Kumparan Logo

Ilmuwan Bikin Makanan Hibrida, Suntik Daging Sapi di Butiran Beras

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nasi hibrida campuran daging sapi.  Foto: Yonsei University
zoom-in-whitePerbesar
Nasi hibrida campuran daging sapi. Foto: Yonsei University

Ketika populasi dunia terus bertambah, dampak terhadap lingkungan juga meningkat. Sebab, produksi pangan termasuk permintaan daging akan mengalami peningkatan. Ini membuat penggunaan lahan yang dibutuhkan untuk budidaya ternak semakin luas, dan tentu saja bisa merusak alam.

Oleh sebab itu, para peneliti akhirnya membuat inovasi baru dengan membuat daging yang dibudidayakan di laboratorium untuk mengurangi tekanan pangan dan kerusakan lingkungan. Baru-baru ini, ilmuwan dari Korea Selatan berhasil menciptakan makanan hibrida yang terdiri dari sel-sel lemak sapi dan otot yang ditanam di dalam butiran beras.

Hasilnya, makanan itu menyerupai kombinasi aneh daging cincang dan nasi, butiran lengket berwarna merah muda. Menurut tim yang dipimpin oleh insinyur biomolekuler, Sohyeon Park, dari Yonsei University, makanan ini kaya akan nutrisi meski untuk membuatnya tidak semudah menanak nasi biasa. Namun, dia yakin bahwa suatu saat nanti makanan hibrida daging dan nasi ini dapat mengurangi tekanan pangan di masa depan.

“Bayangkan memperoleh semua nutrisi yang kita perlukan dari beras protein hasil kultur sel,” kata Park. “Beras sudah memiliki tingkat nutrisi yang tinggi, namun menambahkan sel dari ternak dapat meningkatkannya lebih lanjut.”

Nasi hibrida daging sapi yang ditumbuhkan di laboratorium. Foto: Yonsei University

Beras mengandung sekitar 80 persen pati, dan 20 persen sisanya berupa protein dan nutrisi lainnya. Ini adalah makanan pokok yang sangat baik. Namun, peneliti ingin menciptakan nasi hibrida dengan manfaat lebih besar dari nasi biasa. Di sinilah mereka menciptakan nasi daging sapi.

Cara bikinnya begini: Dalam sistem biologis, sel memerlukan perancah yang membentuk jaringan seiring pertumbuhannya. Di laboratorium, para ilmuwan sering menggunakan matriks buatan untuk berbagi jaringan dan organ. Park dan rekannya berpendapat, karena beras sangat berpori, maka dia juga dapat melakukan fungsi yang sama, yakni bertindak sebagai perancah di mana sel-sel hewan yang dikembangkan di laboratorium dapat dibangun menjadi jaringan.

Pertama, mereka melapisi butiran beras dengan gelatin ikan dan enzim makanan supaya sel dapat menempel dan tubuh di beras. Mereka kemudian menyemai butiran beras dengan sel induk otot dan lemak sapi, dan membiarkannya tumbuh dalam cawan petri selama 9 hingga 11 hari.

Di akhir masa budidaya, peneliti menguji beras tersebut untuk mempelajari struktur dan kandungan nutrisinya. Mereka menemukan bahwa beras hibrida daging sapi lebih keras dan rapuh dibandingkan beras biasa.

Kandungan nasi hibrida. Foto: Yonsei University

Yang lebih penting adalah, bagaimana kandungan nutrisi beras berubah. Beras hibrida memiliki kandungan protein dan lemak yang jauh lebih tinggi, sekitar 8 persen lebih banyak protein dan 7 persen lebih banyak lemak dibandingkan dengan beras biasa.

Jumlahnya mungkin tidak terlalu jauh, namun dengan berbagai penyesuaian, kandungan nutrisi ini bisa ditingkatkan jauh lebih tinggi lagi. Selain itu, produksi beras daging sapi juga lebih murah dibandingkan daging sapi per gram protein, baik dari segi emisi maupun uang.

Menurut perhitungan tim, produksi padi hibrida menghasilkan 6,37 kilogram karbon dioksida per 100 gram protein. Daging sapi melepaskan 49,89 kilogram karbon dioksida per 100 gram protein. Dan biaya beras hibrida bagi konsumen adalah sekitar 15 persen dan harga daging sapi per kilogram.

Perubahan pada rasa nasi juga menjadi hal yang menarik. Tim menemukan bahwa otot dan lemak daging sapi menambah senyawa bau berbeda pada nasi yang bisa bikin nafsu makan bertambah. Yang tersisa saat ini adalah menyempurnakan proses produksi untuk mengurangi waktu yang diperlukan dalam pembuatan padi hibrida.

“Saya tidak menyangka sel-sel tersebut tumbuh dengan baik di dalam beras,” kata Park. “Sekarang saya melihat banyak sekali kemungkinan untuk makanan hibrida berbahan dasar biji-bijian ini. Suatu hari nanti bisa berfungsi sebagai bantuan pangan untuk kelaparan, ransum militer, atau bahkan makanan luar angkasa.”