kumparan
Tekno & Sains4 Februari 2020 16:08

Google Garap Kecerdasan Buatan untuk Deteksi Kanker Payudara

Konten Redaksi kumparan
Google
Perusahaan teknologi Google. Foto: Arnd Wiegmann/Reuters
Ada dua jenis kanker yang paling banyak diidap perempuan Indonesia, yakni kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks). Merujuk data Kementerian Kesehatan Indonesia per 31 Januari 2019, angka prevalensi perempuan penderita kanker payudara menjadi yang tertinggi dibanding kanker jenis lain, yaitu 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.
ADVERTISEMENT
Kanker payudara memang menjadi jenis kanker yang paling umum menyerang kaum wanita di seluruh dunia. Selama 2012 saja, ada sekitar 1,7 juta wanita didiagnosis menderita kanker payudara. Tak pelak, tindakan pencegahan dan pengobatan menjadi fokus para ilmuwan dan praktisi medis. Termasuk dalam mendeteksi kanker payudara yang hingga kini masih menemukan sejumlah tantangan, semisal untuk mencapai hasil akurat.
Metode pendeteksian paling umum yakni mamografi digital, misalnya, terkadang memunculkan hasil yang tidak akurat. Mamografi dilakukan dengan pencitraan sinar-X pada payudara dan kekeliruan kerap terjadi saat dokter membaca hasil pemindaian. Celah ini berusaha diisi oleh Google lewat divisi kesehatannya, Google Health, dengan mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendeteksi kanker payudara.
ADVERTISEMENT
“Masih banyak hasil pemindaian yang disebut positif palsu dan negatif palsu. Positif palsu adalah ketika seorang ahli atau spesialis menemukan tanda kanker pada gambar, padahal sebenarnya bukan kanker. Hal itu dapat berujung pada banyaknya pemeriksaan dan prosedur yang tidak perlu,” ujar Daniel Tse, Product Manager Google Health, dalam sesi Roundtable Virtual dengan awak media di kantor Google Indonesia, Jakarta, Selasa (4/2).
Ilustrasi Kanker Payudara
Ilustrasi kanker payudara. Foto: Shutterstock/siam.pukkato
Daniel menambahkan, masalah berikutnya adalah ketika mamografi memberikan hasil negatif palsu. Dalam artian, ahli radiologi gagal membaca tanda kanker dalam hasil pemindaian, sehingga memvonis hasil pemeriksaan negatif. Kekeliruan semacam itu bisa berakibat tak dilakukannya pengobatan yang diperlukan pasien, atau penderita baru mengetahui penyakitnya ketika kanker sudah mencapai stadium lanjut.
ADVERTISEMENT

Deteksi yang lebih akurat

Bagaimanapun, perlu dicatat bahwa membaca hasil mamografi sangatlah sulit, meski dilakukan oleh para ahli sekalipun. Membaca tantangan tersebut, Daniel dan rekannya, Shravya Shetty, bermitra dengan DeepMind, Cancer Research UK Imperial Centre, Northwestern University, serta Royal Surrey County Hospital, dalam mengembangkan model AI untuk mendeteksi kanker payudara dengan lebih akurat.
Algoritma AI buatan Google ini dilaporkan memiliki hasil yang lebih akurat setelah diaplikasikan untuk membaca hasil mamografi 25.000 perempuan di Inggris dan lebih dari 3.000 perempuan di Amerika Serikat. Dalam evaluasi tersebut, sistem AI Google memperoleh hasil penurunan positif palsu sebesar 5,7 persen/1,2 persen dan penurunan negatif palsu sebesar 9,4 persen/2,7 persen.
Logo Google
Logo Google Foto: REUTERS/Thomas Peter
Peneliti juga melakukan evaluasi pada set data terpisah untuk menguji apakah model ini dapat diterapkan secara lebih umum ke sistem perawatan kesehatan lainnya. Model AI itu dilatih menganalisis hanya data dari perempuan di Inggris, dan kemudian mengevaluasinya pada set data dari perempuan di AS. Dalam percobaan terpisah ini, ada penurunan positif palsu sebesar 3,5 persen dan penurunan negatif palsu sebesar 8,1 persen.
ADVERTISEMENT
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa model AI berpotensi diterapkan secara lebih umum untuk penggunaan di bidang klinis baru. Sedangkan dalam waktu bersamaan tetap memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan pembacaan manual oleh ahli radiologi.
Kanker Payudara
Ilustrasi kanker payudara. Foto: Pixabay
Kendati begitu, Shravya Shetty selaku Senior Staff Software Engineer Google Health, menekankan kehadiran teknologi AI besutan Google ini tidak akan menggeser peran dokter sepenuhnya. Justru, dokter dan kecerdasan buatan dapat saling mendampingi. Dalam penelitian tahap selanjutnya, hal ini bakal menjadi fokus, termasuk bagaimana model AI dapat tersedia dan digunakan oleh para dokter.
“Jadi kayak semacam kombinasi, idealnya semacam kombinasi, bukan salah satunya. Itu yang harus digunakan sebagai alat buat dokter juga supaya mereka misalnya ada kekurangan radiologist,” papar Jason Tedjasukmana, selaku Head of Corporate Communication Google Indonesia, ditemui di tempat yang sama.
ADVERTISEMENT
Adapun hasil temuan awal ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature. Terkait penerapan model kecerdasan buatan di masa depan, peneliti melihat model AI berpotensi meningkatkan akurasi dan efisiensi program pendeteksian kanker payudara, mengurangi waktu tunggu pemeriksaan, dan mengurangi tingkat stres pasien.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan