Kumparan Logo

Ilmuwan Temukan Bukti Kehidupan Planet Mars yang Tersembunyi di Antartika

kumparanSAINSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Permukaan detail Planet Mars.  Foto: NASA/JPL-Caltech/MSSS
zoom-in-whitePerbesar
Permukaan detail Planet Mars. Foto: NASA/JPL-Caltech/MSSS

Tim ilmuwan asal Jepang menemukan kandungan nitrogen dan karbon dalam jumlah besar pada meteorit dari Planet Mars yang ditemukan di Antartika. Nitrogen dan karbon yang merupakan unsur penting adanya kehidupan tersebut diperkirakan berasal dari laut kuno di Mars.

Meteorit berusia 4 miliar tahun itu jatuh ke Antartika sekitar 15 juta tahun yang lalu. Namun meteorit itu baru ditemukan oleh tim ilmuwan pada tahun 1984.

Sejak saat itu para ilmuwan memperdebatkan asal muasal senyawa organik yang terkandung pada meteorit yang diberi nama Allan Hills 84001 itu. Kontroversi yang muncul adalah mengenai apakah senyawa organik tersebut berasal dari Mars atau merupakan hasil kontaminasi dengan organisme Bumi.

Salah satu klaim kontroversial menyebut meteorit tersebut memiliki bukti kehidupan di Planet Mars yang tersembunyi di dalam bebatuan.

Salju di Antartika. Foto: euphro via Wikimedia Commons

Selama ini, para ilmuwan tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa kandungan meteorit tersebut telah terkontaminasi senyawa organik dari Antartika selama ratusan tahun tersimpan dalam es. Kemungkinan lain, meteorit telah terkontaminasi senyawa organik yang terdapat pada laboratorium.

Namun penelitian termutakhir tim ilmuwan Jepang membantah sejumlah kemungkinan tersebut.

Hasil penelitian tim ilmuwan Jepang yang diterbitkan di jurnal Nature Communications memastikan bahwa senyawa organik pada meteorit tersebut memang berasal dari Mars. Untuk pertama kali, mereka menunjukkan meteorit itu mengandung senyawa nitrogen organik.

Senyawa organik nitrogen tersebut serupa dengan nitrogen yang berasal dari Bumi sehingga menunjukkan kemungkinan kehidupan di Mars. Sebagian besar nitrogen yang ditemukan di Mars terkunci dalam gas nitrogen inert (N2) atau pada senyawa kimia dari tanah di Mars.

Penelitian meteorit tersebut dilakukan di sebuah laboratorium class-100 dengan sistem pengontrol aliran udara untuk menjaga partikel agar tidak mengambang.

Batu meteorit berusia 4,6 miliar tahun, memiliki densitas dan berat yang lebih besar dibanding batu biasa. Foto: Museums Victoria

Di laboratorium tersebut, tim ilmuwan mengeluarkan partikel kecil karbonat yang mengandung senyawa organik dari meteorit tersebut. Kemudian, para ilmuwan menghilangkan senyawa yang mengkontaminasi permukaan partikel meteorit tersebut menggunakan sinar yang mengandung molekul, atau ion.

Para ilmuwan berpendapat material yang terkandung di bawah lapisan permukaan partikel meteorit itu mengandung molekul organik yang bukan berasal dari kontaminasi organisme di Bumi.

Mereka menemukan bahwa meteorit tersebut mengandung senyawa nitrogen organik level tinggi sejak jatuh ke bumi. Menurut mereka, kecil kemungkinan kandungan senyawa nitrogen tingkat tinggi tersebut diakibatkan kontaminasi dari es Antartika.

embed from external kumparan

Tim ilmuwan juga menemukan bahwa senyawa karbonat yang terdapat pada meteorit tersebut terbentuk di dalam air. Senyawa karbonat seperti limestone dan calcite diperkirakan berasal dari sisa-sisa sumber air kuno yang mengering. Mereka berpendapat, bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa senyawa nitrogen organik banyak ditemukan di lautan kuno Mars.

“Itu adalah penemuan penting karena nitrogen merupakan elemen esensial bagi seluruh kehidupan di bumi karena senyawa itu diperlukan protein, DNA, RNA, dan materi vital kehidupan lain,” tulis tim ilmuwan, seperti diberitakan Live Science.

Temuan tersebut sesuai dengan sejumlah bukti lain yang ditemukan NASA. Dua wahana antariksa NASA, Curiosity Rover dan Viking Landers, sebelumnya menemukan jejak material organik pada permukaan Mars. Namun, instrumen yang terdapat pada wahana tersebut tidak dapat menentukan dari mana dan bagaimana material organik tersebut terbentuk.

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.