Kumparan Logo

Ini Hypatia, Batu Permata Langka dari Luar Angkasa

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan Luar Angkasa Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan Luar Angkasa Foto: pixabay

Sebuah batu kecil berisi permata berharga ditemukan di Mesir oleh ilmuwan. Setelah diteliti, permata tersebut tidak berasal dari Bumi, melainkan dari luar angkasa. Bahkan, ilmuwan yakin permata tersebut berasal dari luar sistem tata surya kita.

Hypatia pertama kali ditemukan pada tahun 2013. Setelah melalui serangkaian penelitian, ilmuwan dibuat kebingungan ketika sadar bahwa zat penyusun Hypatia tidak dapat ditemukan di planet dan meteor apa pun di dalam tata surya kita.

Dilansir Science Alert, ilmuwan dari University of Johannesburg menemukan bahwa zat silika pada permata Hypatia terlalu sedikit bagi meteor yang ada di tata surya kita. Selain itu, ada juga zat mineral yang usianya lebih tua dari matahari di tata surya kita.

Meteor non-logam, atau chondrite, biasanya memiliki sejumlah kecil karbon dan kaya akan silika. Namun, Hypatia justru memiliki banyak karbon dan sedikit silika.

“Sangat tidak biasa, matriks (Batu Hypatia) memiliki kandungan senyawa karbon tinggi yang sangat spesifik, disebut polyaromatic hydrocarbons atau PAH, yang merupakan salah satu komponen utama debu luar angkasa, dan telah eksis bahkan sebelum tata surya kita terbentuk,” kata Jan Kramers, pemimpin tim peneliti.

Tak hanya itu, tim peneliti juga menemukan alumunium dalam bentuk metalik murni, suatu hal yang sangat jarang terjadi di tata surya kita.

Mereka juga menemukan silikon karbida (silicon carbide) atau yang dikenal juga dengan moissanite, dan juga fosfid iodin perak (silver iodine phosphide) dalam bentuk yang tidak diduga.

Sebuah senyawa yang kandungannya kebanyakan adalah fosfor dan nikel, tanpa besi, adalah sebuah komposisi mineral yang belum pernah dilihat sebelumnya di Bumi ataupun di material angkasa lainnya.

Batu Hypatia di Mesir. Foto: Dr Mario di Martino/INAF Osservatorio Astrofysico di Torino

Fakta-fakta ini menyimpulkan bahwa Hypatia terbentuk dari material yang lebih tua dari Matahari kita. Tetapi batu tersebut dianggap baru terbentuk setelah adanya Matahari, karena diperlukan sebuah awan padat seperti solar nebula untuk membentuk sebuah objek besar.

Temuan ini bisa membantu kita mempelajari lebih dalam lagi mengenai formasi planet. Saat ini, masih diperlukan riset lebih mendalam untuk membantu pemahaman kita atas hal tersebut.

Hypatia terbentuk di suatu lingkungan yang dingin, kemungkinan pada temperatur di bawah nitrogen cair (minus 196 Celsius).”

“Di tata surya kit,a kemungkinan (Hypatia) berasal dari tempat yang lebih jauh dari sabuk asteroid di antara Mars dan Jupiter, yang di mana kebanyakan meteroit berasal,” kata Kramers.

Menurut Kramers, untuk sekarang informasi mengenai komposisi kimia dari objek angkasa di luar sistem tata surya kita masih sangat sedikit. Pertanyaan selanjutnya bakal menggali lebih jauh ke arah dari mana Hypatia itu berasal.

(EDR)