Ini Foto Terdekat Matahari yang Pernah Diambil Manusia

Umat manusia baru saja mendapatkan foto terdekat Matahari yang pernah diambil dalam sejarah. Foto tersebut dipublikasi oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada Kamis (16/7) dan merupakan foto pertama yang diambil oleh Solar Orbiter.
Solar Orbiter adalah satelit hasil kolaborasi antara NASA dengan Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) untuk mempelajari Matahari, salah satunya melalui foto. Mulai meluncur pada 9 Februari 2020, pesawat luar angkasa itu berhasil menyelesaikan lintasan jarak dekat pertama dari Matahari pada pertengahan Juni 2020.
"Gambar-gambar luar biasa ini akan membantu para ilmuwan mengumpulkan lapisan atmosfer matahari, yang penting untuk memahami bagaimana ia menggerakkan cuaca luar angkasa dekat Bumi dan di seluruh tata surya," kata ilmuwan NASA untuk misi tersebut, Holly Gilbert, dalam pernyataan resmi di situs NASA.
Untuk mengambil foto terdekat Matahari, Solar Orbiter memerlukan enam perangkat pencitraan yang berbeda. Masing-masing alat tersebut punya fungsi yang berbeda untuk mempelajari aspek berbeda dari Matahari.
NASA menjelaskan, biasanya gambar pertama dari pesawat ruang angkasa hanya ditujukan untuk mengonfirmasi bahwa alat yang dibawa dapat berfungsi dengan baik. Artinya, ilmuwan tidak mengharapkan adanya penemuan baru dari gambar awal yang ditangkap alat pencitraan di luar angkasa.
Namun, ternyata foto pertama Solar Orbiter justru memberikan banyak informasi baru terkait Matahari. Nasa menjelaskan, perangkat Extreme Ultraviolet Imager (EUI) yang ada di Solar Orbiter telah berhasil menangkap "api unggun" Matahari yang tidak pernah bisa diamati manusia secara detail sebelumnya.
Para ilmuwan menduga bahwa api unggun ini adalah ledakan mini yang terjadi di atmosfer luar matahari, yang disebut nanoflares. Api unggun inilah yang membuat atmosfer matahari 300 kali lebih panas ketimbang suhu di permukaannya, kata peneliti.
Untuk mengetahuinya secara pasti, para ilmuwan NASA dan ESA sedang menunggu lebih banyak data dari Solar Orbiter di masa depan, ketika pesawat ruang angkasa itu semakin dekat ke Matahari.
"Api unggun yang kita bicarakan di sini adalah percikan-percikan kecil dari semburan api matahari, setidaknya satu juta, mungkin satu miliar kali lebih kecil," kata David Berghmans, penyelidik utama dan ahli astrofisika di Royal Observatory of Belgium. "Ketika melihat resolusi tinggi baru dari gambar EUI, mereka benar-benar ada di mana-mana (saat) kita melihatnya."
Kolaborasi NASA dan ESA dalam membawa Space Orbiter ke dekat Matahari terbilang menantang di masa pandemi virus corona saat ini. Sebab, karena wabah tersebut, pusat kontrol misi di Pusat Operasi Luar Angkasa Eropa (European Space Operations Center/ESOC) di Darmstadt, Jerman, sempat ditutup penuh selama lebih dari seminggu pada akhir Maret 2020.
Tak hanya itu, ESOC juga perlu mengurangi jumlah staf mereka selama pandemi. Adapun para ilmuwan yang tetap bekerja perlu memeriksa dan menguji instrumen pencitra di Solar Orbiter dari rumah mereka.
"Pandemi mengharuskan kami melakukan operasi kritis dari jarak jauh - pertama kali kami melakukan itu," Russell Howard, peneliti utama untuk salah satu pencitra Solar Orbiter.
****
Saksikan video menarik di bawah ini
