Detik-detik Serigala Mangsa Kawanan Bison di Hutan Purba Polandia

Kamera jebakan (camera trap) berhasil merekam sebuah momen langka di hutan kuno Polandia ketika sekelompok serigala menyerang kawanan bison yang terdiri dari individu dewasa, anak bison, hingga seekor anak yang baru lahir. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Ecology and Evolustion.
Peristiwa itu terjadi pada 15 September 2025. Video memperlihatkan lima ekor serigala (Canis lupus) masuk ke wilayah area yang dipasang camera trap, disusul oleh tiga induk bison dan seekor anak bison yang baru lahir.
Para induk bison tampak berusaha mengejar serigala, tetapi apa yang dilakukan sang induk justru membuat anak bison tertinggal dan berada dalam posisi rentan. Serigala kemudian mengepung anak bison, menggigit bagian leher, dan mencoba menyeretnya pergi.
Namun, dua induk bison segera kembali untuk menyelamatkannya. Serigala sempat melakukan serangan kedua, tetapi kali ini seluruh kawanan bison datang memberikan perlindungan hingga serangan berhasil dihentikan.
Rekaman itu diambil di Hutan Purba Bialowieza, kawasan hutan dataran rendah beriklim sedang tertua dan paling terjaga di Eropa. Kawasan menjadi rumah bagi populasi bison Eropa (Bison bonasus) terbesar di dunia.
Hutan Purba membentang seluas sekitar 141.900 hektare di perbatasan Polandia dan Belarus. Menurut studi tersebut, lebih dari 870 ekor bison hidup di sisi Polandia, sementara sekitar 730 ekor berada di wilayah Belarus.
Bison Eropa yang Selama Ini Dianggap Tidak Memiliki Predator
Bison Eropa selama ini dikenal sebagai raja hutan dan umumnya dikategorikan sebagai spesies non-mangsa (non-prey species), yang berarti tidak memiliki predator alami selain manusia. Namun, rekaman terbaru ini menggoyahkan asumsi lama.
“Sepengetahuan kami, ini adalah bukti video pertama yang merekam serigala menyerang kawanan bison Eropa di Hutan Purba Bialowieza,” tulis tim peneliti dalam studi yang dipublikasikan pada 29 Mei 2026 di jurnal Ecology and Evolution.
Meski di dalam video tidak menunjukkan adanya pembunuhan secara langsung, peneliti menilai serangan terhadap bison Eropa berpotensi berhasil dalam kondisi tertentu.
Dokumen sejarah sebenarnya menunjukkan bahwa serangan serigala terhadap bison Eropa pernah lebih umum terjadi. Antara 1840 hingga 1849, tercatat sekitar delapan kasus pembunuhan bison per tahun di Hutan Bialowieza.
Catatan tersebut cukup rinci karena kawasan itu sejak abad ke-14 menjadi lokasi berburu favorit para bangsawan dan raja. Bison Eropa sendiri sempat dinyatakan punah di alam liar pada 1919 sebelum akhirnya diperkenalkan kembali ke Hutan Bialowieza pada 1952.
Kasus pertama yang dikonfirmasi setelah reintroduksi baru muncul pada pertengahan 1990-an. Setelah itu, serigala diyakini lebih memilih mangsa yang lebih mudah diburu seperti rusa roe (Capreolus capreolus), rusa merah (Cervus elaphus), dan babi hutan (Sus scrofa).
Menurut peneliti, pengamatan terbaru menunjukkan bahwa bison Eropa sebenarnya tetap bisa menjadi target perburuan serigala.
“Observasi kami menunjukkan bahwa bison Eropa pada kenyataannya merupakan mangsa potensial bagi serigala,” tulis tim peneliti.
Temuan ini memunculkan pertanyaan baru soal mengapa upaya predasi terhadap bison sangat jarang terjadi? Apakah bison masih layak disebut sebagai spesies tanpa predator? Dan apa dampaknya terhadap strategi konservasi ke depan?
Peneliti juga menyoroti tren menarik di Hutan Bialowieza, yakni soal ukuran kawanan serigala yang kini cenderung membesar, kemungkinan dipicu oleh larangan berburu yang mulai diberlakukan sejak akhir 1980-an.
Perubahan ini dapat meningkatkan peluang serigala memangsa bison di masa depan, karena kelompok yang lebih besar memiliki kemampuan memburu hewan berukuran lebih besar.
“Jika predasi terhadap bison Eropa, terutama individu muda, ternyata lebih sering terjadi daripada yang selama ini diperkirakan, maka serigala dapat memainkan peran kecil tetapi penting dalam pengaturan alami populasi bison,” tulis peneliti.
Menurut mereka, regulasi tersebut juga berpotensi membantu mengurangi konflik antara manusia dan bison di masa mendatang.
