Fenomena ‘Hujan Iguana' di Florida, Gegara Cuaca Dingin Ekstrem
·waktu baca 3 menit

Fenomena hujan iguana menghantam Florida, Amerika Serikat, pada Minggu (1/2) pekan lalu. Penyebabnya adalah gelombang udara dingin ekstrem yang melanda wilayah selatan AS pada akhir pekan lalu.
Hujan iguana terjadi ketika puluhan bahkan ratusan iguana di Florida jatuh dari pohon akibat suhu dingin yang menusuk. Stasiun televisi WPLG 10 yang berbasis di Miami melaporkan fenomena hujan iguana ini terjadi pada Minggu (1/2) pagi waktu setempat.
Reptil berdarah dingin itu diketahui akan kehilangan kemampuan bergerak ketika suhu terlalu rendah, sehingga mereka terjatuh dari pohon. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan iguana-iguana yang terkapar di trotoar setelah jatuh dari pohon di wilayah selatan Florida.
Jessica Kilgore, pengelola layanan penanganan spesies invasif bernama Iguana Solutions, mengatakan kepada WPLG 10 bahwa selama gelombang dingin tersebut ia telah mengumpulkan ratusan kilogram iguana, baik yang masih hidup maupun yang mati.
Sementara Komisi Konservasi Ikan dan Satwa Liar Florida (Florida Fish and Wildlife Conservation Commission) telah mengeluarkan perintah khusus yang memungkinkan masyarakat mengangkut iguana ke kantor-kantor komisi konservasi.
Di sisi lain, Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service) memprediksi hujan salju lebat di wilayah Carolina akan mulai mereda dalam beberapa hari ke depan. Namun, angin kencang diperkirakan menyusuri Pantai Timur AS seiring pergerakan sebuah siklon kuat yang meluncur ke arah laut.
Gubernur Stein juga menyebut bahwa jalan raya yang melintasi Outer Banks di North Carolina, sebuah jalur daratan sempit dengan banyak rumah pantai yang menjorok ke Samudra Atlantik, terendam limpasan air laut akibat angin kencang dan pasang tinggi. Jalur tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sebelum bisa dibuka kembali.
Badai akhir pekan itu turut memicu pembatalan lebih dari 800 penerbangan di Bandara Internasional Charlotte Douglas, North Carolina, yang merupakan salah satu hub utama maskapai American Airlines, berdasarkan data pelacak penerbangan FlightAware.
Selain itu, pemadaman listrik juga menimpa 158 ribu pelanggan, terutama di wilayah selatan. Data dari poweroutage.us menunjukkan Mississippi, Tennessee, Florida, dan Louisiana menjadi negara bagian yang paling terdampak.
Cuaca Dingin Ekstrem di AS
Saat ini sejumlah negara bagian di AS memang sedang diselimuti salju tebal hingga hampir setengah meter, diiringi dengan angin kencang yang memicu kekacauan lalu lintas. Curah salju terberat tercatat di North Carolina, negara bagian yang jarang mengalami salju kecuali di wilayah pegunungan. Kota Lexington menerima salju setebal sekitar 40 centimeter, sementara Faust di kawasan Pegunungan Walnut bahkan hingga 56 centimeter.
Dilansir AFP, gubernur North Carolina, Josh Stein, melaporkan sekitar 1.000 kecelakaan lalu lintas serta dua korban jiwa yang terjadi di awal Februari 2026. Ia mengimbau warga untuk tetap berada di rumah dan menghindari perjalanan yang tidak perlu. Stein juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gejala radang dingin (frostbite).
Gelombang cuaca ekstrem terbaru ini terjadi hanya sekitar sepekan setelah badai besar sebelumnya menerjang wilayah Amerika Serikat, menewaskan lebih dari 100 orang dan membuat banyak komunitas kewalahan membersihkan sisa salju dan es.
Florida memang tidak mengalami hujan salju seperti yang terjadi di Carolina, Georgia, Tennessee, Kentucky, maupun wilayah selatan Virginia. Namun, negara bagian ini mencatat suhu terendah yang memecahkan rekor.
Di Orlando, suhu turun hingga minus 4 derajat Celsius, angka terendah yang pernah tercatat pada Februari sejak setidaknya tahun 1923. Padahal, pada periode ini biasanya suhu harian Florida berkisar antara 12 derajat Celsius pada malam hari hingga 23 derajat Celsius di siang hari.
