Kumparan Logo

Ini yang Terjadi Jika Kamu Tak Pernah Pake Sunscreen di Leher

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penampakan leher wanita yang melewati bagian leher ketika memakai sunscreen selama 40 tahun. Foto: Christian Posch
zoom-in-whitePerbesar
Penampakan leher wanita yang melewati bagian leher ketika memakai sunscreen selama 40 tahun. Foto: Christian Posch

Sebuah penampakan dari wanita yang absen mengenakan sunscreen alias tabir surya di bagian leher viral di media sosial. Terlihat perbedaan mencolok di kulit wanita tersebut karena kerusakan akibat sinar UV.

Foto tersebut pertama kali yang dibagikan oleh akun Twitter Dr. Avi Bitterman, dokter kulit di Woodmere, New York. Ia menunjukkan foto dari jarak dekat wajah dan leher wanita berusia 92 tahun. Nenek ini kerap melewatkan bagian leher saat menggunakan sunscreen selama lebih dari 40 tahun.

“Pipi dan leher seorang wanita berusia 92 tahun, yang menggunakan pelembab pelindung UV di wajahnya tetapi tidak di leher selama 40+ tahun,” cuitnya.

Kejadian ini digunakan sebagai studi kasus dalam makalah tahun 2021 mengenai hubungan antara paparan sinar UV, perkembangan kanker, dan penuaan yang ditulis oleh Christian Posch untuk Departemen Dermatologi dan Alergi di Technical University of Munich, Jerman.

X post embed

Kulit merupakan salah satu bagian yang unik. Organ terbesar tubuh tersebut secara langsung dipengaruhi oleh paparan lingkungan, termasuk penyinaran sinar ultraviolet (UV) matahari.

Hasilnya, area tubuh kita yang lebih sering terpapar elemen (seperti wajah, leher, lengan dan tangan) akan terlihat lebih tua dibandingkan dengan area yang biasanya tertutup, seperti batang tubuh.

Paparan sinar matahari dapat memiliki efek penuaan pada kulit kita karena sinar UV mampu menembus lapisannya dan merusak sel-sel kita. Jika tua karena usia dikenal dengan penuaan kronologis, konidisi penuaan akibat paparan sinar matahari disebut photoaging.

Paparan sinar matahari bisa menyebabkan kanker

Dilansir IFL Science, selain membuat kulit tampak lebih tua, paparan sinar matahari juga dapat menyebabkan kerusakan DNA pada sel-sel kulit yang dapat terakumulasi dari waktu ke waktu.

Akibatnya, risiko terjadinya mutasi genetik yang dapat menimbulkan kanker akan meningkat. Inilah sebabnya mengapa matahari, kanker dan penuaan berjalan beriringan.

Wisatawan menikmati pemandangan matahari terbenam saat liburan Hari Raya Idul Fitri 1443 H di Pantai Kuta, Badung, Bali, Senin (2/5/2022). Foto: Nyoman Hendra Wibowo/Antara Foto

Menurut penulis Dr. Christian Posch, seorang spesialis dalam penelitian kanker kulit, kesamaan antara penuaan dan risiko kanker menunjukkan bahwa jika kita mengobati tanda-tanda penuaan, maka kita juga dapat mengurangi risiko penyakit.

“Meskipun tidak mungkin kita dapat (atau bahkan seharusnya) bertujuan untuk mengalahkan penuaan manusia karena berbagai alasan, menunda penuaan masih dapat mengubah rentang kesehatan (waktu kita hidup tanpa penyakit) dan umur,” tulis Posch.

“Lagipula, siapa yang tak mau tambahan usia 20-40 tahun (lebih) sehat?”