Kumparan Logo

Jakarta Disebut Harus Tiru Cara Pengendalian Polusi Udara Beijing

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta (2019). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta (2019). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Pengamat lingkungan perkotaan sekaligus Direktur Eksekutif Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin, mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus meniru manajemen pengendalian udara Beijing di China. Manajemen pengendalian udara di Beijing perlu ditiru demi mengatasi persoalan polusi udara di Jakarta saat ini.

"Kenapa Beijing? Karena (polusi udara) kota itu complicated seperti Jakarta," kata Ahmad Safrudin di Jakarta, beberapa hari lalu, seperti dilansir Antara.

Merujuk catatan sejarah, tahun 1998 polusi udara di Beijing didominasi pembakaran batu bara dan kendaraan bermotor. Kota itu lantas menyatakan perang melawan polusi udara.

Beijing menerapkan sejumlah strategi untuk melawan polusi udara. Mulai dari optimalisasi infrastruktur energi, kontrol emisi kendaraan bermotor, hingga pengendalian polusi batu bara.

Infografik Yang Rentan Terdampak Polusi Udara Jakarta. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan

Pada September 2016, Beijing membangun "Menara Bebas Asap" setinggi tujuh meter di Taman 751 D. Bangunan itu diklaim dapat menyerap polusi udara seluas lapangan bola dengan teknologi listrik statis.

Setelah sekitar dua dekade berselang sejak Beijing menyatakan perang melawan polusi udara, pada tahun 2017 konsentrasi partikulat udara berukuran di bawah 2,5 mikron atau PM 2,5 di kota mereka turun sebesar 35 persen, sedangkan konsentrasi partikulat udara berukuran di bawah 10 mikron atau PM 10 turun 55 persen. Selain itu, kadar sulfur dioksida di udara Beijing juga turun 83 persen, nitrogen oksida turun 43 persen, dan senyawa organik yang mudah menguap turun 42 persen.

Manajemen kualitas udara itu didukung penegakan hukum lingkungan yang ketat. Meskipun beberapa ilmuwan lingkungan menilai udara di Beijing masih tidak sehat karena belum sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), namun upaya pemerintahan kota tersebut dapat menjadi acuan bagi Jakarta.

"Beijing lebih parah dari kita (Jakarta), lebih besar dari kita dan lebih complicated, tapi kita ini kurang lebih seperti Beijing," jelas Puput, sapaan Safrudin.

Polusi udara di Beijing, China, yang tampak dari atas sebuah gedung (2016). Foto: APexchange

Selain Beijing, ujarnya, beberapa manajemen pengendalian polusi kota-kota di dunia juga dapat dijadikan contoh bagi Jakarta. Misalnya Tokyo di Jepang, Berlin di Jerman, atau Sacramento di California.

Sementara itu untuk perbandingan yang setara di kawasan Asia Tenggara, menurutnya, Jakarta bisa belajar dari Bangkok di Thailand. Menurut Puput, Bangkok melakukan sesuatu yang revolusioner terkait pengendalian pencemaran udara. Pemerintah Kota Bangkok melalui izin Raja Thailand mengembangkan kawasan layak bagi pejalan kaki, sehingga menekan angka pengguna kendaraan bermotor di kota tersebut.

"Mereka (kota-kota itu) bisa dijadikan contoh, tapi contoh itu tidak perlu ditiru mentah-mentah, kita adopsi beberapa kota kemudian kita formulasikan untuk kebutuhan Jakarta," imbaunya.