Kumparan Logo

Dokter Minta Ibu Hamil Hindari Plastik, Ini Alasannya

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu hamil. Foto: aslysun/Shuttterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil. Foto: aslysun/Shuttterstock

Dokter biasanya memberi saran standar untuk ibu hamil, seperti minum vitamin prenatal, hindari alkohol, rokok, dan ikan mentah. Namun Marya Zlatnik, dokter spesialis kandungan dari University of California San Francisco, AS, punya nasihat tambahan bagi sebagian pasiennya yang tengah hamil: Hindari plastik.

Zlatnik menekankan bahaya paparan plastik bagi ibu hamil, terutama mereka yang pernah mengalami kelahiran prematur.

“Saya ingin mereka tahu informasi risiko ini,” ujarnya, mengutip The Washington Post.

Plastik memang sulit dihindari. Ia ada di mana-mana: Kemasan makanan, furnitur, pakaian, elektronik, bahkan di udara.

Oleh karenanya, Zlatnik menyarankan memulai dari langkah sederhana, seperti jangan makan/minum dari wadah plastik bila bisa dihindari, jangan memanaskan plastik di microwave, dan kurangi makanan ultra-proses.

Ilustrasi wadah plastik. Foto: Shutterstock

Mengapa plastik perlu diwaspadai?

Peringatan ini berangkat dari kekhawatiran atas ftalat, kelompok bahan kimia yang lazim ditambahkan untuk membuat plastik lebih lentur. Jejaknya ditemukan di darah dan urine hampir semua orang seiring dengan masifnya penggunaan plastik di berbagai lini kehidupan manusia, termasuk ada yang diizinkan bersentuhan dengan makanan.

Padahal selama dua dekade terakhir, bukti ilmiah yang terus bertambah mengaitkan paparan ftalat dengan beragam masalah kesehatan: Kelahiran prematur, infertilitas, hingga ADHD -- dengan risiko terbesar pada ibu hamil dan janin.

Ftalat sendiri tergolong pengganggu endokrin (endocrine disruptors), yakni bahan kimia yang dapat mengacaukan kerja hormon. Masa paling rawan paparan itu adalah trimester pertama, ketika hormon mengatur pertumbuhan jaringan dan organ janin.

“Bahan kimia ini menembus plasenta; plasenta tidak memberi perlindungan sama sekali,” kata Dokter Anak dan Direktur Program Global Public Health, Boston College, Philip Landrigan.

Paparan ftalat pada masa janin juga dikaitkan dengan penekanan testosteron (antiandrogen) yang meningkatkan risiko testis tidak turun (kriptorkidisme), hipospadia, serta kualitas/jumlah sperma lebih rendah saat dewasa.

Lebih lanjut, sejumlah studi juga menunjukkan kenaikan 12–16% risiko kelahiran prematur pada paparan tinggi, serta keterkaitan dengan risiko ADHD lebih tinggi dan penurunan rata-rata IQ pada anak. Akan tetapi dampak pada dosis rendah juga ditemukan, sehingga sampai saat ini ilmuwan masih kesulitan untuk memastikan batas ‘aman.’

Ilustrasi Bahan makanan dan sayur di dalam plastik Foto: Shutterstock

Perdebatan dan posisi regulator

Di sisi lain, perwakilan industri plastik menegaskan sebagian ftalat dianggap aman oleh regulator untuk penggunaan tertentu.

Beberapa varian, misalnya, DINP dan DIDP yang digunakan pada lantai vinil, material interior mobil, sol sepatu, serta kabel --belum menunjukkan bukti kuat terkait gangguan reproduksi atau neurologis menurut sebagian penilaian.

Meski demikian, FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS), menyatakan sedang memperbarui kajian keamanan untuk beberapa penggunaan yang masih diotorisasi.

Di tengah perdebatan ilmiah yang terus berjalan, banyak peneliti secara umum sepakat untuk menekankan prinsip kehati-hatian bagi kelompok rentan seperti ibu hamil.

Bukan hanya untuk ibu hamil

Investigasi Washington Post sendiri menyebut paparan ftalat hampir dialami semua orang. Karena itu, anjuran pengurangan paparan sebaiknya tak hanya untuk ibu hamil, melainkan untuk masyarakat luas.

“Bahan kimia pengganggu endokrin adalah ancaman kesehatan global besar di zaman kita. Hanya segelintir yang sadar, tetapi hampir semua orang terdampak,” kata profesor pediatri dan kesehatan populasi di NYU, Leonardo Trasande.

Bahkan jika kita tak bisa menunjuk satu kasus dan berkata “ini akibat ftalat”, pola populasi -- penurunan kualitas sperma, naiknya prematuritas, dan gejala neuro-perkembangan -- membentuk sinyal konsisten.

Oleh karenanya, banyak peneliti mendorong kebijakan yang membatasi paparan dari hulu, alih-alih membebankan seluruh tanggung jawab pada individu, terlebih pada ibu hamil.