Kumparan Logo

Demi Penelitian, 16 Orang Rela Jadi 'Vampir'

kumparanSAINSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi minuman. (Foto: freestocks-photos via Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minuman. (Foto: freestocks-photos via Pixabay)

Dalam sebuah riset terbaru, ada 16 peserta studi rela menjadi 'vampir'. Mereka diminta untuk meminum darahnya sendiri untuk mempelajari cara yang lebih baik dalam mendiagnosis penyakit peradangan pada perut.

Dilansir Live Science, riset 'vampir' yang dipublikasikan di United European Gastroenterology Journal mengungkap batasan metode normal dalam mendiagnosis penyakit di saluran pencernaan, seperti penyakit Crohn.

Metode normal yang dimaksud adalah melihat protein yang terkait dengan peradangan saluran pencernaan di kotoran seseorang. Protein yang dimaksud adalah calprotectin, protein yang muncul ketika terjadi peradangan pada usus.

Dijelaskan bahwa protein tersebut muncul pada kasus terjadinya peradangan saluran pencernaan, namun protein juga bisa menandakan adanya pendarahan di perut. Hal ini membuat para dokter kesulitan dalam membedakan apakah pasien mengalami peradangan atau pendarahan di perutnya.

Dengan riset ini, para ilmuwan bisa menghitung jumlah calprotein di kotoran seseorang dan bisa membantu menentukan dengan tepat apakah seseorang mengalami peradangan atau pendarahan di perutnya.

Usus besar dan saluran pencernaan manusia. (Foto: Elionas2 via pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Usus besar dan saluran pencernaan manusia. (Foto: Elionas2 via pixabay)

Metode Riset Minum Darah

Jadi, 16 peserta, yang terdiri dari 12 perempuan dan empat pria, diminta untuk memilih meminum antara sekitar 100 mililiter darah atau 300 mililiter darah. Sebulan kemudian mereka yang meminum dosis 100 mililiter diminta untuk minum dosis 300 mililiter dan sebaliknya.

Sebagian besar peserta dilaporkan meminum darah tersebut, namun ada beberapa yang memilih agar darah dimasukkan langsung ke perutnya dengan bantuan alat tabung nasogastrik.

Setengah dari para peserta disebut mengalami simtom seperti mual-mual, dan ada beberapa yang mengaku mengalami diare atau konstipasi setelah mengonsumsi darah mereka sendiri.

Para peserta juga mengatakan bahwa kotoran mereka memiliki warna sangat gelap setelah meminum darah. Hal itu merupakan tanda adanya darah di saluran pencernaan.

Ilustrasi transfusi darah. (Foto: Gary Cameron/REUTERS)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi transfusi darah. (Foto: Gary Cameron/REUTERS)

Untuk kepentingan riset, peserta memberikan sampel kotoran dua hari sebelum minum darah. Sampel yang sama juga diberikan setiap hari selama tujuh hari setelah minum darah, dan terakhir sampel diambil sekali lagi 14 hari setelah minum darah.

Peneliti menemukan adanya peningkatan kadar calprotectin di sampel kotoran setelah minum darah. Ditemukan bahwa konsumsi 100 mililiter darah menyebabkan peningkatan sebesar 50 mikrogram per gram calprotectin pada 46 persen sampel kotoran. Sementara pada dosis 300 mililiter ditemukan adanya peningkatan dengan kadar calprotectin yang sama pada 63 persen sampel kotoran.

Tidak ditemukan adanya peningkatan calprotectin hingga 200 mikrogram per gram pada sampel kotoran, angka yang menjadi penanda bahwa ada penyakit radang di usus.

Disimpulkan bahwa keberadaan calprotectin dalam tingkat tinggi mengindikasikan keberadaan penyakit radang usus. Sementara pada tingkat rendah, dokter harus menghitung faktor lain sebelum memberikan diagnosis yang tepat.