Kasus Langka, Kelamin Pria Ini Jadi Busuk Usai Digigit Ular Kobra
·waktu baca 3 menit

Seorang pria asal Belanda harus menjalani rekonstruksi penis usai alat kelaminnya membusuk akibat digigit kobra, menurut studi kasus yang dilaporkan para peneliti Belanda di jurnal Urology Case Reports. Pria berusia 47 tahun yang identitasnya tak disebutkan itu pun menjadi contoh pertama kasus langka ular kobra menyerang alat kelamin manusia.
Kasus ini bermula ketika pria nahas tersebut sedang liburan safari di Afrika Selatan. Ketika “panggilan alam” tiba, ia pergi ke toilet yang tanpa disadarinya bersembunyi seekor ular kobra berhidung moncong (Naja annulifera). Ular tersebut lantas menyerang dan menggigit alat kelamin sang pria yang hendak buang hajat.
Gigitan ular biasanya terjadi pada anggota tubuh utama, dengan sedikit laporan tentang gigitan pada alat kelamin. Kasus kami adalah kasus pertama yang menggambarkan keracunan N. annulifera pada alat kelamin.
- Dijkema, et. al., Urology Case Reports, 2021 -
Tak lama usai digigit ular kobra, korban mulai merasakan sakit dan sensasi terbakar di alat kelamin. Rasa sakit itu menjalar ke selangkangannya dan naik ke perut hingga ke dadanya. Dalam kondisi normal, kondisi medis semacam ini harus mendapat perawatan segera. Sayangnya, pria itu harus menunggu tiga jam sebelum sebuah helikopter bisa membawanya ke pusat kesehatan terdekat yang berjarak 350 km.
Setibanya di rumah sakit, para dokter menemukan bahwa alat kelamin pria itu telah bengkak dan berwarna ungu tua. Ini tentu bukan kondisi alat kelamin yang normal, dan para dokter mendiagnosis pria tersebut telah mengalami nekrosis skrotum—yang berarti jaringan kelamin yang membusuk. Kulit dan jaringan di alat kelamin pria itu rusak karena racun ular kobra dapat menghancurkan sel dan menyebabkan peradangan.
Para dokter lalu memberi pasien obat antiserum bisa ular, profilaksis tetanus, dan antibiotik. Selain itu, karena bisa ular kobra mengandung racun yang dapat merusak sel darah dan bikin gagal ginjal, pria tersebut juga harus menjalani terapi cuci darah (hemodialisa).
Setelah seminggu dirawat, para dokter dapat menstabilkan luka di kelamin pasien. Pria itu pun dioperasi oleh ahli bedah guna mengangkat kulit mati di sekitar kelamin, menutup luka dan membuat saluran pembuangan agar ia bisa buang air kecil.
Sembilan hari kemudian, pria itu pulang ke negara asalnya guna mendapatkan perawatan lebih lanjut. Di Belanda, ia mengalami demam dan harus mengonsumsi lebih banyak antibiotik karena para dokter menemukan bakteri di lukanya.
Para dokter juga melakukan prosedur pembedahan lebih lanjut, mulai dari pengangkatan jaringan mati hingga menutup luka di alat kelamin pasien menggunakan beberapa kulit yang diambil dari selangkangan. Setelah fungsi ginjalnya membaik, pria itu diperbolehkan pulang.
Setahun kemudian, pasien tersebut datang ke rumah sakit untuk check-up kondisi kelaminnya. Para dokter menyebut bahwa kelamin pasien tersebut telah berfungsi normal dan pasien dapat merasakan sensasi dari kulitnya.
Namun, pria tersebut mengeluh bahwa bekas luka gigitan ular tersebut membuatnya kerap merasakan sensasi tarikan di alat kelamin. Ia pun harus menjalani operasi terakhir bernama Z-plasty yang pada dasarnya merupakan operasi plastik untuk memperbaiki bekas luka.
“Fungsi genital dan estetika memiliki peluang pemulihan yang baik jika perawatan dilakukan lebih awal, meskipun pembedahan estetika hanya boleh dilakukan setelah fase akut,” kata para peneliti menyimpulkan.
Para peneliti juga berpesan agar orang berhati-hati sebelum memakai toilet dan memeriksa apakah ada ular yang mungkin bakal menyerang. Hanya karena gigitan ular ke kelamin jarang tercatat secara medis, bukan berarti hal tersebut enggak bakal terjadi.
“Pesan kami untuk dibawa pulang? Selalu siram toilet sebelum duduk di negara yang terkenal dengan populasi ularnya!” pungkas peneliti.
