Kumparan Logo

Ilmuwan Tidak Yakin Pasien Sembuh COVID-19 Bisa Kebal dari Corona

kumparanSAINSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas kesehatan menghadiri penghormatan untuk rekan kerja mereka Esteban yang meninggal karena virus corona di RS Severo Ochoa di Spanyol, Senin (13/4). Foto: REUTERS / Susana Vera
zoom-in-whitePerbesar
Petugas kesehatan menghadiri penghormatan untuk rekan kerja mereka Esteban yang meninggal karena virus corona di RS Severo Ochoa di Spanyol, Senin (13/4). Foto: REUTERS / Susana Vera

Sekitar empat bulan sejak pertama kali kemunculannya, masih ada satu pertanyaan penting terkait virus corona SARS-CoV-2 yang belum terjawab. Apakah mereka yang telah sembuh selanjutnya akan kebal dari virus tersebut?

Hingga kini, masih belum ada jawaban yang jelas terkait pertanyaan tersebut. Meski banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa sembuh dari penyakit COVID-19 (yang disebabkan SARS-CoV-2) bisa memberikan kekebalan, tapi itu belum ada jaminannya.

"Menjadi imun (terhadap suatu penyakit) tandanya Anda telah mengembangkan respons imun terhadap suatu virus dan menangkalnya," jelas Eric Vivier, seorang profesor imunologi di sistem rumah sakit publik di Marseille, Prancis.

"Sistem imun kita mengingat, yang secara normal mencegah Anda terinfeksi kembali virus yang sama setelahnya," sambungnya.

Tim medis membantu melepas alat pernafasan pasien corona sebelum video call dengan kerabat. Foto: REUTERS/Flavio Lo Scalzo

Untuk sejumlah penyakit yang disebabkan virus seperti campak, bisa sembuh dari penyakit tersebut akan memberikan imunitas seumur hidup.

Tapi untuk virus berbasis RNA seperti SARS-CoV-2, butuh waktu tiga pekan untuk membangun kuantitas antibodi yang dibutuhkan dan bahkan perlindungannya hanya bisa selama beberapa bulan saja.

Meski begitu, teori dari Vivier itu belum mampu menjawab sepenuhnya pertanyaan utama di atas. Para ahli virologi dan epidemiologi masih belum yakin bagaimana memastikan hal ini.

"Kami belum memiliki jawabannya, belum diketahui," ujar Michael Ryan, Direktur Eksekutif dari WHO, soal berapa lama pasien sembuh COVID-19 bisa mendapatkan kekebalan terhadap virus corona.

"Kami bisa memperkirakan periode perlindungan yang paling masuk akal, tapi itu masih sulit diungkap pada virus baru ini, kami hanya bisa memprediksinya melalui virus corona lain, dan bahkan datanya masih terbatas," jelas Ryan.

Warga di Moskow saat wabah virus corona mendera. Foto: Reuters/Evgenia Novozhenina

Penyakit SARS, yang disebabkan virus corona SARS-CoV, membunuh sekitar 800 orang di dunia pada 2002 dan 2003 silam. Orang-orang yang berhasil sembuh dari penyakit itu mendapat kekebalan selama sekitar tiga tahun, untuk rata-ratanya. Hal itu disampaikan oleh Direktur Genetics Institute di University College London, Francois Balloux, dilansir AFP.

"Satu bisa saja terinfeksi lagi, tapi setelah berapa lama? Kita hanya tahu retroaktif," ujarnya.

embed from external kumparan
kumparan post embed

Hasil negatif palsu

Ada beberapa kasus yang melaporkan pasien sembuh COVID-19 ternyata bisa kembali dinyatakan positif virus corona. Di Korea Selatan, ada 160 pasien yang kembali terinfeksi virus tersebut walau sebelumnya telah dinyatakan negatif.

Menurut Balloux, sebenarnya masih sedikit bukti yang bisa mengatakan bahwa pasien COVID-19 yang telah sembuh bisa terinfeksi kembali. Ia berpendapat, virus itu sebenarnya tidak sepenuhnya hilang dari tubuh si pasien, melainkan tidak aktif dan tidak menunjukkan gejala.

Selain itu, di kala pengujian untuk virus dan antibodi belum benar-benar sempurna, ada kemungkinan pasien-pasien di Korea tersebut mendapatkan hasil negatif palsu dan faktanya virus masih bersemayam dalam tubuh mereka.

"Itu berarti orang-orang itu masih terinfeksi untuk waktu yang lama, beberapa minggu. Itu tidak ideal," ujar Balloux.

Kerabat mengenakan alat pelindung bersiap untuk mengubur jenazah pasien corona di New Delhi, ndia, Selasa (14/4). Foto: REUTERS/Danish Siddiqui

Sebuah studi di MedRxiv dan belum di-peer review, menganalisis 175 pasien sembuh COVID-19 di Shanghai, China. Mereka menunjukkan konsentrasi antibodi yang berbeda 10 hingga 15 hari setelah gejala muncul.

Technical Lead dari WHO Emergencies Programme, Maria Van Kerhove, mengomentari studi tersebut. Ia berkata respons antibodi dalam hal itu adalah pertanyaan yang berbeda dengan imunitas.

"Ada sesuatu yang harus kita pahami, seperti apa respons antibodi itu dalam hal imunitas," ujar Van Kerhove.

Saat ini, para ilmuwan masih berada dalam tahap memastikan apakah pasien sembuh virus corona benar-benar mendapatkan imunitas atau tidak.

***

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.