Kumparan Logo

Es di Greenland Terus Mencair, Ini Dampak Buruknya

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Glester terapung di atas permukaan laut Greenland. Foto: AP
zoom-in-whitePerbesar
Glester terapung di atas permukaan laut Greenland. Foto: AP

Kekhawatiran para ilmuwan soal batas pantai Greenland perlahan mulai terjadi. Pemanasan global yang menyebabkan es di Greenland terus mencair, telah mengubah bentuk dan ukuran garis pantai di sekitar lautnya.

Hal ini dikhawatirkan akan mengganggu ekosistem manusia dan hewan yang tinggal di sekitaran pantai. Berdasarkan riset yang dipublikasi pada 27 Oktober lalu, lelehan es di Greenland telah mengubah aliran gletser dan tempat pembuangannya ke laut.

Penelitian yang dirilis di Journal of Geophysical Research: Earth Surface pada 27 Oktober 2020 tersebut juga menemukan bahwa perubahan ini dapat berdampak pada hilangnya es dari Greenland di masa depan. Saat ini, Greenland kehilangan 500 gigaton es setiap tahunnya.

Angka tersebut jauh lebih dari es yang bsia diisi ulang oleh salju baru. Lelehan ini adalah yang terparah, 14 persen lebih besar dibandingkan pencairan yang terjadi pada 1985 dan 1999. Selain itu, lelehan ini melumasi lapisan es sehingga lebih mudah meluncur di batuan dasar dan mempercepat pencairan selanjutnya.

Lapisan es mulai mencair di Greenland. Foto: JChristophe_Andre via pixabay

Riset tersebut dipimpin oleh ilmuwan dari National Snow and Ice Data Center, Twila Moon. Ia mengatakan, bahwa studi ini melibatkan dua jenis data dari citra satelit untuk melihat kecepatan es bergerak mundur dan tempat perhentian gletser saat meluncur.

Hasilnya, penyusutan gletser menjadi hal biasa di Greenland. 89 persen gletser telah menyusut secara substansial dalam dekade terakhir. Hampir tidak ada yang terbentuk kembali ke tempat awal.

Namun, pembentukan kembali gletser ini diterjemahkan ke dalam berbagai perubahan pergerakan gletser. Ada gletser yang semakin cepat mengalir ke arah laut. Ada juga yang mengalir lebih lambat. Dalam beberapa tahun hingga satu dekade, satu gletser dapat melakukan keduanya, bergantung pada topografi di sekitarnya. Gletser sendiri adalah lapisan besar es yang bergerak turun perlahan-lahan, sehingga sebagian aliran ditentukan tidak hanya oleh seberapa cepat mereka mencair, tetapi oleh apa yang ada di bawahnya.

Misalnya, gletser Kjer dan Hayes di Greenland barat laut melaju ke laut dari tahun 1990-an hingga 2010, tetapi es lain di dekatnya bergerak melambat ke arah laut. Dalam satu kasus, bagian selatan dari gletser itu bergerak semakin cepat, lalu melambat lagi. 

Suasana pemandangan glester di Greenland. Foto: AP

Para peneliti melihat bukti penyempitan saluran es telah mengubah rute jalur air yang mencair, dan bahkan melambatnya es baru sehingga gletser terdampar di tempatnya lebih mirip danau daripada sungai. Semua temuan lokal ini bisa jadi sangat penting untuk memprediksi seberapa cepat es Greenland akan menghilang di masa depan. 

Perubahan tersebut juga kemungkinan besar akan mempengaruhi bagaimana dan di mana nutrisi masuk ke dalam air, di mana ada fjord (teluk) terbuka versus es, dan di mana air tawar tersedia.

"Saat lautan Arktik dan atmosfer menghangat, kita dapat dengan jelas melihat aliran es ke laut semakin cepat dan tepi es menyusut," kata rekan penulis studi Alex Gardner, seorang ilmuwan peneliti di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.

“Namun, jika kita melihat lebih dekat, kita dapat melihat kompleksitas bagaimana masing-masing gletser merespons, karena perbedaan sifat air laut yang mencapai bagian depan gletser, batuan dasar dan hingga yang terletak di bawah, serta bagaimana limpasan air lelehan diarahkan ke bawah. Memahami kompleksitas respons gletser individu sangat penting untuk meningkatkan proyeksi perubahan lapisan es dan kenaikan permukaan laut terkait yang akan tiba di pantai kami,” lanjutnya.