Kumparan Logo

Indonesia Negara dengan Hoaks dan Teori Konspirasi Corona Terbanyak

kumparanSAINSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi hoaks Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hoaks Foto: Shutterstock

Hoaks dan informasi keliru terkait virus corona secara harfiah dapat membunuh seseorang. Menurut studi terbaru, ratusan orang di seluruh dunia meninggal akibat informasi yang keliru, di mana ribuan lainnya hampir tewas berdasarkan penyebab yang sama. Ironisnya, Indonesia adalah salah satu negara yang paling banyak ditemukan informasi hoaks tentang corona.

Baik rumor, stigma, dan teori konspirasi memang jadi masalah tersendiri di saat pandemi virus corona. Para ahli mengategorikan misinformasi semacam itu dengan istilah 'infodemik', yang merujuk pada kondisi di mana publik tak lagi dapat menemukan sumber terpercaya untuk pegangan mereka akibat kelimpahan informasi.

Namun, infodemik nyatanya tak hanya urusan bagaimana manusia memahami informasi yang benar. Ia juga bisa mengancam nyawa manusia itu sendiri secara langsung.

Dalam sebuah studi studi yang diterbitkan American Journal of Tropical Medicine and Hygiene pada 10 Agustus 2020, para peneliti menemukan bahwa setidaknya ada 800 orang yang meninggal akibat informasi keliru saat pandemi corona. Para peneliti juga menemukan, setidaknya ada 5.876 orang yang dirawat di rumah sakit akibat informasi palsu di media sosial.

Kebanyakan orang yang meninggal itu disebabkan karena menenggak metanol atau produk pembersih berbasis alkohol. Mereka secara keliru percaya bahwa produk tersebut adalah obat untuk virus corona.

com-Aplikasi media sosial. Foto: Shutterstock

Ikuti informasi yang salah

Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa para korban telah mengikuti saran yang menyerupai informasi medis yang kredibel, padahal salah. Informasi-informasi tersebut pun bermacam-macam, mulai dari makan bawang putih dalam jumlah besar hingga meminum air kencing sapi sebagai cara mencegah infeksi corona.

"Misinformasi yang dipicu oleh rumor, stigma, dan teori konspirasi dapat memiliki implikasi serius pada individu dan komunitas jika diprioritaskan daripada pedoman berbasis bukti," kata peneliti dalam laporan mereka.

"Badan kesehatan harus melacak informasi yang salah terkait dengan COVID-19 secara real time, dan melibatkan masyarakat lokal dan pemangku kepentingan pemerintah untuk menghilangkan prasangka kesalahan informasi," sambung studi tersebut.

Tim peneliti sendiri telah mengikuti dan memeriksa rumor, stigma, dan teori konspirasi yang beredar di platform online terkait COVID-19. Mereka melakukan analisis deskriptif terhadap informasi dari situs web agen pengecekan fakta, Facebook, Twitter, dan surat kabar online, dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Informasi tersebut diambil dari 31 Desember 2019 hingga 5 April 2020, kata peneliti.

"Kami melakukan analisis konten artikel berita ke membandingkan dan membedakan data yang dikumpulkan dari sumber lain. Kami mengidentifikasi 2.311 laporan rumor, stigma, dan konspirasi teori dalam 25 bahasa dari 87 negara," kata mereka.

Penumpang memadati gerbong kereta rute Bogor-Jakarta Kota, Kamis (12/3). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Indonesia salah satu negara paling banyak hoaks virus corona

Peneliti menemukan, dari 2.276 informasi virus corona yang tersedia, sebagian besar berisi klaim yang tak terbukti kebenarannya.

Setidaknya, peneliti menemukan 1.856 klaim yang salah (82%), 204 informasi yang benar (9%), 176 info menyesatkan (8%), dan 31 klaim yang tidak terbukti (1%).

Dari jumlah tersebut, mereka menemukan Indonesia sebagai salah satu negara paling 'infodemik' di dunia.

"Sebagian besar rumor, stigma, dan teori konspirasi diidentifikasi dari India, Amerika Serikat, China, Spanyol, Indonesia, dan Brazil," kata mereka.

Para peneliti pun meminta tanggung jawab lembaga internasional, pemerintah, dan platform media sosial untuk melawan infodemik virus corona. Menurut mereka, kasus kematian akibat hoaks menjadi bukti jelas bahwa misinformasi dapat memberikan dampak yang parah bagi kesehatan masyarakat.

embed from external kumparan