Kasus Ebola Muncul Lagi di Guinea, Kembali Jadi Epidemi

Belum usai peperangan warga dunia dengan virus corona penyebab COVID-19, kini kasus infeksi Ebola muncul kembali di Afrika. Kehadiran virus yang pertama kali ditemukan di Republik Demokratik Kongo ini semakin mewabah hingga dinyatakan sebagai epidemi di Guinea, Afrika Barat.
Ini adalah pertama kali Guinea mengumumkan epidemi Ebola, setelah lima tahun terbebas dari penyakit menular dan mematikan ini. Pengumuman ini dilontarkan pada Minggu (14/2), usai tiga orang meninggal karena virus Ebola dan empat orang lainnya telah dikonfirmasi terinfeksi.
Pejabat di bidang kesehatan telah melacak kasus meninggal akibat Ebola di fasilitas kesehatan pedesaan. Mereka mendapatkan laporan bahwa enam orang yang menghadiri acara pemakaman melaporkan gejala infeksi Ebola.
Tak lama setelahnya, dua dari enam tamu pemakaman tersebut dilaporkan meninggal, sementara empat lainnya dirawat di rumah sakit. Menteri Kesehatan Guinea Remy Lamah meminta para pejabat untuk mengisolasi semua kasus yang dicurigai sebagai infeksi Ebola.
Ia juga meminta mulai pelacakan kontak dan berupaya untuk mendapatkan vaksin Ebola dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). Lewat posting-an di Facebook, Remy juga mengimbau masyarakat untuk melaporkan kepada pemerintah apabila menemukan kasus infeksi Ebola.
"Pemerintah meyakinkan orang-orang bahwa semua tindakan diambil untuk membendung epidemi ini secepat mungkin," kata Remy.
Fenomena ini mendapatkan perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang telah membantu mendirikan fasilitas pengujian dan perawatan. Saat ini, pusat infeksi berada di wilayah pedesaan dekat perbatasan, WHO juga bekerja sama dengan otoritas kesehatan di negara tetangga, seperti Liberia dan Sierra Leone untuk melacak infeksi di sana.
WHO optimis apabila Guinea akan segera pulih dari epidemi Ebola. Hal itu didukung oleh petugas kesehatan yang sebelumnya berhasil mengembangkan keahlian dalam memerangi penyakit.
Sebelumnya, tim medis di Guinea pernah berhasil menghadapi wabah Ebola. Mereka juga sukses membantu mengendalikan wabah serupa di Republik Demokratik Kongo.
Guinea, Sierra Leone, dan Liberia adalah negara yang terkena dampak wabah Ebola terburuk di dunia, dari 2014 hingga 2016. Awal perkara, diduga seorang anak berusia 18 bulan terinfeksi virus yang berasal dari kelelawar tersebut, hingga menyebar ke seluruh Guinea dan ke negara-negara tetangga.
Pada akhirnya, lebih dari 28.000 orang terinfeksi. Kala itu, ada lebih dari 11.000 meninggal akibat terinfeksi Ebola, berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
Berita tentang wabah itu datang hanya beberapa hari setelah laporan dua kematian akibat Ebola di Republik Demokratik Kongo. Di sana, terjadi lebih dari 2.200 kasus meninggal karena wabah Ebola pada 2018 dan 2020.
