Kata Walhi soal Sumber Polusi Udara Jakarta dari PLTU vs Kendaraan Bermotor
·waktu baca 4 menit

Terjadi perdebatan soal sumber polusi udara yang saat ini mengepung Jakarta dan wilayah penyangga. Beberapa pengguna media sosial menyebut bahwa polusi Jakarta disebabkan oleh aktivitas industri manufaktur dan PLTU berbasis batu bara yang ada di wilayah penyangga, salah satunya di Banten.
Sebelumnya, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sigit Reliantoro, mengatakan bahwa sumber utama polusi udara Jakarta berasal dari kendaraan bermotor dan musim kemarau.
Sigit menyebut, berdasarkan data yang diperoleh sektor transportasi menyumbang 44 persen polusi ke udara, industri energi 31 persen, manufaktur 10 persen, perumahan 14 persen, dan komersial 1 persen. Artinya, kendaraan bermotor dianggap sebagai faktor utama penyebab polusi Jakarta, diikuti oleh industri energi dan manufaktur.
Namun, tak sedikit netizen yang berpendapat bahwa sektor industri lah yang justru menjadi dalang polusi udara di Jabodetabek, khususnya Jakarta. Salah satu data yang banyak dicatut adalah studi yang dilakukan Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) pada tahun 2020 dengan judul “Pencemaran Udara Lintas Batas di Provinsi Jakarta, Banten, dan Jawa Barat”.
CREA adalah organisasi penelitian independen yang mempelajari tren, penyebab, solusi, dan dampak kesehatan dari polusi udara. Studi CREA menyebut Jakarta memang dikelilingi sekitar 118 fasilitas industri. Lokasinya ada di kawasan Banten dan Jawa Barat.
Berbeda dengan temuan Pemprov dan KLHK, riset CREA justru melihat peran besar faktor PLTU dan industri dalam polusi di Jakarta. Menurut laporan itu, ada hal lain yang tak bisa diabaikan soal penyebaran polusi berupa faktor meteorologi. Ini mencakup kecepatan angin, arah angin, suhu, kelembaban, serta curah hujan yang mampu memindahkan polusi dari sumbernya.
Riset mereka menunjukkan bahwa polusi Jakarta berasal dari angin yang membawa polutan dari pembangkit listrik dan industri di Cilegon dan Tangerang, Banten. Polutan juga bersumber dari industri yang terletak di Jawa Barat, termasuk Karawang, Purwakarta, dan Bandung.
Industri-industri tersebut bergerak di sektor petrokimia, mineral metal dan non-metal, minyak dan gas, serta PLTU. Uniknya, sejumlah PLTU di Banten dalam radius 100 km dari Jakarta justru menyumbang konsentrasi PM2.5 lebih tinggi ke Jakarta ketimbang Banten.
Tanggapan Walhi
Menanggapi perdebatan ini, Abdul Ghofar, Pengkampanye Polusi dan Urban Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nasional, mengatakan bahwa perbedaan data penyebab polusi udara Jakarta seharusnya tidak menjadi perdebatan. Sebab baik PLTU maupun transportasi keduanya berkontribusi besar terhadap polusi udara saat ini.
“Semua sektor menurut kami, komparasi dari datanya CREA maupun vital strategis DLH Jakarta dan data KLHK yang dilakukan di tahun-tahun sebelumnya, semua sektor itu punya kontribusi terhadap penurunan kualitas udara Jakarta, itu fakta,” kata Ghofar saat dihubungi kumparanSAINS, Selasa (15/8).
Ghofar mengatakan, melihat kontribusi dari masing-masing sektoral memang perlu dilakukan untuk memetakan penyebab polusi udara ini. Namun, pemerintah mestinya tidak lantas hanya memilih satu sektor saja untuk menangani polusi, baik sektor transportasi maupun pembangkit. Ini karena masalah polusi udara harus dilihat secara komprehensif.
Polusi udara yang saat ini terjadi berasal dari berbagai sumber, mulai dari PLTU, transportasi, hingga industri energi. Polusi juga nyatanya tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di wilayah penyangga seperti di Tangerang, Banten, Depok, Bekasi, Bogor hingga Bandung.
Dengan begitu, penyelesaian polusi udara tidak cukup dengan hanya mengganti transportasi berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Pemerintah juga harus memerhatikan sektor lain yang juga menjadi sumber polusi.
“Ada kontribusi dari pembangkit itu pastinya. Masalahnya kan kemudian pemerintah seakan denial kayak memperdebatkan soal argumentasi bahwa dari PLTU di Banten enggak nyampe ke Jakarta karena lebih dari 100 km,” kata Ghofar.
Perdebatannya justru mengaburkan persoalan yang sesungguhnya. Padahal beda persentase itu hal yang biasa, beda metodologi hal yang biasa. Tetapi, faktanya polusi udara terjadi ada kontribusi transportasinya, kawasan industrinya, dari industri pembangkit seperti PLTU di sekitar Jakarta.”
- Abdul Ghofar, Pengkampanye Polusi dan Urban Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional -
Lebih lanjut Ghofar bilang, solusi polusi udara saat ini tergantung pada bagaimana pemerintah mengambil sikap dan keputusan. Apakah hanya akan fokus ke sektor transportasi saja atau juga memikirkan PLTU di sekitar Jakarta yang berkontribusi besar terhadap polusi udara.
“Harusnya (perbedaan data) itu tidak menjadi persoalan yang sangat serius sehingga mengaburkan substansi, tapi jadi dasar untuk melakukan upaya-upaya yang spesifik sesuai dengan problem masalahnya. Kalau dia tidak berkontribusi signifikan di Jakarta tetap harus diatasi. Masa polusi udara hanya bicara Jakarta. Saya melihatnya enggak fair,” ujarnya.
“Obrolan di nasional di pemerintah pusat seolah-olah polusi udara itu masalah Jakarta saja sehingga treatment-nya hanya untuk jakarta saja. Ngurus PLTU enggak dibahas, ngurus kawasan industrinya enggak dibahas karena cuma bicara Jakarta. Padahal dia semua sektor pemberi polusi.”
