kumparan
Tekno & Sains3 Maret 2020 12:28

Ini Cara Vietnam Sembuhkan Seluruh Pasien Virus Corona

Konten Redaksi kumparan
Desa di Vietnam virus corona
Warga mengenakan masker saat melintas di komune Son Loi di provinsi Vinh Phuc, Vietnam. Foto: AFP/NHAC NGUYEN
Vietnam dipuji oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena cekatan dalam menangani kasus COVID-19. Tercatat ada 16 warga yang divonis terinfeksi SARS-C0V-2 di negara beribukota Hanoi itu.
ADVERTISEMENT
Pemerintah Vietnam mengumumkan seluruh pasien tersebut dinyatakan telah sembuh dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Salah satu dari korban yang dinyatakan telah pulih adalah pasien tertua berusia 73 tahun.
Tak ada kasus infeksi baru yang dideteksi setelah pemerintah melakukan pemeriksaan selama kurun waktu 15 hari. Kasus virus corona terakhir dilaporkan pada 13 Februari, menyusul ada sebuah desa di utara Hanoi yang diisolasi selama 20 hari.
"Jika pertempuran COVID-19 ibarat perang, maka kami telah memenangkan putaran pertama tetapi bukan seluruh perang karena situasinya bisa sangat tidak terduga," kata Wakil Perdana Menteri Vietnam, Vu Duc Dam, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Virus Corona COVID-19 (Square)
Wujud asli virus corona COVID-19 yang terlihat melalui mikroskop. Foto: National Institute of Allergy and Infectious Diseases via flickr (CC BY 2.0)
Pada hari Rabu (26/2), pemerintah Vietnam menyatakan bahwa pasien ke-16 yang terinfeksi virus telah diizinkan keluar dari rumah sakit. Pria berusia 50 tahun itu, yang diidentifikasi sebagai NVV, sebelumnya tertular COVID-19 dari sang putri yang berusia 23 tahun, berinisial NTD. Keduanya adalah penduduk asli distrik Son Loi di provinsi utara Vinh Phuc, tempat 11 kasus coronavirus ditemukan.
ADVERTISEMENT
Anak perempuan itu adalah salah satu dari delapan karyawan perusahaan Jepang yang kembali dari kota Wuhan, China, sebagai pusat wabah, pada 17 Januari lalu. Secara keseluruhan, enam orang di antara kelompok itu ditemukan telah dinyatakan positif terkena virus beberapa hari kemudian.
Beberapa kerabat dan teman-teman mereka juga terinfeksi, termasuk bayi berusia tiga bulan, yang dilaporkan sebagai pasien virus corona termuda hingga saat ini.

Respons proaktif dan konsisten

Dr Kidong Park, perwakilan WHO di Vietnam, mengaitkan keberhasilan tersebut dengan tindakan proaktif serta konsistensi yang ditunjukkan pemerintah Vietnam selama menangani wabah mematikan ini.
Desa di Vietnam virus corona
Warga memberikan bensin melewati pos pemeriksaan di komune Son Loi di provinsi Vinh Phuc, Vietnam. Foto: AFP/NHAC NGUYEN
Mimpi buruk coronavirus mulai mengintai Vietnam semenjak dua warga negara China menjadi pasien COVID-19 pertama di Kota Ho Chi Minh pada 23 Januari lalu, atau tepatnya pada hari pertama liburan perayaan Tahun Baru Imlek. Kala itu, temuan kasus ini membuat suasana suram selama musim perayaan tahun baru.
ADVERTISEMENT
Vietnam secara resmi menyatakan virus corona sebagai epidemi pada 1 Februari, ketika jumlah kasus di negara itu meningkat dan pasien yang terinfeksi mencapai enam kasus.
Pada 13 Februari, Kementerian Kesehatan setempat memerintahkan 10.600 penduduk Son Loi untuk tetap diisolasi selama 20 hari, setelah lebih banyak kasus yang terkonfirmasi di sana.
"Negara ini telah mengaktifkan sistem responsnya pada tahap awal wabah, dengan mengintensifkan pengawasan, meningkatkan pengujian laboratorium, memastikan pencegahan dan pengendalian infeksi dan manajemen kasus di fasilitas kesehatan, pesan komunikasi risiko yang jelas, dan kolaborasi multi-sektoral," beber Park kepada Al Jazeera.
Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona. Foto: Shutter Stock

Perawatan pasien COVID-19 dengan tindakan suportif

"Belum ada obat untuk virus ini. Kami mengandalkan prinsip-prinsip dasar," kata Nguyen Thanh Long, Wakil Menteri Kesehatan Vietnam, pada konferensi pers di Hanoi pada awal Februari.
ADVERTISEMENT
Petugas kesehatan telah diinstruksikan untuk mengikuti beberapa protokol untuk menilai infeksi dan tingkat keparahan. Pertama, dokter diharuskan mengobati gejalanya, seperti demam. Kedua, pasien menjalani diet ketat dan bergizi. Langkah ketiga, menurut Nguyen, adalah memonitor tingkat saturasi oksigen dalam darah pasien.
Kemudian, Vietnam juga menangguhkan kelas sekolah, memperpanjang waktu istirahat sekolah demi melindungi kesehatan siswa. Jutaan siswa di 63 kota dan provinsi di Vietnam belum kembali ke sekolah sejak awal perayaan Tahun Baru Imlek.

Langkah pencegahan di lingkungan sekolah jadi prioritas

Wakil Menteri Pendidikan dan Pelatihan Nguyen Huu Do, menyampaikan melalui situs resmi kementerian bahwa dalam kasus coronavirus, keselamatan siswa harus menjadi prioritas.
Kementerian telah menginstruksikan sekolah untuk mendisinfeksi ruang kelas sebelum siswa melanjutkan kelas mereka. Guru dan staf diminta untuk selalu mengingatkan para siswa tentang kebersihan yang layak seperti mencuci tangan, dan melakukan pemeriksaan suhu pada siswa pada saat kedatangan mereka ke sekolah. Sekolah juga diharuskan menyiapkan formulir kesehatan yang digunakan untuk memantau siswa.
Desa di Vietnam virus corona
Polisi Vietnam mengenakan masker saat mempersilakan mobil ambulans melewati pos pemeriksaan di komune Son Loi di provinsi Vinh Phuc, Vietnam. Foto: AFP/NHAC NGUYEN
Sebuah dokumen dari kementerian pendidikan, menyatakan akan mengizinkan siswa kembali ke sekolah jika situasi COVID-19 sudah dalam kontrol yang baik dan tidak ada perkembangan penyebaran yang serius.
ADVERTISEMENT
Siswa sampai tingkat pendidikan menengah diberikan satu atau dua minggu untuk beraktivitas di luar sekolah.
"Saya sangat gugup untuk kembali bekerja. Mudah-mudahan akan baik-baik saja mengingat cuaca panas seperti ini," kata Le Hanh, seorang konsultan psikologi di sebuah sekolah menengah negeri dengan hampir 2.000 siswa di Kota Ho Chi Minh.
Ho Chi Minh, kota terbesar di negara itu, memiliki hampir dua juta siswa, dari taman kanak-kanak hingga sekolah pendidikan dan pelatihan kejuruan yang berkelanjutan.

Larangan ekspor satwa liar

Pemerintah Vietnam mengeluarkan larangan perdagangan satwa liar. Hewan liar telah diidentifikasi sebagai pembawa virus SARS-CoV-2 yang memungkinkan penyakit mematikan untuk berpindah ke manusia, mirip dengan sindrom pernafasan akut yang parah (SARS) pada tahun 2002 dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) pada tahun 2012.
Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona. Foto: NEXU Science Communication/via REUTERS
Mulai pada 28 Januari, Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc memerintahkan larangan impor hewan liar ke Vietnam. Departemen Perlindungan Hutan untuk sementara waktu melarang pengangkutan hewan liar dari Vietnam hingga pemberitahuan lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
Namun, bagaimana arahan-arahan ini dilaksanakan dan berapa banyak tindakan telah diambil untuk mengatasi akar permasalahannya, itu masih belum jelas, kata Dr. Ben Rawson dari World Wildlife Fund (WWF) di Vietnam.
"Saat ini tidak ada larangan langsung pada konsumsi satwa liar, yang merupakan pendorong untuk transportasi ilegal dan perdagangan ilegal di provinsi-provinsi tersebut," ujar Rawson.
Pasar ilegal, restoran dan peternakan, di mana hewan dikurung, disembelih, disimpan, dan dijajakan kepada pembeli tanpa kebersihan yang layak, mungkin sebagian besar tidak terpengaruh oleh larangan pemerintah sejauh ini. Itu mungkin karena tidak melibatkan pergerakan satwa liar melintasi perbatasan provinsi yang dibatasi.

Masalah belum usai

Sementara Vietnam telah berhasil menyembuhkan seluruh warganya yang mengidap COVID-19, negara itu seharusnya tidak menurunkan kewaspadaannya, mengingat penyebaran infeksi di tempat lain, seperti Korea Selatan masih terus berlangsung.
virus corona di Korea Selatan
Pejalan kaki memakai masker di luar Stasiun Kereta Api Seoul di Seoul, Korea Selatan. Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji
Sejak Korea Selatan menjadi pusat coronavirus terbesar di luar China, Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc telah memerintahkan larangan kedatangan wisatawan dari Negeri Ginseng ke Vietnam. Pemerintah Vietnam mengumumkan penghentian sementara visa untuk warga negara Korea Selatan mulai Sabtu (29/2).
ADVERTISEMENT
Pada saat yang sama, Vietnam mengumumkan bahwa para pelancong dari Iran dan Italia akan dikenai karantina 14 hari setelah tiba di negara itu.
WHO telah mengumumkan darurat kesehatan global atas virus tersebut. Badan kesehatan PBB itu juga mengatakan bahwa jumlah kasus dari wabah ini terus bertambah dari hari ke hari.
Park yang mewakili WHO di Vietnam mengatakan perang melawan virus di negara itu masih jauh dari kata selesai, menyusul alarm pandemi global telah dibunyikan terkait kasus SARS-CoV-2.
"Kami berada di titik kritis dalam wabah. Negara-negara, termasuk Vietnam, harus menggunakan waktu ini untuk mempersiapkan kemungkinan penularan yang lebih luas."
Di seluruh dunia, wabah COVID-19 telah membunuh lebih dari 3.000 orang dan menginfeksi lebih dari 80 ribu orang sejauh ini.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan