Kumparan Logo

Gerakan Sosial Bike To Work: Bukan Sekadar Transportasi, tapi Sebuah Solusi

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga bersepeda saat berangkat bekerja menuju kantornya di Jakarta, Kamis (3/6/2021). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga bersepeda saat berangkat bekerja menuju kantornya di Jakarta, Kamis (3/6/2021). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Bagi kebanyakan orang, sepeda hanyalah alat rekreasi akhir pekan. Namun, bagi gerakan bersepeda Bike to Work Indonesia, sepeda merupakan solusi dari masalah kemacetan, polusi, dan pemborosan energi yang terjadi di Indonesia.

Fahmi Saimima, Ketua Umum Bike to Work Indonesia, mengatakan bahwa komunitasnya muncul dari keprihatinan terhadap tiga masalah tersebut. Gerakan sosial ini muncul tatkala para pesepeda melihat bahwa kendaraan roda duanya dapat menjadi transportasi alternatif yang ramah lingkungan.

Pada 27 Agustus 2005, komunitas Bike to Work Indonesia mendeklarasikan buah solusi sosialnya. Tidak ketinggalan, mereka turut memperjuangkan hal sensitif agar para bersepeda lebih dianggap di jalan raya.

“Sehingga keresahan-keresahan itu berkumpul menjadi satu dan memulailah gerakan yang kemudian tanggal 27 Agustus 2005, kami deklarasikan sebagai buah sosial maupun solusi sebagai dari keresahan akan polusi udara, pemborosan energi, kemacetan lalu lintas, hingga hal yang paling sensitif yaitu ketika bersepeda tidak dianggap di jalan raya," kata Fahmi di acara Karnaval Kemerdekaan 2021 kumparan, Selasa (17/8).

Pesepeda melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (6/6/2021). Foto: Aprilio Akbar/ANTARA FOTO

Selama ini, kebijakan transportasi di Indonesia masih terlalu berfokus pada mobil atau apa yang dia sebut sebagai “car-centric.” Padahal, dunia transportasi harus memprioritaskan terlebih dahulu para pejalan kaki, pesepeda, dan transportasi umum, sebelum mengutamakan mobil, sepeda bermotor, dan kendaraan pribadi.

Kebijakan transportasi di Indonesia saat ini tak hanya salah prioritas. Lebih dari itu, kebijakan car-centric yang diambil terbukti tak menguntungkan bagi Indonesia.

“Bayangkan, data tahun 2020, misalnya, hampir Rp 40 triliun untuk menghitung kerugian-kerugian yang didampakkan oleh kemacetan, polusi, dan lain sebagainya. Sementara pendapatan pajak dari kendaraan bermotor itu hanya separuhnya. Berarti, negara itu nombok hampir separuhnya dari kerugian-kerugian,” ungkap Fahmi.

Ketika diawali dengan pembangunan-pembangunan yang car-centric, maka enggak ada ruang lagi buat kita mencari solusi yang terbaik. Nah, sepeda adalah sebuah jawaban yang sederhana yang kalau kita fokuskan, itu akan membuat solusi ini dan diharapkan semuanya bisa teratasi.

- Fahmi Saimima, Ketua Umum Bike to Work Indonesia -

Sejumlah kendaraan terjebak macet di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Kesadaran masyarakat Indonesia untuk beraktivitas dengan sepeda masih minim. Berdasarkan survei Bike to Work Indonesia, kira-kira hanya ada 10 hingga 15 persen pesepeda di akhir pekan yang memang menggunakan sepeda untuk beraktivitas sehari-hari.

Bike to Work Indonesia menegaskan bahwa mereka hendak menyadarkan masyarakat bahwa sepeda dapat dipakai untuk aktivitas apa pun, mulai dari belanja ke warung hingga pergi ke sekolah, dan tak hanya untuk pergi berangkat kerja (to work).

Meski kesadaran masyarakat untuk beraktivitas dengan sepeda masih minim, Fahmi menganggap bahwa tren bersepeda akhir pekan yang lagi booming belakangan dapat menjadi momentum agar lebih banyak orang mencintai alat transportasi tersebut.

“Apakah memang misalnya masyarakat masih menganggap sepeda sebagai alat rekreasi? Iya, enggak apa-apa. Karena memang sejatinya sepeda adalah simbol kegembiraan,” ujar Fahmi. “Kalau nanti ke depannya dia sudah bergembira dan sudah merasa sepeda adalah sahabat terbaiknya, pasti akan dibawa ke mana-mana.”

video youtube embed

Program Bike to Work Indonesia

Bike to Work Indonesia sendiri memiliki lima program untuk mengampanyekan penggunaan sepeda serta memberdayakan pesepeda dan masyarakat. Kelima program ini, yang disebut Fahmi sebagai “empat sehat, lima sepeda”, termasuk program advokasi, program edukasi, program sosial, program kampanye, dan program kolaborasi dengan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah).

Melalui program-program tersebut, Bike to Work Indonesia hendak mengedukasi masyarakat untuk bersepeda dengan baik dan benar. Mereka juga memperjuangkan hak para pesepeda, mulai dari berunding dengan pemerintah untuk membuat kebijakan ramah pesepeda hingga advokasi pesepeda yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

instagram embed

Tak hanya bagi komunitas sepeda, Bike to Work Indonesia hendak memberdayakan masyarakat. Pada 2019 lalu, misalnya, mereka membagikan 1.000 sepeda bagi anak yatim piatu, golongan tidak mampu, hingga para pedagang kecil yang mencari nafkah dengan sepeda.

Pada akhirnya, Bike to Work Indonesia juga membuka program kolaborasi bagi UMKM dengan menyediakan saluran penjualan di pusat komunitas Rumah Sepeda Indonesia, kafe, hingga warung.

“Jadi, empat platform ditambah satu kolaborasi bagi kami ini adalah simbol perjuangan, pergerakan B2W sebagai social movement,” tambahnya.

Di tengah momen Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76, Fahmi berharap agar Indonesia dapat menjunjung keadilan bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian, kita dapat memberdayakan masyarakat dan menjaga lingkungan tetap sehat.

Harapan kami dari Bike to Work Indonesia kepada bangsa Indonesia, semoga bangsa Indonesia lebih menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman, nilai-nilai kebersamaan, dan juga nilai-nilai junjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh masyarakat. Di mana kami para pesepeda, orang-orang yang berhasrat untuk sehat, untuk menjadikan sepeda sebagai solusi transportasi, untuk menjadikan sepeda wujud rekreasi, untuk menjadikan sepeda sebagai bentuk dari peradaban manusia yang modern, peradaban manusia yang sayang akan bangsanya di masa yang akan datang.

Fahmi Saimima, Ketua Umum Bike to Work Indonesia