Karena Virus, Hewan Antelop Saiga Berada di Jurang Kepunahan

Populasi spesies langka antelop berada di ujung tanduk. Ribuan antelop di Mongolia terserang penyakit infeksi mematikan yang dikhawatirkan akan membuat spesies ini semakin dekat dengan jurang kepunahan.
Para ilmuwan berpendapat, wabah penyakit ini bisa jadi bencana bagi hewan langka tersebut dan juga ekosistemnya. Sejak Desember 2016, sebanyak 2500 antelop jenis saiga mongolia dilaporkan mati karena virus ternak.
Dengan kematian ini, ilmuwan memperkirakan populasi antelop saiga mongolia tersisa 10 ribu ekor, yang berarti wabah mematikan itu telah membunuh sekitar 25 persen dari spesies yang sekilas mirip rusa tersebut.
Virus itu diketahui bernama PPR (peste des petits ruminants), yang pertama kali menyerang populasi saiga pada September lalu, tertular dari kambing dan domba yang telah terinfeksi.
Meski rata-rata kematian akibat virus ini terus menurun, tapi virus ini bisa berdampak bagi lingkungan sekitarnya. "Situasinya saat ini tragis dan menyebar luas," ujar Amanda Fine, seorang veteriner dan Associate Director dari Wildlife Conservation Society's (WCS) Wildlife Health Program di Asia.
Wabah ini dikhawatirkan terus menyebar dan menginfeksi hewan lain seperti ibex dan argali (keduanya sejenis kambing bertanduk besar), juga berdampak pada macan tutul salju langka yang bisa kehilangan mangsanya.
PPR, yang juga dikenal sebagai penyakit kambing dan domba, ternyata sangat menular dan bisa menginfeksi hingga 90 persen hewan yang berinteraksi. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), penyakit ini menular lewat cairan tubuh, kotoran, dan interaksi langsung. Sementara gejala yang ditimbulkan adalah demam, anoreksia, dan sulit bernapas.
Setelah terjangkit selama beberapa hari, hewan-hewan itu akan mengalami depresi, sangat lemah, dan dehidrasi. FAO dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia saat ini sedang berusaha membasmi virus PPR yang ditargetkan terlaksana paa 2030. Tapi, diketahui ternyata virus ini sudah menginfeksi populasi hewan di lebih dari 70 negara.

Sebuah tim cepat tanggap sudah dibentuk di Mongolia untuk mulai mengumpulkan sampel-sampel dari jasad dan saiga yang terinfeksi sebagai usaha untuk menghentikan penyebaran virus tersebut dan mencari tahu bagaimana cara menyembuhkan penyakit ini.
"Cara terbaik untuk mencegah penyebaran PPR adalah dengan melakukan imunisasi pada hewan-hewan ternak yang tidak hanya berada di area saiga, tapi juga area spesies terinfeksi lain," kata Fine seperti dikutip dari LiveScience.
Fine menuturkan, hewan-hewan saiga itu membutuhkan keadaan yang bebas stres untuk memulihkan diri dan juga mudahnya akses terhadap sumber makanan dan air, sebagai tindakan untuk menyelamatkan populasi saiga mongolia dari kepunahan.
Tapi, ancaman yang diterima antelop saiga bukan hanya dari wabah penyakit. Manusia juga menjadi sumber utama penyebab langkanya antelop. Hingga sekarang, masih banyak orang-orang yang memburu tanduk antelop untuk dijadikan obat tradisional. Menurut WCS, ada lebih dari 90 persen dari populasi antelop saiga yang hilang dalam satu dekade ke belakang.
