Kumparan Logo

Es dan Salju Turun di Dieng, Jawa Tengah: Suhu Capai Minus 6 Derajat Celcius

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Embun Es akibat suhu ekstrem di Dieng, tepatnya di komplek Candi Arjuna. Foto: Dok. UPT Pengelola OW Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara
zoom-in-whitePerbesar
Embun Es akibat suhu ekstrem di Dieng, tepatnya di komplek Candi Arjuna. Foto: Dok. UPT Pengelola OW Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara

Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, kembali diselimuti lapisan es atau yang dikenal masyarakat sebagai embun upas. Fenomena ini terjadi pada 9 Juli 2026, ketika suhu udara di wilayah tersebut dilaporkan turun hingga mencapai minus 6 derajat Celsius.

Pemandangan kebun dan permukiman yang memutih ramai dibagikan warganet di media sosial. Salah satunya diunggah akun Instagram @brentsastro, yang memperlihatkan tanaman kentang tertutup kristal es hingga tampak membeku seperti baru keluar dari freezer. Es juga terlihat menyelimuti kendaraan yang terparkir di kawasan Dieng.

instagram embed

Menurut Yoga Sambodo, Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas II Ahmad Yani Semarang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena embun upas memang lazim terjadi di Dieng selama musim kemarau, khususnya pada periode Juli hingga September. Pada waktu tersebut, suhu udara di kawasan pegunungan dapat turun hingga di bawah titik beku.

Yoga menjelaskan, secara klimatologis kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Australia. Pada musim kemarau, tekanan udara di Benua Australia lebih tinggi dibandingkan Asia sehingga angin bertiup dari Australia menuju Indonesia. Massa udara yang cenderung kering membuat tutupan awan berkurang drastis.

Minimnya awan menyebabkan permukaan Bumi menerima sinar dan radiasi Matahari secara maksimal pada siang hari sehingga udara terasa panas. Namun ketika malam tiba, panas yang tersimpan di permukaan Bumi juga lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer karena tidak ada lapisan awan yang menahan radiasi tersebut.

"Sama seperti pada siang hari, radiasi yang dipancarkan balik oleh permukaan Bumi pada malam hari juga optimum karena langit bebas dari tutupan awan," kata Yoga, dikutip dari ANTARA.

instagram embed

Di sisi lain, kelembapan udara yang tinggi di kawasan pegunungan menyediakan cukup banyak uap air. Saat suhu permukaan turun hingga di bawah 0 derajat Celsius menjelang dini hari, embun yang terbentuk langsung membeku menjadi kristal-kristal es.

Meski menghadirkan panorama yang menarik bagi wisatawan, embun upas juga membawa dampak bagi sektor pertanian. Lapisan es dapat merusak jaringan tanaman, terutama sayuran, sehingga kerap menyebabkan gagal panen apabila berlangsung dalam beberapa hari berturut-turut.

BMKG memperkirakan intensitas embun upas masih akan meningkat dan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Karena itu, wisatawan yang berencana berkunjung ke Dieng selama musim kemarau diimbau menyiapkan perlengkapan yang sesuai, seperti jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, dan kaus kaki, agar tetap nyaman saat suhu udara turun drastis pada malam hingga pagi hari.