Kumparan Logo

Ini Tarsius, Primata Terkecil di Dunia Asli Sulawesi

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tarsius di Bukit Peramun, Pulau Belitung. Foto: Andari Novianti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tarsius di Bukit Peramun, Pulau Belitung. Foto: Andari Novianti/kumparan

Primata terkecil di dunia ada di Indonesia. Adalah Tarsius, satwa endemik Pulau Sulawesi yang punya ukuran mini, tak lebih dari genggaman tangan orang dewasa.

Dengan ukuran tubuh yang begitu kecil, tarsius jantan memiliki lingkar kepala sekitar 85 mm, dan panjang tubuh tak lebih dari 160 mm. Uniknya, ia memiliki ekor yang panjangnya hampir dua kali lipat dari badannya, yakni diantara 135-275 mm.

Melansir dari laman resmi Indonesia.go.id, tarsius merupakan satwa nokturnal atau sangat aktif pada malam hari. Mereka mulai beraktivitas pada sore hari dan keluar dari sarangnya di pohon-pohon beringin untuk memulai penjelajahan di daerah jelajah mereka. Kegiatan itu dilakukan sepanjang malam dan mereka baru kembali ke sarang menjelang pagi.

Tarsius si gemar tidur siang

Karena termasuk nokturnal, pada siang hari hewan ini menjadi lebih pasif dan menghabiskan waktunya dengan bersembunyi atau tidur. Namun tak seperti mamalia lainnya, tarsius tidur dengan cara menempel di dahan, dengan hanya memejamkan sebelah matanya saja.

Tarsius, primata endemik dari Pulau Sulawesi. Foto: Kemenparekraf

Mereka juga begitu lincah menjelang peralihan waktu dari siang kepada malam (crespuscular). Pada saat-saat tersebut, antara pasangan tarsius jantan dan betina akan mengeluarkan suara bersahut-sahutan yang biasa disebut duet call.

Namun meskipun termasuk nokturnal, tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya atau tapetum lucidum di matanya. Dengan kondisi mata seperti itu, kemampuan melihat tarsius dalam kondisi gelap lebih tinggi dan tajam.

Matanya sendiri merupakan organ terbesar dibanding organ kepala lainnya, dengan diameter bola mata hingga sekitar 16 mm.

Selain itu, tarsius juga dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat ke arah manapun untuk melihat mangsanya —mirip seperti burung hantu. Mereka juga menggunakan suara untuk berkomunikasi di antara anggota kelompok maupun dengan individu dari kelompok lainnya.

instagram embed

Sifat monogami bikin tarsius jadi langka

Di pulau Sulawesi, ada 11 jenis tarsius yang diketahui keberadaannya, yaitu T. tarsier, T. fuscus, T. sangirensis, T. pumilus, T. dentatus, T. pelengensis, T. lariang, T. tumpara, dan T. wallacei. Ada juga dua spesies tarsius lainnya yang ditemukan pada Mei 2017, yaitu Tarsius spectrumgurskyae dan Tarsius supriatnai.

Primata yang punya rambut tebal dan halus ini berkembang biak dengan cara beranak, dengan masa kehamilan enam bulan. Meski belum diketahui jumlah pasti dari tarsius saat ini, maraknya perburuan oleh manusia telah menyebabkan populasi tarsius menjadi makin langka.

video youtube embed

Apalagi ia terkenal punya sifat monogami, di mana akan membujang seumur hidup jika pasangannya mati. Meskipun romantis, hal ini ikut menyumbang kelangkaan satwa di alam bebas.

Karena kelangkaan itulah, organisasi konservasi internasional seperti International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menempatkan primata mungil ini dalam kategori rentan (Vulnarable/VU).

Tarsius juga masuk dalam daftar fauna langka dan dilindungi seperti tercantum di dalam UU 5/1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem serta Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.