Ilmuwan: Virus HPV Bisa Picu Kanker Kulit Agresif
ยทwaktu baca 2 menit

Sebuah studi menemukan bukti terbaru, jenis umum human papillomavirus (HPV) bisa lebih berbahaya dari yang kita duga. Virus yang dikenal sebagai beta-HPV, diduga dalam kasus langka berkontribusi terhadap kanker kulit.
Penelitian yang dipublikasi di The New England Journal of Medicine, mengungkapkan bahwa virus ini sebenarnya dapat membajak sel-sel tubuh untuk secara langsung memicu pertumbuhan kanker.
Hasil ini terungkap dari sebuah studi terhadap seorang wanita berusia 34 tahun yang mencari pertolongan medis untuk cutaneous squamous cell carcinoma (cSCC) yang merupakan jenis kanker kulit yang telah tumbuh melampaui epidermis, dalam kasus ini tumbuh di di dahinya.
Tumornya terus tumbuh kembali, bahkan setelah imunoterapi dan operasi. Analisis genetik yang lebih dekat mengungkapkan, beta-HPV sebenarnya telah mengintegrasikan dirinya ke dalam DNA tumor wanita itu, tempat ia menghasilkan protein virus yang membantu kanker berkembang.
Sebelumnya, beta-HPV belum pernah ditemukan berintegrasi ke dalam DNA seluler, apalagi secara aktif mempertahankan kanker.
"Hal ini menunjukkan bahwa mungkin ada lebih banyak orang di luar sana yang mengidap cSCC agresif yang memiliki kelainan imunitas yang mendasarinya dan dapat memperoleh manfaat dari pengobatan yang menargetkan sistem imun," kata imunolog, Andrea Lisco dari Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS (NIAID), dikutip ScienceAlert.
Wanita yang menjadi subjek penelitian ini memiliki kelainan kekebalan tubuh yang diwariskan, yaitu kelainan yang mencegah sel T-nya (jenis sel darah putih yang disebut limfosit) menyerang HPV.
Sementara tes mengungkapkan bahwa sistem kekebalan wanita itu masih dapat memperbaiki kerusakan DNA akibat radiasi UV. Penyebab umum cSCC, yaitu kerusakan sel T membuat beta-HPV dapat menyerang sel-sel kulitnya dan memicu pembentukan kanker.
Setelah penyebab kondisinya ditemukan, pasien ini menerima transplantasi sel punca sumsum tulang untuk mengganti sel T yang tidak berfungsi dengan sel T yang sehat. Transplantasi ini berhasil membersihkan kanker kulit agresif dan masalah lain yang disebabkan oleh HPV termasuk kutil pada kulit dan mulut.
Adanya studi ini sama sekali tidak meremehkan peran radiasi UV sebagai penyebab kanker kulit, tetapi menunjukkan adanya faktor lain yang turut berperan.
Dalam kasus langka seperti ini, virus yang biasanya jinak dapat menimbulkan dampak yang menghancurkan pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Alpha-HPV dikenal sebagai penyebab kanker serviks dan tenggorokan, namun vaksinasi yang meluas terhadap virus ini telah menghasilkan penurunan yang drastis terhadap angka kematian akibat kanker tersebut.
"Penemuan ini dapat sepenuhnya mengubah cara kita berpikir tentang perkembangannya, akibatnya, dan pengobatan cSCC pada orang yang memiliki kondisi Kesehatan yang mengganggu fungsi kekebalan tubuh," ujar Lisco.
