Kumparan Logo

Jepang Setujui Riset Embrio Campuran Manusia-Hewan yang Kontroversial

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketika sperma bertemu sel telur dan terjadilah pembuahan. Sel telur yang dibuahi lalu menempel pada rahim. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ketika sperma bertemu sel telur dan terjadilah pembuahan. Sel telur yang dibuahi lalu menempel pada rahim. Foto: Shutterstock

Pemerintah Jepang telah menyetujui riset yang akan mempelajari embrio hibrida manusia-hewan. Peneliti mengatakan, studi ini bukan untuk mengembangkan manusia campur hewan.

Ini merupakan langkah untuk mengembangkan organ manusia di tubuh hewan. Nantinya, organ itu digunakan untuk kepentingan transplantasi organ pada manusia yang membutuhkan.

Riset ini akan dilakukan di University of Tokyo. Hiromitsu Nakauchi, ahli genetika ternama, bakal memimpin penelitian ini.

Meski terdengar menjanjikan, riset ini mendapat pertentangan dan kritik. The Independent melansir, bahwa mereka yang tidak setuju dengan riset beranggapan peneliti seperti ingin menjadi Tuhan.

Ilustrasi embrio manusia. Foto: DrKontogianniIVF via pixabay

Mereka khawatir sel manusia di tubuh hewan bisa berpindah dari organ yang dikembangkan ke area lain di tubuh si hewan. Akibatnya, ini membuat hewan itu menjadi makhluk yang setengah hewan, setengah manusia. Alasan itu yang membuat eksperimen semacam ini dilarang di seluruh dunia.

Di Jepang, para peneliti di bidang ini dilarang untuk membiarkan embrio hibrida manusia-hewan untuk berkembang lebih dari 14 hari. Tapi, aturan tersebut mulai dilonggarkan oleh pemerintah.

Menurut laporan Nature, Kementerian Edukasi dan Ilmu Pengetahuan Jepang mengeluarkan aturan baru yang memperbolehkan pembuatan embrio manusia-hewan pada Maret 2019. Embrio itu diizinkan untuk ditransplantasi ke hewan.

Nakauchi menjadi peneliti pertama yang mendapat izin melakukan eksperimen itu.

"Kami tidak berharap untuk bisa langsung berhasil menciptakan organ manusia. Tapi, ini memberikan kita kesempatan untuk memajukan riset berdasarkan apa yang telah kita dapatkan sejauh ini," ujar Nakauchi kepada Asahi Shimbun.

Ilustrasi penelitian embrio Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein

Riset ini diakui Nakauchi akan berjalan lambat. Ia berencana tidak membuat embrio hibrida untuk lahir dalam beberapa tahun ke depan.

Nakauchi ingin mengembangkan embrio hibrida tikus dan manusia sampai berusia 14,5 hari. Dan pengembangan embrio hibrida tikus-manusia lainnya hingga berusia 15,5 hari.

Rencana itu mendapat tanggapan positif dari ilmuwan lainnya. Tetsuya Ishii, peneliti kebijakan aturan ilmu pengetahuan di Hokkaido University, Jepang, menyambut baik rencana Nakauchi melakukan riset ini dengan penuh kehati-hatian.

"Rencana itu akan membuka kesempatan untuk dilakukannya dialog dengan masyarakat yang merasa khawatir atas riset semacam ini," ujar Ishii.