Ilmuwan Temukan Lebih dari 190 Ribu Virus Baru di Lautan Dunia

Laut ternyata masih menyimpan banyak misteri. Sekelompok ilmuwan bahkan menemukan 195.728 virus baru di laut yang belum teridentifikasi.
Mikroorganisme baru ini ditemukan setelah tim peneliti dari Ohio State University di AS, KU Leuven-University of Leuven di Belgia, ETH Zurich di Swiss, dan Université Paris-Saclay di Prancis melakukan ekspedisi dari Kutub Utara hingga Kutub Selatan untuk meriset kehidupan di bawah laut. Studi ini sendiri telah dipublikasikan di jurnal Cell pada 25 April 2019.
Menurut para periset, sebagian besar dari penemuannya memang belum pernah dilihat sebelumnya. Mereka berkata, temuan ini dapat mengajarkan banyak hal, mulai dari evolusi kehidupan di planet ini hingga konsekuensi potensi dari perubahan iklim.
Penelitian ini didasrkan pada sampel yang dikumpulkan oleh awak kapal Tara pada 2009 hingga 2013. Kapal ini sendiri telah menghabiskan lebih dari satu dekade di laut untuk menyelidiki samudra dan mencari petunjuk yang bisa menginformasikan bagaimana Bumi ini berkembang.
"Virus adalah hal-hal kecil yang bahkan tidak dapat Anda lihat, tetapi karena mereka hadir dalam jumlah yang sangat besar, mereka sangat berarti," kata ahli mikrobiologi dari Ohio State University, Matthew Sullivan, seperti dikutip Science Alert. "Kami telah mengembangkan peta distribusi yang mendasar bagi siapa saja yang ingin mempelajari bagaimana virus memanipulasi ekosistem. Ada banyak hal yang mengejutkan tentang temuan kami."
Walau virus yang baru ditemukan ini dalam jumlah besar dan kompleksnya luas wilayah lautan dunia, tim periset berhasil membagi temuannya ini menjadi lima zona ekologis: Samudra Arktika dan Samudra Antarktika, serta tiga lautan dalam yang masuk daerah iklim hangat dan tropis.
Khusus Samudra Arktika, ternyata di sana menjadi lokasi terbanyak ditemukannya kehidupan yang tak terduga. Hal ini menambah pemahaman manusia tentang bagaimana virus menyebar di Bumi.
Para ilmuwan memperkirakan ada puluhan juta virus di lautan, dengan banyak yang juga mungkin ada selain di laut serta di tubuh kita sendiri. Mengidentifikasi mereka dapat mengajarkan lebih banyak kehidupan itu sendiri.
Untuk kebutuhan penelitian ini, serta menemukan virus baru yang didapat dari sampel air dari kedalaman hingga 4.000 meter, para peneliti juga mengidentifikasi jenis mikroba dan makhluk lain di laut.
Semakin banyak kehidupan di bawah laut, maka semakin banyak CO2 yang dikonversi menjadi karbon organik dan biomassa tersimpan di dalam laut. Ini adalah mekanisme yang rumit.
"Memiliki peta baru di mana letak virus ini berada dapat membantu kita memahami pompa karbon laut ini dan, secara lebih luas, biogeokimia yang berdampak pada planet ini," ucap Sullivan. "Model ekosistem lautan sebelumnya umumnya mengabaikan mikroba, dan jarang memasukkan virus, tetapi kita sekarang tahu mereka adalah komponen penting untuk dimasukkan."
