Ini Katak Mini Hidung Tapir, Si Penjaga Lahan Gambut Amazon

4 Maret 2022 7:35
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Spesies kodok berkepala mirip tapir Amazon. Foto: Field Museum
zoom-in-whitePerbesar
Spesies kodok berkepala mirip tapir Amazon. Foto: Field Museum
ADVERTISEMENT
Peneliti menemukan spesies katak baru di Hutan Amazon, Brazil. Katak tersebut nampak aneh lantaran memiliki moncong hidung mirip tapir.
ADVERTISEMENT
Rupanya hidung mancung katak tersebut biasa digunakan untuk menggali di bawah tanah. Spesies baru tersebut tepatnya ditemukan di cekungan Putumayo di Loreto, Peru di perbatasan sebelah timur Brasil.
Katak ini memiliki moncong panjang melengkung ke bawah mirip tapir, mamalia herbivora Amazon. Ia memiliki nama latin yakni Synapturanus danta. Temuan ini telah dipublikasi di Jurnal Evolutionary Systematics.
Katak ini memiliki kulit merah kecoklatan berwarna gelap. Ia juga memiliki 'tubuh gemuk' dan hanya berukuran 0,7 inci (1,79cm), kurang dari 2 cm menjadikannya spesies katak yang amat kecil.
Menurut laporan peneliti dilansir Daily Mail, katak tapir ini juga memiliki dada dan perut yang berwarna kuning krem, dengan 'bintik-bintik coklat ke arah panggul.' Bentuk tubuhnya dan penampilan umumnya, ideal untuk menggali.
ADVERTISEMENT
Katak ini menurut para peneliti terbiasa beradaptasi dengan tanah lunak di lahan gambut Amazon. "Katak ini sangat sulit ditemukan, dan itu membuat mereka (sulit) dipelajari," kata Michelle Thompson, peneliti di Keller Science Action Center di Chicago's Field Museum.
Ilustrasi tapir Amazon. Foto:  Westend61/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tapir Amazon. Foto: Westend61/Getty Images
"Ini adalah contoh keanekaragaman tersembunyi Amazon, dan penting untuk mendokumentasikannya untuk memahami betapa pentingnya fungsi ekosistem. (Katak ini) terlihat seperti karikatur tapir, karena memiliki tubuh besar yang menggembung dengan kepala kecil yang runcing.'
Orang-orang Peru Comunidad Nativa Tres Esquinas sebenarnya sudah lama tahu tentang katak kecil ini. Julukan katak tapir itu berasal dari orang-orang lokal yang menamai katak ini rana danta.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020

Temuan pertama katak tapir

Berkat bantuan pemandu lokal, tim peneliti internasional dapat menemukan katak tersebut pada November 2019 dan memberikannya nama ilmiah dan deskripsi resmi dalam makalah baru mereka yang diterbitkan bulan ini.
ADVERTISEMENT
"Katak dari genus ini tersebar di seluruh Amazon. Karena mereka hidup di bawah tanah dan tidak dapat pergi terlalu jauh. Mereka terbiasa menggali dan rentang penyebaran setiap spesies ini cukup kecil," kata penulis pertama Germán Chávez di Instituto Peruano de Herpetología Peru.
Pemandu lokal yang akrab dengan katak ini membawa para peneliti ke area lahan gambut, sebuah area lahan basah berlapis rumput kaya nutrisi yang terbentuk dari sisa tanaman yang membusuk. Katak ini memiliki ciri khas mengeluarkan bunyi bip-bip-bip dari bawah tanah.
"Kami bisa mendengar mereka di bawah tanah, berbunyi bip-bip-bip, dan kami akan berhenti, mematikan lampu kami, dan menggali, dan kemudian mendengarkannya lagi," kata Thompson menceritakan temuan pertamanya.
"Setelah beberapa jam, satu melompat keluar dari liang kecilnya, dan kami berteriak, 'Seseorang ambil itu!"
Ilustrasi Hutan Amazon. Foto: AFP/MAURO PIMENTEL
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hutan Amazon. Foto: AFP/MAURO PIMENTEL
Synapturanus adalah nama genus yang sudah ada yang dimiliki spesies tersebut, dan danta adalah bahasa Spanyol untuk 'tapir'. Diperkirakan perilaku katak menggali yang membuat mereka sulit ditemukan.
ADVERTISEMENT
Meski bentuknya aneh, peneliti kuat menduga katak ini cukup memegang peranan penting bagi ekosistem gambut. Mereka pindah ke satu tempat ke tempat lain, makan hingga bertelur di sana dan berkontribusi pada siklus nutrisi serta mengubah struktur tanah.
Ke depan, tim ingin memastikan lagi apakah S. danta terbatas tinggal hanya di habitat lahan gambut atau mampu bertahan hidup di tempat lain yang lebih basah.
"Saya pikir kemungkinan bahwa katak ini akan menjadi spesialis lahan basah, tinggi. Tetapi masih perlu melangkah lebih jauh dalam penelitian ini untuk memastikannya,' kata Chávez.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020