Kumparan Logo

Ilmuwan Temukan Cara Baca Pikiran Ubur-ubur yang Tidak Punya Otak

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ubur-ubur pink Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ubur-ubur pink Foto: Shutter Stock

Meski ubur-ubur tidak punya otak, para ilmuwan telah menemukan cara untuk membaca pikiran mereka, yakni lewat bicara.

Dengan sedikit meneliti genetik, sekarang kita bisa melihat bagaimana neuron ubur-ubur tembus pandang bekerja sama untuk membuat gerakan otonom yang kompleks, seperti mengambil dan memakan mangsa.

Clytia hemisphaerica adalah hewan yang sempurna untuk dijadikan model penelitian, termasuk mempelajari perilaku mereka. Karena spesies ubur-ubur ini sangat kecil, hanya berdiameter satu centimeter, seluruh sistem sarafnya dapat dengan mudah dipindai di bawah mikroskop.

Genom C. hemisphaerica juga cukup sederhana, dan tubuhnya yang transparan hanya berisi sekitar 10.000 neuron. Ini membuat peneliti lebih mudah meneliti pesan saraf yang dikeluarkan ubur-ubur.

Para peneliti latansa memodifikasi ubur-ubur C. hemisphaerica secara genetik sehingga neuron mereka akan memancarkan sinar ketika aktif, mereka menemukan tingkat struktur saraf yang tidak terduga.

Sistem saraf ubur-ubur berkembang lebih dari 500 juta tahun yang lalu dan hanya sedikit mengalami perubahan. Dibandingkan dengan otak hewan saat ini, neuron ubur-ubur disusun dengan cara yang lebih sederhana.

Neuron ubur-ubur di setiap sisi tampak sebagai titik bercahaya. Foto: Weissbourd/DeGiorgis

Tidak ada sistem pusat seperti otak untuk mengoordinasikan gerakan tubuh. Jadi, bagaimana hewan mungil ini memerintahkan tubuhnya?

Untuk mengetahuinya, para peneliti meletakkan neuron C. hemisphaerica dalam sebuah jaringan yang mencerminkan tubuhnya. Neuron ini dibagi lagi menjadi irisan, sama seperti kue. Setiap tentakel ubur-ubur terhubung pada salah satu irisan neuron. Jadi, ketika lengan ubur-ubur mendeteksi dan menangkap mangsa seperti udang, salah satu irisan neuron akan aktif.

Pertama, irisan neuron akan mengirimkan pesan ke neuron lain yang ada di tengah, tempat mulut ubur-ubur berada. Hal ini menyebabkan ujung irisan dan tentakel akan bergerak menuju mulut. Dari sini peneliti menemukan, 96 persen ubur-ubur mencoba mengirim makanan ini dan 88 persen di antaranya berhasil. Hampir semua udang air asin yang tertangkap dimakan ubur-ubur.

Untuk mengetahui neuron mana yang memicu efek domino tersebut, peneliti menghapus jenis neuron yang disebut RFa+. Hasilnya, tentakel ubur-ubur yang mendeteksi udang tidak bisa bergerak ke mulut untuk dimakan.

Spesies baru ubur-ubur sisir yang ditemukan robot tanpa awak Deep Discoverer. Foto: NOAA

Untuk melihat bagaimana neuron pengontrol mulut berkomunikasi dengan neuron tentakel dan sebaliknya, para peneliti mulai melakukan pembedahan untuk mengangkat bagian tubuh tertentu.

Ketika mulut ubur-ubur diangkat, ubur-ubur tetap berusaha memasukkan makanan dari tentakel ke mulutnya yang tidak ada. Bahkan ketika tentakel ubur-ubur dihilangkan, ekstrak kimia udang masih bisa memicu mulut ubur-ubur untuk bergerak ke sumber makanan.

Ini menunjukkan bahwa perilaku ubur-ubur tertentu diatur oleh sejumlah neuron yang terorganisir secara fungsional. Jaringan saraf yang menghubungkan tentakel ubur-ubur ke mulutnya, juga bisa terhubung ke sistem pencernaan.

Penelitian juga mengungkapkan, ketika ubur-ubur kelaparan, mereka akan menangkap mangsa lebih cepat dari biasanya. Ini menunjukkan adanya semacam komunikasi antar saraf yang membuat ubur-ubur tahu bahwa ia perlu mengisi perutnya.

"Jika pandangan hierarkis ini benar, perilaku terkoordinasi pada organisme yang tidak memiliki otak pusat mungkin telah muncul dengan duplikasi dan modifikasi modul otonom yang lebih kecil untuk membentuk modul super yang berinteraksi secara fungsional," tulis para peneliti.