Eksperimen ‘Gila’ 20 Anak Ditinggal Sendirian di Rumah 5 Hari, Ini yang Terjadi
·waktu baca 3 menit

Sebuah stasiun televisi di Inggris mengadakan acara reality show dengan menempatkan 10 anak perempuan dan 10 anak laki-laki. Mereka ditempatkan di sebuah rumah terpisah untuk menjaga dirinya sendiri tanpa pengawasan orang dewasa.
Ya, sebuah eksperimen yang mungkin terdengar aneh, gila, dan bisa menuai kontroversial jika dilakukan di Indonesia.
Anak-anak tersebut berusia antara 11 dan 12 tahun, dan tidak saling kenal satu sama lain. Mereka diberi makan, uang, mainan, dan peralatan kebersihan, ditempatkan di sebuah rumah selama 5 hari.
Anak-anak itu dibiarkan melakukan aktivitas sesuka hati dengan catatan, kru bakal bertindak jika terjadi masalah serius. Anak-anak direkam sepanjang waktu bak film dokumenter dan cuplikannya disiarkan di Saluran 4 Inggris Boys and Girls Alone.
Hasilnya, ada perbedaan mencolok bagaimana mereka berperilaku antara anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan terlihat melakukan kegiatan memasak, membersihkan rumah, dan mengatur peragaan busana untuk tujuan hiburan. Sementara anak lak-laki dengan cepat membuat rumah kotor dan berantakan.
Setelah beberapa hari bersama, anak laki-laki mulai menuai konflik dan terbagi menjadi dua kubu, tidur di dua kamar berbeda. Dua kubu ini saling bermusuhan, sebutlah kubu A dan B. Kubu A mencoba mengganggu kelompok lain yang tidur lebih awal dengan terus menerus membuat suara bising.
Perkelahian pecah ketika kaos kaki salah satu anak dicat dan diolesi krim cukur. Namun, sampai akhir eksperimen, pertikaian hanya sebatas gangguan dan cekcok mulut, tidak ada yang sampai terluka.
Sementara di kelompok perempuan, ketegangan mulai muncul saat ada kucing tetangga yang masuk rumah dan mereka memutuskan untuk merawatnya. Kelompok perempuan juga enggak selalu damai dan harmonis, ada drama di dalamnya.
Meski mereka lebih bisa merawat rumah dan diri sendiri dengan memasak, memindahkan semua tempat tidur ke dalam satu ruangan, serta makan bersama, pada akhirnya gadis-gadis itu saling menindas satu sama lain. Dua gadis akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah sebelum eksperimen selesai.
Kendati menarik untuk ditonton, kita tidak bisa berharap banyak dari eksperimen tersebut, mengingat keberadaan kamera dan sifatnya eksperimen belaka. Artinya, jika ini terjadi di kehidupan sesungguhnya, maka akan banyak kemungkinan yang terjadi.
Sebagai contoh di kehidupan nyata, sebuah cerita yang datang pada tahun 1965, ketika enam anak laki-laki terdampar di sebuah pulau. Kisah bermula ketika mereka ketahuan mencuri dan mencoba melarikan diri dengan naik perahu ke Fiji. Sayang, di perjalanan mereka tertidur sampai akhirnya terdampar di sebuah pulau kecil selama 15 bulan.
Sebelum diselamatkan, anak-anak itu mencoba bertahan hidup dengan membuat jadwal tugas di sekitar kamp yang mereka dirikan, membuat alat musik untuk menghibur diri, dan mencoba membuat rakit sendiri. Salah satu anak laki-laki jatuh dari tebing, dan kakinya patah. Anak laki-laki lain mencoba mengatur kaki yang patah dengan tongkat atau teknik gip, dan merawatnya sampai sembuh.
