Kumparan Logo

Ini Satu-satunya Negara di Dunia yang Bebas dari Nyamuk, Kok Bisa?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi nyamuk DBD pada kulit manusia. Foto: AUUSanAKUL/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nyamuk DBD pada kulit manusia. Foto: AUUSanAKUL/Shutterstock

Nyamuk menggigit manusia di hampir semua negara di dunia. Namun, adakah negara yang benar-benar bebas dari serangga pengisap darah ini? Jawabannya, ada. Negara itu adalah Islandia.

Sementara tetangganya, seperti Norwegia, Skotlandia, hingga Greenland, punya berbagai jenis nyamuk, Islandia justru sama sekali tidak memiliki populasi nyamuk alami. Sebagai catatan, Antartika juga bebas nyamuk, tapi benua itu bukan negara.

Para ilmuwan punya beberapa teori. Salah satunya, nyamuk memang belum berhasil mencapai pulau terpencil itu. Islandia terpisah dari negara lain oleh ratusan kilometer lautan, yang menjadi penghalang alami bagi serangga terbang sekecil nyamuk untuk bisa menyeberang. Namun, bukan berarti nyamuk tidak pernah sampai di sana.

Profesor Gísli Már Gíslason, pakar limnologi dari University of Iceland, pernah menangkap seekor nyamuk di dalam pesawat dari Greenland menuju Islandia. Dalam wawancara dengan media Reykjavík Grapevine pada 2017, ia menjelaskan bahwa nyamuk bisa bertahan hidup berjam-jam di roda pesawat, bahkan di suhu beku.

Artinya, nyamuk bisa saja sudah “mendarat” di Islandia. Lalu, kenapa mereka tidak pernah membentuk populasi di sana?

Gíslason menegaskan bahwa bukan karena Islandia kekurangan tempat berkembang biak. Di sekitar bandara saja, ada banyak rawa dan kolam yang seharusnya ideal bagi nyamuk untuk bertelur. Penyebab utamanya justru adalah iklim ekstrem Islandia.

Ilustrasi Turf house asli Islandia. Foto: Shutterstock

Untuk memahami ini, kita perlu tahu bahwa siklus hidup nyamuk terdiri dari empat tahap: telur, larva, pupa, dan dewasa. Telur nyamuk menetas di air, larvanya tumbuh di dalamnya, lalu menjadi pupa sebelum akhirnya muncul sebagai nyamuk dewasa.

Menurut Robert Jones, ahli serangga dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, larva nyamuk hanya bisa berkembang di air yang tidak beku. Di wilayah dingin seperti Kutub Utara, Kanada, beberapa spesies nyamuk bisa bertahan hidup dengan berhenti tumbuh saat air membeku dan melanjutkan perkembangan setelah mencair.

Tapi di Islandia, kondisinya unik, terlalu hangat untuk benar-benar membeku permanen, tapi juga terlalu dingin untuk stabil. Musim dingin yang panjang dan perubahan suhu ekstrem di musim semi serta gugur menyebabkan air di kolam membeku, mencair, lalu membeku lagi secara bergantian.

“Siklus beku-cair ini menghentikan perkembangan telur dan larva nyamuk sebelum mereka sempat menjadi dewasa,” jelas Jones.

Islandia memang terkenal dengan kolam air panas geotermalnya yang tak pernah membeku. Namun, menurut Jones, airnya terlalu panas untuk spesies nyamuk mana pun. Selain itu, komposisi kimia air panas bumi juga tidak cocok untuk perkembangan telur atau larva nyamuk. Tapi, bisa jadi suatu hari nanti nyamuk akan datang.

Sayangnya, kondisi ini mungkin tak akan bertahan selamanya. Dengan perubahan iklim global, suhu di Islandia perlahan menghangat, dan musim semi serta gugur menjadi lebih panjang. Ini berarti lebih banyak waktu bagi air di permukaan untuk tetap cair, dan memberi peluang bagi nyamuk untuk akhirnya bertahan hidup di sana.

Jentik nyamuk di dalam air. Foto: Shutterstock

Profesor Immo Hansen dari Universitas Negeri New Mexico mengingatkan bahwa saat ini nyamuk tropis mulai menyebar ke wilayah utara Amerika Serikat. Ini terjadi karena musim dingin di sana semakin hangat.

Jika suatu saat nyamuk benar-benar tiba di Islandia, bukan hal mustahil mereka bisa bertahan. Hal serupa sudah pernah terjadi di Hawaii, kepulauan paling terpencil di dunia, yang dulunya juga bebas nyamuk. Namun, sejak tahun 1826, kapal Eropa dan Amerika tanpa sengaja membawa nyamuk ke sana.

Iklim Hawaii lembap dan hangat membuat nyamuk cepat berkembang biak dan kini tersebar di seluruh kepulauan itu, bahkan hingga ke hutan pegunungan yang dulunya terlalu dingin untuk ditinggali.

Untuk saat ini, para ilmuwan menilai risikonya masih rendah. Spesies nyamuk berbahaya seperti Aedes, penyebar penyakit demam berdarah dan chikungunya, membutuhkan iklim tropis atau subtropis untuk bertahan hidup.

“Meski Eropa Selatan mungkin menghadapi peningkatan risiko akibat pemanasan global, penelitian menunjukkan bahwa Eropa Utara, termasuk Islandia, masih akan terlalu dingin untuk penularan demam berdarah, setidaknya hingga tahun 2080,” jelas Jones seperti dikutip Live Science.

Jadi, sementara sebagian besar dunia berjuang melawan gatal dan gigitan nyamuk setiap malam, orang Islandia bisa tidur nyenyak tanpa perlu repot mencari “obat nyamuk.”