Ilmuwan Latih Sel Otak Manusia Main Game Doom di Chip Komputer
ยทwaktu baca 3 menit

Para peneliti di Australia berhasil melatih sel otak manusia yang ditumbuhkan di dalam laboratorium untuk memainkan game shooter legendaris era 90-an, "Doom". Proyek inovatif ini dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Cortical Labs menggunakan sistem jaringan saraf otak asli yang diintegrasikan ke dalam chip komputer silikon.
Teknologi yang disebut sebagai "komputer biologis" ini menggunakan chip khusus bernama CL1 yang ditanami sekitar 200.000 sel otak manusia hidup. Sel-sel saraf (neuron) tersebut ditumbuhkan dari sel punca (stem cells) yang diperoleh dari hasil donor darah.
Sebelum mencoba game "Doom", sel-sel otak ini telah lebih dulu menguasai game sederhana "Pong". Namun, "Doom" menghadirkan tantangan yang jauh lebih rumit karena memiliki lingkungan tiga dimensi (3D) yang dinamis, di mana pemain harus menjelajahi area dan menembak musuh.
Senior Application Scientist di Cortical Labs, Alon Loeffler, mengungkapkan pada awalnya sel-sel otak tersebut bermain layaknya seorang pemula yang belum pernah menyentuh video game sama sekali.
"Mereka sering menabrak dinding, menembak tembok, berputar-putar, dan melakukan hal-hal aneh lainnya," ujar Loeffler kepada AFP. "Namun, lama-kelamaan mereka mulai bisa membidik musuh dengan lebih rutin dan tepat."
Meski eksekusinya belum sepenuhnya mulus dan terkadang membutuhkan beberapa kali percobaan tembakan untuk mengalahkan musuh, penelitian ini membuktikan bahwa sel saraf tersebut mampu beradaptasi dengan rangsangan secara real-time serta melakukan pembelajaran berbasis tujuan.
Untuk melatihnya, para peneliti menerjemahkan lingkungan digital di dalam game "Doom" menjadi pola sinyal listrik yang dapat dipahami oleh neuron pada chip CL1.
Ketika musuh muncul di layar, elektroda khusus akan merangsang sel saraf agar memberikan respons aktivitas listrik tertentu, yang kemudian diterjemahkan menjadi tindakan di dalam game, seperti menembak atau bergerak.
Chief Scientific and Operations Officer Cortical Labs, Brett Kagan, menyebutkan potensi chip CL1 ini jauh melampaui sekadar bermain game. Ke depan, chip hibrida ini dapat diprogram untuk berbagai kebutuhan, mulai dari uji coba obat, pemodelan penyakit, robotika, hingga pembelajaran mesin yang mirip dengan AI.
Selain itu, chip biologis ini dinilai menawarkan bentuk kecerdasan yang jauh lebih hemat energi. Sebagai gambaran, otak manusia hanya membutuhkan daya sekitar 20 watt untuk beroperasi, tingkat efisiensi energi yang sangat tinggi dan belum mampu ditiru oleh komputer silikon maupun sistem kecerdasan buatan modern yang terkenal boros listrik.
Saat ini, sel-sel otak tersebut baru memiliki masa hidup sekitar enam bulan dan belum bisa menghasilkan kinerja pemrograman yang sepenuhnya konsisten. Namun, para analis menilai proyek ini sebagai langkah nyata menuju efisiensi teknologi masa depan.
"Ini bukan sains aneh atau sekadar klaim tanpa dasar. Ini adalah sains nyata dan perkembangannya sangat riil," pungkas William Keating, CEO dari perusahaan riset semikonduktor Ingenuity.
