Tekno & Sains
·
10 Juni 2021 6:32
·
waktu baca 2 menit

Ini Sosok Nenek Moyang Orang Asia Tenggara, Usianya 13.000 Tahun

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Ini Sosok Nenek Moyang Orang Asia Tenggara, Usianya 13.000 Tahun (20729)
Perkiraan wajah wanita yang hidup lebih dari 13.000 tahun lalu di tempat yang sekarang disebut Thailand. Foto: Susan Hayes/University of Wollongong
Para ilmuwan berhasil merekonstruksi wajah seorang wanita yang hidup sekitar 13.000 tahun lalu di Thailand dan dianggap sebagai keturunan manusia pertama yang menghuni Asia Tenggara.
ADVERTISEMENT
Peneliti merekonstruksi wajah wanita tersebut secara digital melalui sisa-sisa kerangka yang ditemukan pada tahun 2002 di tempat penambang batu Tham Lod di barat laut Thailand. Sisa-sisa tengkorak wajah itu termasuk struktur kepala dan gigi.
Saat ditemukan, jasad si wanita dibaringkan dengan menghadap ke kiri dalam posisi tertekuk dan palu di lengannya. Di atas kuburan ada lingkaran dengan lima batu besar dan pecahan batu kapur berbentuk bulat. Benda-benda itu diduga digunakan sebagai bagian dari ritual penguburan wanita.
Tim peneliti dari Thailand yang dipimpin oleh Rasmi Shoocongdej, seorang profesor arkeologi di Silpakorn University di Bangkok, menetapkan bahwa tulang-tulang yang ditemukan di situs adalah milik seorang wanita yang diperkirakan berusia 25 hingga 35 tahun dengan tinggi 152 centimeter.
ADVERTISEMENT
Tim menggunakan spektrometri massa akselerator untuk memisahkan isotop radiokarbon dari sedimen tempat penguburan ditemukan. Dari sini para ilmuwan memperkirakan bahwa wanita muda itu hidup sekitar 13.640 tahun yang lalu selama Pleistosen Akhir.
“Ini membuat wanita itu menjadi tertua yang digali di dataran tinggi barat laut Thailand, dan mungkin keturunan langsung dari penduduk Asia Tenggara,” tulis Shoocongdej dalam jurnal akademik Antiquity.
Ini Sosok Nenek Moyang Orang Asia Tenggara, Usianya 13.000 Tahun (20730)
Proses rekonstruksi wajah wanita zaman batu. Foto: Susan Hayes/University of Wollongong
Sementara untuk menemukan bentuk wajah wanita, proyek penelitian yang didanai pemerintah Thailand ini menggunakan berbagai hubungan jaringan lunak tengkorak untuk memperkirakan wajah seseorang, bukan pakai metode rekonstruksi wajah forensik yang sering digunakan.
“Rekonstruksi wajah adalah metode yang sangat populer, tetapi telah diuji dan ditemukan tidak valid secara ilmiah sejak sekitar tahun 2002," ungkap rekan penulis studi, Susan Hayes, dari University of Wollongong di Australia, sebagaimana dikutip Live Science.
ADVERTISEMENT
Untuk memperkirakan struktur wajah, Hayes menggunakan pengukuran tengkorak, otot, kulit, dan jaringan lunak wajah yang berasal dari sampel populasi kontemporer di seluruh dunia.
Dia kemudian menggunakan data untuk menentukan hubungan antara tengkorak dan pengukuran jaringan lunak dan fitur wajah. Dengan menerapkan hubungan ini pada sisa-sisa kerangka Thailand, Hayes menciptakan gambar dua dimensi dari seorang wanita cantik dengan mata kecil berbentuk almond dan rahang lebar.
Yang menarik, dari hasil rekonstruksi wajah ini menunjukkan adanya hubungan erat antara wanita zaman batu dengan wanita dari Asia Timur dan Tenggara, dan tampaknya berafiliasi dengan wanita Jepang modern dalam hal lebar dan tinggi wajah.
Analisis mata, hidung, dan mulut menunjukkan bahwa wanita zaman batu di Thailand memiliki kesamaan morfologis dengan wanita Afrika, terutama dalam dimensi hidung dan mulut.
ADVERTISEMENT
“Orang mati pantas mendapatkan yang terbaik yang bisa kita lakukan, tidak peduli berapa lama mereka hidup, dan ini termasuk meluangkan waktu untuk menerapkan metode terbaik untuk memperkirakan setiap wajah unik dari masa lalu manusia kita,” kata Hayes.