kumparan
18 Desember 2018 10:21

Johnson & Johnson Diklaim Tahu Bedaknya Mengandung Zat Penyebab Kanker

Bedak Johnson and Johnson. (Foto: Lucas Jackson/Reuters)
Sebuah laporan dari Reuters yang dirilis pada Jumat (14/12) mengungkap temuan mengejutkan soal perusahaan Johnson & Johnson. Perusahaan itu disebut selama puluhan tahun telah mengetahui bahwa produk yang mereka jual mengandung asbes yang berbahaya dan justru berusaha menutupinya dari publik.
ADVERTISEMENT
Laporan Reuters ini berasal dari ratusan dokumen internal perusahaan tersebut. Kebanyakan dokumen didapat saat terjadi perang legal antara Johnson & Johnson dengan pemakai produknya yang menuduh produk itu sebagai penyebab kanker, sementara sisanya dikumpulkan dari jurnalis dan organisasi media lain.
Talk, yang menjadi salah satu bahan bedak Johnson & Johnson, adalah mineral berwarna putih yang bisa didapat dari pertambangan. Di tambang-tambang itu, asbes biasa ditemukan bersebelahan dengan deposit talk.
Menurut laporan hasil investigasi Reuters ini, selama bertahun-tahun Johnson & Johnson mengaku kepada publik dan pihak berwenang bahwa produknya bebas asbes, meski ada beberapa tes internal serta independen yang menemukan sebaliknya.
Bedak bayi (Foto: Dok. Thinkstock)
Reuters melaporkan bahwa pada 1976, Johnson & Johnson mengaku kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA) bahwa tidak ada abestos di sampel bedak mereka. Kala itu FDA sedang menyiapkan batasan atas asbes terhadap produk kosmetik yang mengandung talk.
ADVERTISEMENT
Johnson & Johnson tidak melaporkan bahwa ada tiga tes oleh tiga laboratorium berbeda yang dilakukan antara 1972 dan 1975 yang menemukan asbes di talk milik Johnson & Johnson. Bahkan di salah satu sampel, kandungan asbes dilaporkan cukup tinggi.
Di samping itu, Reuters juga menemukan bahwa Johnson & Johnson cukup licik dalam menangani tuntutan hukum dari seorang mantan pemakai produk mereka yang bernama Darlene Coker. Pada 1997, Coker menggugat produk Johnson & Johnson di pengadilan dengan tuduhan membuatnya mengalami mesothelioma, sejenis kanker paru-paru.
Menurut laporan, Johnson & Johnson sukses menolak tuntutan Coker yang meminta diserahkannya dokumen internal yang menjelaskan keberadaan asbes di operasi tambang serta produk mereka. Tanpa adanya dokumen itu, Coker akhirnya melepaskan tuntutannya pada 1999 dan meninggal pada 2009.
ADVERTISEMENT
Sejak kasus Coker hingga kini setidaknya sudah ada lebih dari 11 ribu penggugat yang menggugat produk Johnson & Johnson membuat mereka mengalami kanker. Kebanyakan gugatan, yang sebagian besar tidak menekankan bahwa kontaminasi asbes mungkin telah menjadi faktor utama penyebab kanker yang mereka alami, tidak dikabulkan oleh pengadilan.
Namun pada Juli 2018, hakim di negara bagian Missouri, AS, memerintahkan agar Johnson & Johnson membayar 4,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 68,4 triliun kepada 22 orang perempuan yang menuntut perusahaan tersebut karena bedaknya telah membuat mereka terkena kanker ovarium.
Bedak Johnson and Johnson. (Foto: Shannon Stapleton/Reuters)
Menurut laporan Gizmodo, banyak agensi kesehatan yang setuju dengan pembelaan Johnson & Johnson, yang berpendapat tidak ada hubungan jelas antara pengguna bubuk talcum dengan kanker. Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah lama mengumumkan bahwa talk yang ditemukan dengan asbes adalah karsinogen alias zat yang dapat menyebabkan kanker.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Johnson & Johnson telah memberikan respons kepada laporan Reuters. Juru bicara perusahaan tersebut mengatakan bahwa temuan Reuters itu salah dan menyesatkan.
Pengacara Peter Bicks mengatakan kepada Reuters, "Konsensus ilmiah adalah bahwa talk yang digunakan dalam bedak bayi berbasis talk tidak menyebabkan kanker, terlepas dari apa yang ada di talk itu."
Selain itu, Bicks juga menyatakan bahwa hasil tes yang dikutip oleh Reuters hasilnya "outlier" alias di luar standar.
Semenjak munculnya laporan hasil investigasi dari Reuters ini, saham perusahaan Johnson & Johnson dikabarkan telah mengalami penurunan hingga 11 persen.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan