukan di Universitas Indonesia, di salah satu laboratorium terbaik di Indonesia. Anak-anak bisa merasakan langsung pengalaman praktik dari pagi hingga malam," ungkap Hardono.
Reporter: Muhamad Ardyansyah
