Kumparan Logo

Desa Ini Diisi Banyak Perempuan Rambut Terpanjang di Dunia

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perempuan Yao di Desa Huang Luo, China Foto: Instagram Joyce NG
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan Yao di Desa Huang Luo, China Foto: Instagram Joyce NG

Rambut stylish dan berkilau adalah keinginan hampir semua perempuan di dunia. Mereka bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk perawatan rambut mulai dari memotong secara berkala hingga mengganti-ganti warna rambut.

Tapi apa jadinya kalau perempuan hanya dibolehkan untuk memotong rambutnya sekali seumur hidupnya?

Setidaknya hal itu dialami oleh para perempuan Desa Huang Luo di Guangxi, China yang berjarak 1.000 mil dari Beijing. Desa ini terkenal diisi dengan banyak perempuan berambut panjang di dunia.

Kalau biasanya perempuan ingin punya rambut sehalus sutera, beda ceritanya dengan perempuan Yao. Semakin panjang, kuat dan keras rambut mereka, semakin menjadi dambaan perempuan di sana.

Mereka akan membiarkan rambut mereka tumbuh sampai menyentuh tanah. Bahkan menurut legenda China, rambut mereka dijadikan alat untuk mencambuk pelamar yang tidak disukainya.

Perempuan Yao hanya boleh memotong rambutnya sekali seumur hidup, yaitu di umur ke-18. Setelah itu, rambut mereka akan dikuncir dengan kepangan rumit tradisional khas Yao.

Biasanya, perempuan yang belum menikah membungkus rambut mereka ke dalam kain yang diikatkan di kepala mereka. Sementara, yang sudah menikah biasanya menyanggul besar rambut di atas kepala.

instagram embed

Hingga tahun 1980, tradisi rambut panjang di suku Yao masih sangat menakutkan. Apabila ada pria yang melihat gadis dengan rambut terurai, mereka akan dihukum untuk melayani keluarga gadis itu selama tiga tahun.

Namun, tradisi itu tidak berlaku lagi sehingga semua orang tak perlu takut melihat gadis berambut panjang menjuntai.

Keunikan rambut perempuan Yao memikat banyak turis lokal maupun mancanegara. Ada banyak pengunjung mampir ke desa tersebut untuk melihat rambut panjang wanita di sana.

Oleh karena itu, penduduk desa itu membangun sebuah teater untuk membuat pertunjukan perempuan mengenakan kostum tradisional, menyanyikan lagu-lagu rakyat, menari, hingga memperlihatkan bagaimana mereka merawat rambut mereka.

Penjualan tiket juga menjadi pendapatan tambahan untuk mereka membeli sampo. Memiliki rambut panjang seumur hidup mereka, bukanlah hal yang mudah. Mereka punya perawatan khusus untuk itu.

Caranya, mereka harus merendam rambut mereka ke dalam ramuan tradisional yang berisi beras ditumbuk dengan air di dalam pot tanah liat besar, kemudian direbus hingga mendidih.

instagram embed

Setelah itu campurkan tumbukan teh Bran, akar Fleeceflower dan jahe. Bahan diaduk dan dibiarkan terfermentasi di wadah tertutup selama tiga hari hingga empat hari.

Setelah keramas, mereka akan menyisirnya dengan sisir kayu agar ramuan meresap dari ujung hingga akar rambut. Tujuannya agar rambut tetap berkilau alami dan tetap hitam pekat bahkan pada wanita yang sudah tua.

Seorang fotografer profesional China, Joyce Ng, berkunjung ke desa tersebut dan mewawancarai salah satu tetua suku Yao. Ia meminta tanggapan mereka tentang anak-anak suku Yao yang kini sudah sering memotong rambut mereka dan mengikuti tren.

"Kami sudah sangat terbuka, lagipula mereka belajar untuk mengangkat derajat mereka juga,” jawab tetua perempuan Yao.

Kini, perempuan Yao juga telah mengikuti perkembangan zaman. Anak-anak keturunan mereka di zaman ini sudah banyak yang merantau keluar desa untuk belajar, memotong rambut mereka, dan hampir semua orang di desa itu sudah terekspos gadget.