Kumparan Logo

Jurnal Studi 1972 soal 'Masa Depan Manusia' Terbukti Akurat, Apa itu?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perubahan iklim. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perubahan iklim. Foto: Shutter Stock

Ketika para peneliti meninjau kembali sebuah laporan studi tentang keruntuhan global yang dibuat pada awal 1970-an, mereka menemukan fakta yang mengejutkan. Data berumur puluhan tahun itu terbukti sangat akurat.

Tim ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mencoba melihat masa depan umat manusia menggunakan simulasi komputer pada 1972 silam. Penelitian dilakukan setelah mereka menerima pendanaan dari Club of Rome, sebuah kelompok internasional akademisi terkemuka beranggotakan ilmuwan, pemimpin bisnis, dan politisi.

Jurnal yang diberi nama The Limits to Growth itu melihat hubungan kompleks antara populasi manusia, hasil industri, polusi, produksi makanan, dan sumber daya alam Bumi. Studi ini menggunakan model komputer disebut World3.

Peneliti menemukan skenario “stabilized world” –ketika keruntuhan global dapat dihindari dan standar hidup tetap stabil– bisa terwujud kendati diperlukan perubahan drastis dalam prioritas dan nilai-nilai sosial. Namun jika pertumbuhan ekonomi terus berlanjut tanpa memperhatikan lingkungan, hal ini dapat menyebabkan masyarakat global dilanda kekurangan pangan dan mengancam kesejahteraan manusia.

Sementara itu, skenario “business as usual” menunjukkan bahwa kemungkinan besar masyarakat global akan runtuh di abad ke-21. Skenario “business as usual” menempatkan pertumbuhan ekonomi terus berlanjut tanpa adanya pertimbangan apa pun.

"Pertumbuhan eksponensial yang berkelanjutan setiap hari membawa sistem dunia lebih dekat ke batas akhir pertumbuhan itu. Keputusan untuk tidak melakukan apa-apa adalah keputusan untuk meningkatkan risiko keruntuhan," tulis peneliti dalam buku The Limits to Growth.

Seorang pengungsi minum air dari keran di kamp pengungsian Kaxareey di Dollow, Gedo, Somalia, Selasa (24/5/2022).Seorang pengungsi minum air dari keran di kamp pengungsian Kaxareey di Dollow, Gedo, Somalia, Selasa (24/5/2022). Foto: Feisal Omar/REUTERS

Dalam konteks ini, keruntuhan global bukan berarti umat manusia akan terlempar ke jurang kepunahan seperti dinosaurus, melainkan mengacu pada stagnasi total pertumbuhan industri dan penurunan kesejahteraan manusia yang signifikan.

Data yang dibeberkan The Limits to Growth secara mengejutkan ternyata sangat akurat. Seperti yang dilaporkan dalam Journal of Industrial Ecology pada November 2020, Gaya Herrington, direktur firma akuntansi KPMG melihat bagaimana data empiris selama beberapa dekade terakhir sejalan dengan prediksi laporan The Limits to Growth.

Dengan menggunakan data baru, dia melihat empat kemungkinan skenario yang berbeda: Dua skenario “business as usual” berbeda, “stabilized world”, dan “comprehensive technology” saat umat manusia dapat berinovasi untuk keluar dari kendala lingkungan dengan menggunakan perkembangan teknologi.

Kedua skenario “business as usual” menghasilkan hal yang sama di mana keruntuhan global akan terjadi dalam abad ke-21, salah satunya karena menipisnya sumber daya alam akibat polusi, perubahan iklim, dan perusakan lingkungan.

Sedangkan skenario “comprehensive technology” manusia mampu menghindari keruntuhan yang parah dalam satu abad ke depan, tapi pada akhirnya kesejahteraan akan tetap menurun karena mahalnya biaya teknologi.

Skenario “stabilized world” melihat bahwa populasi manusia dan standar hidup bisa terjaga pada akhir abad ke-21, namun dengan upaya perubahan yang esktrem.

Hasil skenario yang dibuat Herrington ini sama dengan apa yang dikemukakan buku The Limits to Growth pada 50 tahun lalu. Kabar buruknya, sampai sekarang tampaknya dunia belum juga menuju ke jalur “stabilized world”.

Kita mungkin masih punya harapan untuk menciptakan “stabilized word”. Namun untuk mencapai itu semua, diperlukan perubahan ekstrem.

“Tersembunyi di balik hasil yang tampaknya ambigu dari dua skenario paling cocok yang sedikit lebih dekat daripada dua skenario lainnya, memunculkan pesan bahwa belum terlambat bagi umat manusia untuk mengubah arah dan mengubah lintasan poin data di masa depan,” tulis Herrington di LinkedIn sebagaimana dikutip IFLScience.