Tekno & Sains22 Mei 2018 4:38

Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan

Konten Redaksi kumparan
Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan (39260)
Abah Okri (Foto: Utomo P/kumparan)
Pemangku Adat Kasepuhan Cisitu Haji Mochamad Okri terkejut mendapatkan panggilan telepon dari Istana Negara. Setelah panggilan telepon itu, Abah Okri, panggilan akrabnya, kemudian menerima penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Desember 2012.
ADVERTISEMENT
Penghargaan itu, Piala Adhikarya Pangan Nusantara, diberikan pada Okri sebagai wakil Kampung Adat Cisitu.
Apa yang dibuat Okri sebagai Pemangku Adat Kasepuhan Cisitu hingga menerima penghargaan sedemikian bergengsi?
Lewat kepemimpinannya, Okri mendorong warga Cisitu untuk memanfaatkan kekayaan alam di wilayah mereka secara optimal tanpa merusaknya.
Kebijakan itu Okri turunkan dengan mewajibkan masyarakat menanam padi di lahan basah dalam wilayah adat. Ketika padi selesai dipanen, penanaman diselingi dengan hortikultura. Pohon-pohon penaung ditanam pula di atas lahan kering.
Okri pun mewajibkan masyarakat mengonsumsi pangan hasil sendiri. Setelah kebutuhan harian tercukupi, masyarakat dapat menjual hasil pangan ke luar kampung.
Kebijakan-kebijakan ini membuat Cisitu menjelma sebagai kampung adat yang mandiri secara pangan. Itu sebabnya Cisitu meraih penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara.
Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan (39261)
Abah Okri dan SBY (Foto: Utomo P/kumparan)
Titik Balik
ADVERTISEMENT
Tahun 2003 menjadi titik balik kehidupan masyarakat. Sebuah perusahaan BUMN meninggalkan lokasi tambangnya yang terletak di Cikadang, bagian wilayah adat Cisitu. Letaknya masuk ke dalam Kawasan Hutan Konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak, berjarak 39 kilometer di hulu kasepuhan itu.
Hengkangnya perusahaan mengakibatkan areal tambang telantar. Padahal, kandungan emas masih melimpah. Saat itulah mulai banyak warga masuk untuk menggali emas.
Hasil tambang emas mulai menyilaukan masyarakat. Hasil tambang dari Cikadang bahkan diboyong ke Cisitu yang berjarak empat jam perjalanan. Di sanalah, proses pemurnian emas dengan menggunakan merkuri berjalan.
Semakin lama semakin banyak warga terjun. Sekitar 60 persen dari 1.721 keluarga kini hidup dari tambang emas bermerkuri. Pengolahan emas terus meluas, sampai-sampai menggerus surga pangan Cisitu.
Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan (39262)
Pengolahan emas yang bersebelahan dengan sawah (Foto: Utomo P/kumparan)
Pangan Tercemar
ADVERTISEMENT
Ironi akhirnya terungkap ketika BaliFokus, lembaga swadaya yang berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, melakukan pemantauan lingkungan dan kesehatan di Wilayah Adat Kasepuhan Cisitu. Wilayah adat ini terdiri dari Desa Situmulya dan Desa Kujangsari di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak.
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 2013 hingga 2014 itu ditemukan, semua jenis beras yang diteliti dari lumbung padi di Kampung Adat Cisitu ternyata telah melampaui ambang batas yang ditetapkan Organisasi Pangan Dunia (FAO) yang sebesar 0,03 ppm.
Jadi, jika mengikuti standar FAO tersebut, maka semua beras dari lumbung-lumbung padi di Cisitu --karena terdata memiliki kandungan merkuri 0,068 hingga 1,186 ppm-- seharusnya sudah tak lagi layak untuk dikonsumsi.
ADVERTISEMENT
Tak hanya kandungan merkuri dalam beras, BaliFokus juga meneliti kandungan merkuri pada rambut 48 warga. Sampel dipilih secara acak. Hasilnya, enam sampel rambut warga terpantau mencapai paparan merkuri 10,294 hingga 15,551 ppm. Itu jauh di atas ambang toleransi paparan yang diatur sebesar 10 ppm.
Selain itu, BaliFokus bersama Yayasan Medicuss Group, lembaga yang bergerak di bidang layanan kesehatan, mengecek kesehatan dan serangkaian tes pada 140 warga. Hasilnya, 37 warga diduga mengalami intoksikasi atau keracunan merkuri.
Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan (39263)
Sawah di Kampung Adat Cisitu (Foto: Utomo P/kumparan)
Ironi Kebijakan Lokal Pangan Kampung Adat Cisitu
Dokter Jossep Frederick William dari Medicuss menilai kondisi yang terjadi di Kampung Adat Cisitu boleh dibilang tragis. Di satu sisi, adat mengatur secara arif pemenuhan pangan lokal. Namun, di sisi lain, masyarakat membuang merkuri ke sawah yang menjadi satu-satunya sumber pangan mereka. Racun yang mereka buang akhirnya malah masuk ke dalam tubuh.
ADVERTISEMENT
Kekayaan pangan dan aliran merkuri membuat masyarakat adat Cisitu mandiri sekaligus sangat terancam. “Jadi kalau tempat lain kan mereka istilahnya kerja di situ, tapi sumber makan mereka dari tempat lain. Airnya dari tempat lain, ayam dari tempat lain, kambing juga dari tempat lain.”
Sementara di Kampung Adat Cisitu, karena adanya kebijakan untuk mandiri memenuhi kebutuhan pangan, semua sumber pangan dihasilkan dan dimakan sendiri.
Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan (39264)
Sawah di Kampung Adat Cisitu (Foto: Utomo P/kumparan)
Solusi untuk Kampung Adat Cisitu
Yuyun Ismawati, peneliti sekaligus penasihat senior BaliFokus, menyebut sejumlah cara mengurangi angka pencemaran merkuri pada beras di Cisitu.
“Yang pertama adalah dalam praktik mengairi sawah, cukup menggenangi sawah setinggi 5 cm di atas permukaan tanah. Jangan terlalu banyak supaya konsentrasi merkuri yang diserap juga tidak terlalu banyak,” paparnya.
ADVERTISEMENT
Yang kedua, adalah dengan memodifikasi genetika beras yang akan menjadi bibit padi selanjutnya. Cara ini bisa dilakukan dengan mengambil DNA dalam beras yang berfungsi menyerap merkuri.
“Jadi bibit beras yang baru sudah tanpa DNA yang menyerap merkuri,” ujar Yuyun.
Namun begitu, Yuyun menegaskan, cara paling utama untuk menghentikan pencemaran merkuri pada beras di Cisitu adalah dengan “menghentikan peredaran dan penggunaan merkuri.”
Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan (39265)
Gulundung di tempat pengolahan emas (Foto: Utomo P/kumparan)
Upaya Lembaga Adat Menghentikan Penggunaan Merkuri
Lembaga Adat Kasepuhan Cisitu setuju dengan saran Yuyun agar masyarakat menghentikan penggunaan merkuri. Okri sedang mengkaji agar pengolahan emas di wilayahnya bisa lebih aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
“Kira-kira bisa tidak pengolahan emas tanpa menggunakan merkuri? Katanya kan bisa. Contohnya seperti pertambangan-pertambangan besar itu kan tidak menggunakan menggunakan merkuri. Jadi makanya harapan Abah, usaha rakyat tetap berlanjut, tapi tidak terpapar merkuri,” tuturnya.
ADVERTISEMENT
Yoyo menerjemahkan perkataan Okri itu dengan menyebut bahwa sebenarnya pemerintah bisa saja melegalkan usaha penambangan emas di blok Cikidang sebagai usaha pertambangan rakyat dalam suatu badan yang sah sehingga pengolahannya bisa menggunakan mesin yang lebih canggih dan tanpa menggunakan merkuri.
Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan (39266)
Deretan lumbung padi di Kampung Adat Cisitu (Foto: Utomo P/kumparan)
Sekretaris sekaligus putra kandung Okri itu menuturkan bahwa Lembaga Adat Kasepuhan Cisitu telah menempuh berbagai cara untuk menyelesaikan permasalahan pencemaran merkuri di wilayahnya.
Ia mengaku pernah menyurati Presiden Republik Indonesia terkait masalah ini dan surat itu kemudian justru diteruskan oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dalam surat terusan itu, sebagaimana yang Yoyo perlihatkan salinannya kepada kumparan, Kemesetneg meminta agar Kementerian ESDM segera mengadakan rapat dengan pihak-pihak terkait untuk membahas dan menyelesaikan masalah ini. Namun setelah rapat tersebut, ujar Yoyo, belum ada penyelesaian yang dilakukan pemerintah.
Ironi Kampung Adat Peraih Penghargaan Pangan (39267)
Surat untuk Presiden yang diteruskan ke ESDM (Foto: Utomo P/kumparan)
Sebelum menerbitkan tulisan ini, kumparan telah menghubungi dan meminta tanggapan dari Kepala Dinas ESDM Banten Eko Palmadi terkait masalah tambang di Wilayah Adat Kasepuhan Cisitu. Sayangnya, Eko tidak merespons telepon kumparan, tidak pula menjawab pertanyaan yang kumparan ajukan kepadanya melalui pesan singkat.
ADVERTISEMENT
Menurut Yoyo, ada dua pilihan untuk menjadi solusi dalam menghentikan penggunaan merkuri ini. Pertama adalah dengan melegalkan usaha penambangan di blok Cikidang menjadi usaha pertambangan rakyat dengan proses pengolahan hasil tambang yang sesuai prosedur. Atau kedua, menutup secara keseluruhan lokasi tambang tersebut.
Apa pun pilihannya, yang terpenting penduduk bisa aman dari segala gangguan kesehatan dan alam bisa terlindung dari segala bentuk pengrusakkan. Sebagaimana keyakinan Kampung Adat Cisitu yang telah dipegang turun-temurun, jika hutan lestari, maka masyarakat akan sejahtera.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white